Connect with us

Thariqah

Thariqah Junaidiyah: Sejarah, Sanad, dan Ajaran

Published

on

Biografi Imam Junaid

Thariqah junaidiyah di nisbatkan kepada Imam Junaid Al-Baghdâdi. Nama lengkap beliau adalah Abû al-Qâsim al-Junaid ibn Muhammad al-Junaid al-Kharaz al-Qawariri al-Baghdâdi, yang memiliki julukan (laqab) sebagai Abû al-Qâsim. Gelar “al-Qawariri” disandarkan pada profesi ayahnya, yaitu seorang penjual kaca. Selain itu, beliau memiliki julukan al-Kharaz, yang artiya pedagang sutera, karena ia seorang pedagang sutera di kota Baghdad. Keluarga al-Junaid berasal dari Nahawand, namun beliau dilahirkan dan tumbuh di Irak, (Rijâl al-Syarh al-Anfâs al-Rauhâniyah, halaman: 5).

Imam Al-Junaid merupakan salah seorang shûfi terkemuka dan ia pun seorang ahli fiqih. Beliau bermadzhab kepada Imâm Abû Tsaur. Imam Al-Junaid telah memberikan fatwa-fatwa hukum dalam madzhab tersebut pada umurnya yang baru 20 tahun. Beliau lama bergaul dan belajar kepada pamannya, yaitu Imam Sarri as-Saqthi, lalu kepada al-Harits al-Muhasibi, Muhammad ibn al-Qashshab al-Baghdâdi yang termasuk teman pamannya dan shufi terkemuka lainnya. Di kalangan shufi, imam al-Junaid dikenal sebagai pemuka dan pimpinan mereka dengan gelar Sayyid al-Thâ-ifah al-Shûfiyyah (Tadzkirat al-Auliyâ, halaman: 370).

Analisisnya terhadap berbagai masalah yang diajukan kepadanya sangatlah tajam, sehingga sering membuat para pendengarnya terkagum-kagum. Padahal sifat dan kemampuannya ini sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Kedudukannya diantara para shufi sangatlah terhormat, bahkan Sari al-Saqathi sendiri sempat mengakuinya. Dalam riwayat dinyatakan, ketika seseorang bertanya kepada Sari al-Saqati, “Apakah seorang murid dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari gurunya dalam tashawwuf?” Sari al-Saqati menjawab: “Tentu saja bisa, lantaran ada banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut. Ketahuilah bahwa tingkat tashawwuf al-Junaid itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang pernah kucapai.” (Tadzkirat al-Auliyâ”, halaman: 370).

Imam Al-Junaid salah seorang shufi yang memiliki jasa besar dalam menjaga kemurnian tashawwuf. Faham-faham dan akidah-akidah menyesatkan yang hendak masuk dalam ajaran tashawwuf habis dibersihkan oleh beliau. Oleh karena itu, banyak ungkapan-ungkapan beliau yang di kemudian hari menjadi landasan utama dalam usaha menjaga kebenaran tashawwuf dan kemurnian ajaran Islâm.

Abû Alî al-Raudzabari berkata: “Saya mendengar al-Junaid berkata kepada orang yang mengatakan bahwa ahli ma’rifat dapat sampai kepada suatu keadaan yang tidak bisa lagi baginya untuk berbuat apapun, Artinya menurutnya orang tersebut boleh meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang telah diwajibkan”, Imam Al-Junaid berkata kepadanya: “Ini adalah perkataan kaum yang berpendapat segala amal perbuatan akan gugur”. Ini bagiku adalah suatu pendapat yang sangat berbahaya. Seorang pelaku zina dan seorang yang mencuri jauh lebih baik dari pada orang yang memiliki pendapat seperti itu. Sesungguhnya orang-orang yang Ârif Billâh adalah mereka yang mengerjakan seluruh amal perbuatan sesuai perintah Allâh swt., karena hanya kepada-Nya amal perbuatan itu kembali. Andaikan aku hidup dengan umur 1000 tahun, dan aku tidak meninggalkan kebaikan sedikit pun selama umur tersebut, maka kebaikan itu tidak akan dianggap oleh Allâh swt. kecuali bila sesuai dengan apa yang telah diperintahkan-Nya. Inilah keyakinan yang terus memperkuat ma’rifat-ku dan memperkokoh keadaanku”.

Muhammad Ibn Abdullâh al-Razi berkata: Saya mendengar Abû Muhammad al-Jariri berkata: Saya mendengar al-Junaid berkata: “Kita tidak menjalankan tashawwuf dengan banyak bicara saja (al-Qîl Wa al-Qâl). Tapi kita melakukannya dengan lapar (puasa), meninggalkan kelezatan dunia dan melepaskan segala hal-hal yang menyenangkan dan yang indah. Karena tashawwuf adalah kemurnian hubungan dengan Allâh swt. yang dasarnya menghindari kesenangan dunia (Tadzkirat al-Auliyâ’, halaman: 372). Sebagaimana pernyataan Haritsah di hadapan Rasûlullâh saw.: “Aku hindarkan diriku dari dunia, aku hidupkan malamku dan aku laparkan siang hariku…”.  Al-Junaid juga berkata: “Seluruh jalan menuju Allâh swt. tertutup bagi semua makhluk, kecuali bagi mereka yang benar-benar mengikuti Rasûlullâh saw. dalam setiap keadaannya”.

Dalam kesempatan lain beliau berkata: “Jika seseorang dengan segala kejujurannya beribadah kepada Allâh Swt. selama satu juta tahun, namun kemudian ia berpaling dari-Nya walau hanya sesaat, maka apa yang tertinggal darinya jauh lebih banyak dibanding dengan apa yang telah ia dapatkan”. Beliau juga berkata: “Siapa yang tidak hafal al-Qur’an dan tidak menulis hadits-hadits Rasûlullâh Swt. maka orang tersebut jangan diikuti, karena ilmu kita ini (tashawwuf) diikat dengan al-Qur’an dan Sunnah”. Sikap wara’, zuhud, taqwâ, tawâdhu’, dan kuat dalam ibadah sudah tentu merupakan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa al-Junaid. Suatu ketika beliau ditanya tentang kemegahan dunia, beliau menjawab: “Keberhasilan atas segala kebutuhan dunia adalah dengan meninggalkannya”.

Diriwayatkan dari Ja’far ibn Muhammad bahwa al-Junaid berkata kepadanya: “Jika Engkau sanggup untuk tidak memiliki peralatan apapun di rumahmu kecuali sehelai tikar maka lakukanlah tashawwuf…!”. Ja’far ibn Muhammad berkata: “Dan memang yang ada di rumah al-Junaid hanyalah sehelai tikar”. Diriwayatkan dari al-Khuldy bahwa al-Junaid al-Baghdadi selama dua puluh tahun tidak pernah makan kecuali satu kali dalam seminggu. Dalam setiap malam beliau melaksanakan shalat sebanyak 300 rakaat (Rijâl al-Syarh al-Anfâs al-Rauhâniyah, halaman: 8). Sementara di siang hari, Imam al-Junaid menghabiskan waktunya untuk shalat sebanyak 300 rakaat dan 30.000 kali bacaan tasbîh.

Karamah Imam Al-Junaid

Banyak sekali karâmah yang dianugerahkan oleh Allâh swt. kepada al-Junaid sebagai bukti kebenaran keyakinan dan jalan yang ditempuhnya. Di antaranya; suatu ketika datang kepadanya seorang Yahudi kafir seraya bertanya: “Wahai Abu al-Qasim, apakah pengertian dari hadits Nabi Saw:

Takutilah pada firasat seorang mu’min, karena ia melihat dengan cahaya dari Allâh swt”. (Artinya penglihatan seorang mu‟min yang saleh itu memiliki kekuatan).

Mendengar pertanyaan spontan dari orang Yahudi itu, Imam al-Junaid sejenak menundukkan kepala. Tiba-tiba al-Junaid berkata: “Wahai orang Yahudi, perkataanmu benar, dan firasatku menyuruh untuk melepaskan simbol kekafiranmu, masuk Islâmlah Engkau karena telah datang waktu bagimu untuk masuk agama Islâm”. Mendapat jawaban demikian, orang Yahudi tersebut langsung masuk Islâm (Tadzkirat al-Auliyâ’, halaman: 374 dan Jâmi’ al-Karâmât al-Auliyâ, juz 2, halaman:10 dan Rijâl al-Syarh al-Anfâs al-Rauhâniyah, halaman:15).

Suatu hari, Hadhrat Maulana Syaikh Junaid al-Baghdadi menderita sakit mata. Beliau pun memanggil seorang tabib.  Tabib itu berkata: “Jika matamu terasa berdenyut denyut, jangan biarkan matamu itu terkena air” Namun ketika tiba waktu shalat, Syaikh Junaid malah berwudhu’, shalat, kemudian tidur. Ketika ia bangun, matanya telah sembuh. Ia mendengar sebuah suara berkata: “Junaid mengabaikan matanya demi memilih keridha-an Kami. Jika, demi tujuan yang sama, ia memohon ampunan bagi para penghuni neraka, niscaya permohonannya akan Kami kabulkan.”

Keesokan harinya, sang tabib kembali mendatangi Syaikh Junaid dan melihat bahwa mata Junaid telah sembuh. “Apa yang telah Engkau lakukan?” tanya sang tabib keheranan. “Aku berwudhu‟ untuk shalat” jawab Syaikh Junaid. Seketika itu pula sang tabib, yang beragama Kristen, mengucapkan dua kalimat syahadat. “Ini adalah penyembuhan Sang Pencipta, bukan penyembuhan makhluk” komentar tabib tersebut.”Wahai Syaikh junaid, yang sakit bukan matamu. Engkaulah tabib yang sebenarnya, bukan aku.” Sahut tabib. (Tadzkirat al-Auliyâ, halaman: 376-377).

Abu Bakar al-Aththar berkata: “Menjelang al-Junaid wafat kami dengan beberapa orang sahabat berada di sisinya. Beliau dalam keadaan melaksanakan shalat dengan posisi duduk. Setiap kali hendak sujud ia menekuk kedua kakinya. Beliau terus berulang-ulang melakukan shalat, hingga ruh dari kakinya mulai terangkat. Ketika kakinya sudah tidak bisa lagi digerakkan, Abû Muhammad al-Jariri berkata kepadanya: Wahai Abu al-Qasim sebaiknya engkau berbaring!. Kemudian al-Junaid mengucapkan takbir dan membaca 70 ayat dari surat al-Baqarah namun sebelumnya beliau telah mangkhatamkan al-Qur’an karim. (Rijâl al-Syarh al-Anfâs al-Rauhâniyah, halaman:17).

Sanad Tharîqah Imam Junaid

Sanad adalah mata rantai orang-orang yang membawa sebuah disiplin ilmu (Silsilah al-Rijâl). Mata rantai ini terus bersambung satu sama lainnya hingga kepada pembawa awal ilmu-ilmu itu sendiri, yaitu Rasûlullâh Saw. Integritas sanad dengan ilmu-ilmu Islâm tidak dapat terpisahkan. Sanad dengan ilmu-ilmu keIslâman laksana paket yang merupakan satu kesatuan. Seluruh disiplin ilmu-ilmu Islâm dipastikan memiliki sanad. Sanad inilah yang menjamin keberlangsungan dan kemurnian ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu Islâm sesuai dengan yang dimaksud oleh pembuat syari’at itu sendiri, Allâh Swt. dan Rasul-Nya.

Di antara sebab kokohnya (tidak terjadi perubahan) ajaran-ajaran yang dibawa Rasûlullâh Saw. dari berbagai usaha luar yang hendak merusaknya adalah karena keberadaan sanad. Hal ini berbeda dengan ajaran-ajaran atau syari’at nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. Adanya berbagai perubahan pada ajaran-ajaran mereka, bahkan mungkin hingga terjadi pertentangan ajaran antara satu masa dengan masa lainnya setelah ditinggal oleh nabi-nabi yang bersangkutan adalah karena tidak memiliki sanad. Karena itu para ulama menyatakan bahwa sanad adalah salah satu “keistimewaaan” yang dikaruniakan oleh Allâh Swt. kepada umat nabi Muhammad Saw. di mana hal tersebut tidak dikaruniakan oleh Allâh Swt. terhadap umat-umat Nabi sebelumnya. Dengan jaminan sanad ini pula kelak kemurnian ajaran-ajaran Rasûlullâh Saw. akan terus berlangsung hingga datang hari kiamat. Imâm Ibn Sirin, seorang ulamâ terkemuka dari kalangan tabi’in berkata:

“Sesungguhnya ilmu agama ini adalah agama, maka lihatkan oleh kalian dari manakah kalian mengambil agama kalian”. (Diriwayatkan oleh Imâm Muslim dalam muqaddimah kitab Shahîh-nya).

Imâm Abdullâh ibn al-Mubarak berkata;

“Sanad adalah bagian dari agama, jika bukan karena sanad maka setiap orang benar-benar akan berkata tentang urusan agama terhadap apapun yang ia inginkan”.

Silsilah tharîqah imâm Junaidî sampai Rasûlullâh Saw. adalah: Imâm Ma‟rûf al-Karkhi dari Imâm ‘Alî al-Ridlâ, dari Imâm ayahnya sendiri: Imam Musa al-Kadzîm, dari ayahnya sendiri: Imam Ja’far al-Shâdiq, dari ayahnya sendiri: Imâm Muhammad al-Baqîr, dari ayahnya sendiri: Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin, dari ayahnya sendiri: Imâm al-Husain (Syahîd Karbala), dari ayahnya sendiri: Imâm Alî ibn Abî Thâlib, Dari Rasûlullâh Saw.

Tharîqah al-Junaidiyah: keturunan Junaidi dan cabangnya adalah:

  1. tharîqah al-Khawajikan
  2. al-Kubrâwiyah
  3. al-Qâdiriyah

Ajaran dan Amalan

Imam al-Junaid menegaskan, bagaimanapun tingginya tingkatan yang telah dicapai, seorang shufi harus tetap meyakini Keesaan Tuhan dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw. Dalam ajaran Shufi, delapan sifat harus dilatih. Kaum Shufi memiliki:

  1. Kemurahan hati seperti Ibrahim As.;
  2. Penerimaan yang tak bersisa sedikit pun dari Ismail As.;
  3. Kesabaran, sebagaimana dimiliki Ya‟kub As.;
  4. Kemampuan berkomunikasi dengan simbolisme, seperti halnya Zakaria As.;
  5. Pemisahan dari para pendukungnya sendiri, sebagaimana halnya Yahya As.;
  6. Jubah wool seperti mantel gembala Musa As.;
  7. Pengembaraan, seperti perjalanan Isa As.;
  8. Kerendah-hatian, seperti jiwa dari kerendahan hati Muhammad Saw. (Tadzkirat al-Auliyâ, halaman: 387).

Imam Al-Junaid juga menyusun shalawat kubro, yang tidak dicantumkan dalam artikel ini.

Wallau a’lam bisshowab

Sumber: Sabilus Salikin (Jalan Para Salik), halaman. 222-228, Cet. Pondok Pesantren Ngalah, Purwosari Pasuruan.

Editor: Warto’i

Artikel

Keistimewaan Sayyid Ahmad at-Tijani, Sang Qutub Khotmu al-Auliyai al-Kitmani

Published

on

Agama itu diibaratkan jasad manusia, tubuh dan anggota luar maupun dalamnya adalah seperti syari’at, hatinya adalah aqidah sementara darahnya seperti tarekat, semuanya saling berkait dan menguatkan. Karena itulah agama menjadi penting, dan perlu kejelasan. Bukan menguatkan identitas, tetapi lebih bagaimana penerapan substansi agama yang selalu mengarahkan manusia agar selamat dunia akhiratnya.

Dalam perspektif madzhab ahli Sunnah wal Jama’ah, tarekat adalah bagian yang tak terpisahkan dari agama. Lemah jika beragama tanpa tarekat, bahkan cenderung hanya menunaikan kewajiban semata. Apalagi beragama tanpa dasar ilmu dan tidak bermazhab, yang ada tekstualis dan mengarah pada fundamentalis, akhirnya agama menjadi kaku dan terlihat dangkal. Sebab cara beragama model begitu selalu simbolik dan menjauhi maqoshid-nya.

Tarekat Tijaniyah

Menurut Imam al-Jurjani dalam kitabnya al-Ta’rifat, bahwa Tarekat itu jalan khusus bagi hamba yang tengah menuju Tuhannya, dengan memotong langkah turun, hingga bagaimana meninggi dalam maqom (tingkat) kemuliaan.

Tarekat di dunia banyak jumlahnya, ada 41 tarekat yang mu’tabar (yang banyak diikuti dan masyhur), diantara sekian banyak itu ada tarekat Tijaniyah. Tarekat yang dihubungkan pada pendirinya yaitu Syaikh Sayyid Ahmad at-Tijani, seorang wali besar dengan maqom kutub robbani bahkan mencapai keistimewaan pangkat “khotmu al-auliyai al-kitmani”.

Tarekat Tijaniyah, mulai berkembang dari kota Fez Maroko, sepeninggal pendirinya di tahun 1815 M. Tarekat ini menjadi urutan mutaakhirin dari beberapa tarekat yang masyhur dalam dunia Islam, berkembang di awal abad 19 Masehi.

Siapa Sayyid Ahmad at-Tijani?

Sayyid Ahmad at-Tijani dilahirkan di desa Aini Madhi, wilayah Fez negeri Maroko pada 1150 Hijriyah, atau bertepatan dengan tahun 1735 M. Ayahnya adalah Sayyid Muhammad putera dari Sayyid Salim bin Sayyid Iid bin Sayyid Salim bin Sayyid Ahmad al-Ulwani bin Sayyid Ahmad bin Sayyid Ali bin Sayyid Abdillah bin Sayyid Abbas bin Sayyid Abdul Jabar bin Sayyid Idris bin Sayyid Ishaq bin Sayyid Zaenal Abidin bin Sayyid Ahmad bin Sayyid Muhammad Nafis bin Sayyid Abdillah al-Kamil bin Sayyid Hasan al-Musanna bin Sayyid Hasan al-Sibti bin Sayyidah Fatimah binti Rosulillah Muhammad Saw.

Saat usia 7 tahun Sayyid ini sudah hafal al-Quran 30 juz dengan baik dan sempurna dibawa bimbingan murobbinya yaitu Syaikh Muhammad bin Hamawi. Hingga Sayyid kecil menuntut ilmu pada guru yang sama, dan masih muda belia ia sudah mampu menyerap semua ilmu agama dengan baik.

Ketertarikan Sayyid Ahmad muda itu pada disiplin ilmu tasawuf, maka ia belajar sampai tuntas kitab al-mukhtasor karya Syaikh Kholil, kitab ar-risalah dan kitab muqodimah karya Ibnu Rusyd serta muqddimahny Syaikh Ibnu Bu’afiyah.

Meski harus terpukul dalam usia belia ia harus ditinggal oleh kedua orang tuanya, akibat serangan tho’un menerjang kota Fez. Pada usia 21 tahun dari kampungnya Aini Madhi menuju kota Fez, Sayyid Ahmad at-Tijani belajar pada ulama besar yaitu Sayyid Abu Muhammad ath-Thayyib, belajar pada ulama besar sekaligus wali qutubnya kota Fez kala itu yaitu Syaikh Ahmad ash-Shaqali dan pula belajar pada sosok wali yang istimewa yaitu Syaikh Muhammad al-Wanjali.

Guru Tarekat

Sebelum Sayyid Ahmad at-Tijani pergi ke Mekkah dan Madinah, beliau bertemu dan belajar pada 2 orang ulama besar yaitu Syaikh Abdullah Ibnu ‘Arobi al-Andalusi dan Sayyid Syaikh Abdul Abbas ath-Thowwasyi.

Sesampainya di desa Azwami, masih wilayah Madinah, Sayyid Ahmad at-Tijani menemui seorang Mursyid Tarekat Kholwatiyah yaitu Sayyid Abi Abdillah al-Azhari untuk berijazah dan belajar padanya. Saat di Mekkah, Sayyid Ahmad at-Tijani menyempatkan belajar ilmu Asror dan mendalami karomah pada Syaikh Abi Abbas Muhammad al-Hindi. Ketika singgah di Madinah dalam rangkaian perjalanan ibadah haji, Sayyid at-Tijani ini belajar pada pendiri tarekat Samaniyah yaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman.

Maqom Wali Kutub

Perjalanan panjang mendalami ilmu dan tarekat dari Fez, Mekkah dan Madinah hingga di Tunisia akhirnya mengantarkan Sayyid Ahmad at-Tijani menjadi Wali Kutub dengan Maqom khotmu al-auliyai al-kitmani, bahkan Sayyid Ahmad at-Tijani mendirikan tarekat yang bertumpu pada tanazzul ( melayani umat ) dengan memberikan faidah dan kemanfaatan, berdasarkan anjuran Rosulullah Saw saat bertemu bermuwajahah di negeri Tilmisan. Di negeri itulah Sayyid Ahmad at-Tijani ditalqin langsung oleh Rosulullah Saw dalam keadaan yaqdhotan (tidak lewat mimpi).

Sejak ditalqin langsung oleh Rosulullah tersebut, Sayyid Ahmad at-Tijani menyebarkan dzikir dan sholawat hingga pengikut dan murid-muridnya menisbatkan tarekat yang didirikan oleh Sayyid Ahmad at-Tijani dengan Tarekat Tijaniyah.

Wafat

Kemasyhuran Sayyid Ahmad at-Tijani dengan Tarekat Tijaniyah hingga ke penjuru negeri, tak terkecuali di negerinya sendiri Fez Maroko.

Pada usianya yang kian senja yaitu 80 tahun dari bentangan perjalanan panjang kehidupannya yang istiqamah di jalan tarekat, maka pada Kamis tanggal 17 Syawal 1230 H, yang bertepatan dengan tahun 1815 M. Sayyid Ahmad at-Tijani menghembuskan nafas terakhirnya setelah sholat Subuh. Kemudian jenazahnya dimakamkan di kota Fez Maroko.

Penghormatan terakhir atas keistimewaan sang Qutub itu, di hari dimana ia disholatkan orang-orang dari segala penjuru berdatangan untuk ikut mensholatinya, hingga tampak lautan manusia.

Oleh: Hamdan Suhaemi. (Wakil Ketua PW GP Ansor dan Pengurus Idaroh Wustho Jatman Banten)

Continue Reading

Artikel

Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya (YPDHKY) dan Jejaring Tarekat Naqsyabandiyah

Published

on

Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya

Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya adalah tarekat Naqsyabandiyah yang di-syiar-kan oleh Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, setelah Beliau diangkat menjadi mursyid oleh guru Beliau, Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan pada tahun 1952.

Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya
Beberapa Syaikh besar, jalur berguru Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya dalam belajar ilmu tasawuf/sufi di garis tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Dari kiri ke kanan: Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim (1863-1954) Buayan, Lubuk Aluang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat; Syaikh Syihabuddin Aek Libung (1892-1967), Sayur Matinggi, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara; Syaikh Muhammad Said Bonjol (1881-1979), di Jorong Padang Baru, Nagari Ganggo Hilia, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat; dan Sayyidi Syaikh Sulaiman (1842-1917) di Hutapungkut, Kota Nopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara

Setelah diangkat sebagai mursyid, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya berhak membuka, mengembangkan, dan memimpin majelis zikir sendiri, termasuk pada hal-hal yang terkait, seperti menerima murid yang masuk Tarekat, kegiatan suluk/itikaf, dll.

Beliau juga mendapatkan ijazah khusus dari Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam (Sumatera Barat) pada tahun 1949, dan dari Syaikh Mohammad Said Bonjol (Sumatera Barat) tahun 1971.

Berkat perjuangan yang tanpa pamrih duniawi sedikitpun, Beliau dengan izin Allah SWT berhasil membangun dan mengembangkan majelis-majelis zikir tarekatullah, yang biasa disebut dengan istilah alkah (dari bahasa Arab halaqah), atau surau, di seluruh penjuru nusantara dan bahkan di luar negeri.

Pada tahun 1997, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya menyerahkan surau-surau Beliau ke dalam naungan Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, sehingga kelak setelah Beliau wafat, “kepemilikan” Tarekat Naqsyabandiyah yang dipimpinnya secara otomatis akan dikelola oleh yayasan Beliau, hingga saat ini.

Tujuan dan Sasaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya.

Orang yang ber-tarekat memiliki tujuan mendasar untuk mencari ridha Allah dan memurnikan tauhid kepada-Nya. Tauhid menjadi dasar pola pikir untuk senantiasa bersikap Ilahi anta maqshuudi wa ridhaka mathluubii dalam bersikap dan bertindak, sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan Hadist.

Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya

Dengan demikian, orang yang ber-tarekat nantinya akan menjadi orang-orang yang memiliki keyakinan kuat tentang Allah dan ke-Esa-an-Nya dalam semua hal, selalu melibatkan Allah dalam semua aktivitas, menjalankan ketentuan-ketentuan syariat-Nya, dan berakhlak mulia sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadist. Maka orang yang ber-tarekat diharapkan akan menjadi muslim yang bermanfaat bagi makhluk-Nya, dan menjadi warga negara yang patuh kepada pemimpin, menaati peraturan, serta mengabdi pada bangsa dan negara.

Badan Koordinasi Kesurauan (BKK)

Dalam mengelola surau-surau atau tempat-tempat wirid di bawah yayasan, selain Universitas Pembangunan Panca Budi, Perguruan Panca Budi dan Badan Otoritas Kampus, dibentuklah sebuah divisi yang bernama Badan Koordinasi Kesurauan (BKK). BKK ini membawahi Badan Kerjasama antar Surau (BKS), yang terdiri dari Surau (tempat wirid yang tanah dan bangunannya telah diatasnamakan Yayasan), POS (tempat wirid yang tanahnya belum diatasnamakan Yayasan) dan IOP (rumah/bangunan milik jamaah yang dipergunakan untuk aktivitas wirid pada waktu-waktu yang disepakati). Masing-masing BKS ini mewakili BKK dalam pengurusan Surau, POS dan IOP di wilayahnya, agar berjalan seperti yang diharapkan, sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan Hadist, serta perundang-undangan yang berlaku.

Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya
Rumah tempat tinggal dan makam Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim (1863-1954) di Buayan, Lubuk Aluang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Kerjasama dengan Tarekat Serumpun

Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya melakukan kerjasama dengan sembilan Tarekat Naqsyabandiyah (TN) serumpun, yaitu tarekat yang memiliki sumber silsilah keguruan yang sama, yaitu sama-sama berasal dari jalur silsilah Sayyidi Syaikh Abdullah Afandi, Jabal Qubaisy Mekah. Kerja sama ini terbentuk melalui silaturahmi Syaikh -Syaikh Tarekat serumpun yang berlangsung pada tanggal 14 April 2003, di mana tarekat-tarekat serumpun yang bekerjasama adalah:

  1. TN Babussalam, Langkat, Sumatera Utara, Pimpinan Drs. H. Syaikh Hasyim Al-Syarwani
  2. TN Ponpes Labuhan Haji, Nanggroe Aceh Darussalam, Pimpinan Syaikh Amran Wali
  3. TN Tanjung Alam Bulaan, Koto Tabu, Batu Sangkar Sumatera Barat Pimpinan H. Syaikh Al Imam Ramali
  4. TN Ranjau Batu, Mandailing Natal, Sumatera Utara Pimpinan H.Syaikh Muhammad chaer
  5. TN Hutapungkut, Kotanopan, Mandailing Natal Sumatera Utara, Pimpinan Syaikh Syafi’i
  6. TN Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, Pimpinan Syaikh Taslim
  7. TN Kumpulan, Pasaman, Sumatera Barat, Pimpinan Syaikh Nasrul TK Sayidina Ibrahim
  8. TN Aek Libung Tapanuli Selatan, Sumatara Utara, Pimpinan H. Syaikh Husein
  9. TN Giri Kusumo, Semarang, Jawa Tengah, Pimpinan Drs. H. Syaikh Muhammad Zuhri.

Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya

Kerjasama tersebut dimaksudkan untuk membangun silaturrahmi dan sekaligus mendorong terciptanya kerukunan umat beragama pada umumnya, dan ukhuwah Islamiyah pada khususnya, di samping untuk bersama-sama membahas mengenai masalah-masalah ke-tarekat-an dalam forum seminar, sarasehan, loka karya dan lain-lain.

Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya
Masjid dan makam Syaikh Muhammad Said Bonjol (1881-1979), di Jorong Padang Baru, Nagari Ganggo Hilia, Kec. Bonjol, Kab. Pasaman, Sumatra Barat.

Keanggotaan dalam Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN).

Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya juga melakukan silaturahmi dan kerja sama dengan berbagai tarekat lain di Indonesia yang tergabung dalam Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN).

Maulana Habib Luthfi dalam acara Tabligh Akbar dan Festival Marawis Baitul Amin, Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, di Sawangan, Depok, November 2008. Dari kiri: Dr. H. Muhammad Isa (Rekor Universitas Pancabudi saat ini), Dr. H. Achmad Kadri Ramadhan (Ketua BKK YPDHKY dan Aminus Shunduq Tsani JATMAN Pusat), Maulana Abah Luthfi dan Prof. Djamaan Nur (Murid Senior Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya MA, M.Sc)

Keterlibatan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya dalam jejaring JATMAN didasari oleh:

  1. Surat Rais Am JATMAN Al Habib Muhammad Luthfi Ali bin Yahya kepada Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya tertanggal 22 Mei 2003, yang dimaksudkan untuk menyampaikan kegembiraan Beliau dengan adanya silaturahim Syaikh-Syaikh Tarekat serumpun yang diselenggarakan oleh Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya pada tanggal 14 April 2003 di Medan.
  2. Hasil Muktamar XI JATMAN yang dilaksanakan pada tanggal 10-14 Januari 2012/16-20 Shafar 1433 H di Ponpes Al Munawwariyyah Sudimoro Bululawang Malang. Di antara hasil muktamar itu adalah terbentuknya Susunan Idaroh Aliyah JATMAN yang di dalamnya ada Dr. H. Akhmad Kadri Ramadhan, SH., MM., (Ketua BKK) salah satu dari cucu kandung Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, diangkat sebagai Aminus Shunduq Tsani, Bendahara II.

Sumber: Biografi Prof. Dr. H. Kadirun Yahya

Continue Reading

Artikel

Pemikiran Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya

Misteri tentang agama yang misterius, mistis, tak terlihat, dll, bisa didekati dengan menggabungkan ilmu-ilmu eksakta (matematika, fisika, kimia, mekanika, biologi, dll), agar agama lebih bisa diterima oleh pikiran manusia.

Published

on

Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya
Teknologi Metafisika Al-Qur’an

Salah satu fenomena Islam Indonesia sejak tahun 1990-an adalah adanya perdebatan pendapat di antara ilmuwan muslim terkait hubungan agama dan sains, yang memunculkan istilah-istilah seperti islamisasi ilmu pengetahuan, ilmuisasi islam, obyektifikasi islam, keserasian, ayatisasi, integrasi, integrasi – interkoneksi, dan lainnya.

Sejak era tahun 1970-1980-an mulai dikenal nama-nama seperti Rasjidi, Moenawar Chalil, Buya Hamka, Hidajat Nataatmaja, Kuntowijoyo, Mulyadhi Kartanegara, Amin Abdullah, hingga Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, yang mempelopori gerakan agama dan sains ini dalam tiga agenda, yaitu politik penguatan identitas keislaman, semangat melawan sekulerisasi barat, dan sikap defensif yang merupakan bagian dari dakwah.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya menggagas pemikiran melalui ilmu metafisika eksakta yang akan mampu menjelaskan apa sebenarnya agama itu. Misteri tentang agama yang misterius, mistis, tak terlihat, dll, bisa didekati dengan menggabungkan ilmu-ilmu eksakta (matematika, fisika, kimia, mekanika, biologi, dll), agar agama lebih bisa diterima oleh pikiran manusia. Umumnya, ajaran agama sulit dipahami karena tidak ada penjelasan yang logis, sehingga iman umat manusia rentan untuk bergeser ke atheisme atau sekulerisme.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya menggunakan teori metafisika dari perspektif sains, untuk menunjukkan ilmiahnya ayat-ayat Al-Qur’an, dan bukan hanya sekedar dogmatis.

Menurutnya ilmu metafisika eksakta sangat efektif untuk dipakai dalam menerangkan teori-teori ilmiah dari pelaksanaan teknis ilmu agama, termasuk di dalamnya bidang ilmu tasawuf dan sufi.

Baginya, metafisika adalah fisika di alam meta, merupakan suatu kenyataan tentang keberadaan (realitas) sesuatu secara eksak di alam meta (gaib, transenden, abstrak), maka pendekatan ilmiah dalam pembahasan yang bersifat pasti dan memiliki batasan tertentu, akan lebih mudah mendapat pengertian dan pemahaman, di samping bahwa problem metafisika yang sesungguhnya dapat diterapkan dan dibuktikan eksistensinya, sehingga ilmu eksakta dapat dijadikan sebagai media pendukung dalam lingkungan metafisika dan ilmu pengetahuan.

Dengan latar belakangnya sebagai ilmuwan Fisika-Kimia, menguasai Bahasa Inggris, Jerman dan Belanda, serta menekuni ilmu tasawuf dan tarekat, selain menggunakan dasar Al-Qur’an, al-Hadist dan ijma’ ulama’, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya juga berdakwah menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga pemikiran Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya dinilai sesuai dengan perkembangan umat dan zaman di abad teknologi dan informasi. Inilah yang membedakan pola penyampaian dakwah antara Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya dengan ulama-ulama lainnya. 

Menurutnya, teknologi jangan selalu diartikan dengan hal-hal yang berhubungan dengan mesin atau komputer. Secara sederhana teknologi adalah serangkaian metode yang mencakup pengertian yang lebih luas. Misalnya dalam mencangkul, diperlukan suatu metode atau cara. Tanpa menguasai bagaimana metode mencangkul, maka tidak dapat diperoleh hasil cangkulan yang baik, bahkan bisa membuat orang terluka. Dalam hal contoh sederhana yang lain, memasak misalnya, meskipun telah tersedia alat dan bahan yang diperlukan untuk memasak suatu masakan, tapi jika tidak mengetahui metode atau cara dalam memasak, maka masakan yang dimaksud tentu tidak akan jadi.

Contoh yang lain, tentang air. Apabila diterapkan teknologi elektrolisa, air akan mengeluarkan tenaga dahsyat, air akan terurai menjadi oksigen dan atom hidrogen, yang jika disatukan kembali dan disulut dengan menggunakan api, maka akan meledak dan menyemburkan api yang dapat melebur besi. Jika air dialirkan melalui turbin yang dirangkai dengan dinamo, akan mengeluarkan energi listrik yang mencapai kekuatan hingga 170.000 KVA.

Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa ayat-ayat dalam Al-Qur’an dan kalimah Allah (zikir) juga tidak akan mampu mengeluarkan tenaga dahsyat, selama tidak dikuasai metodologinya, yang mana teknologi itu disebut oleh Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya dengan istilah “Teknologi Metafisika Al-Qur’an”. Dengan teknologi ini, kalimah Allah dan ayat-ayat Al-Qur’an akan dapat mengeluarkan energi-energi metafisis ke-Tuhan-an yang maha dahsyat.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya

Unsur Tak Terhingga (Infinity)

Tuhan menurunkan energi tak terhingga (infinity) dalam bentuk firman-Nya. Kekuatan tak terhingga di dalam kalîmah Allâh, atau ayat-ayat khusus Al-Qur’an, dapat menghancurkan segala sesuatu yang negatif antara surga dan bumi. Tujuan akhir dari setiap manusia adalah untuk mendapatkan akses ke faktor Tak Terhingga ini, yang hanya mungkin dilakukan dengan cara berhubungan (secara kerohanian) dengan Nabi.

Sama seperti energi listrik harus dibawa oleh kabel dari sumbernya ke lampu, energi ilahi yang tak terhingga ini hanya bisa didapatkan dengan menghubungkan (rohani) melalui Nabi dan rantai orang-orang suci, yaitu para ulama pewaris ilmu Nabi. Energi tak terbatas kalîmah Allâh ini dijelaskan Syaikh  Prof. Dr. H. Kadirun Yahya dalam rumus tak terhingga pada konsep matematika:

1 / ~ = 0

[angka berapa pun] / ~ = 0

[iblis, setan, hantu, kanker, narkotika, atom, nuklir, apapun yang fisik maupun metafisika] / ~ = 0

unsur tak terhingga (~) di sini menurut Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah kalimah Allah atau ayat-ayat Al-Qur’an

Unsur tak terhingga (~) dalam konsep matematika ini yang dipergunakan Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya untuk mendefinisikan kebenaran hakiki tentang Tuhan dan tasawuf (tarekat). Unsur tak terhingga (~) ini mencerminkan keunikan Tuhan, di mana Tuhan duduk di takhta-Nya (Arsy), yang berada pada jarak tak terbatas/ tak terhingga dengan kita.

Karena jarak sama dengan kecepatan dikalikan dengan waktu

s = v x t

di mana

s = spazium = distance = jarak

v = velocitas = speed = kecepatan

t = tempo = time = waktu

maka komunikasi dengan Tuhan membutuhkan kecepatan yang tak terhingga (~), atau akan mengambil waktu yang tak terhingga (~)

s = ~, dan oleh karena itu v atau t harus = ~

Para nabi, yang secara teratur berkomunikasi dengan Tuhan, dapat melakukannya karena rohani mereka (diri spiritual mereka) memiliki “radiasi frekuensi” yang tak terhingga untuk mencapai Tuhan. Menurut Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, ini adalah “cahaya di atas cahaya” yang disebutkan dalam Al-Qur’an 24:35.

Ini adalah cahaya dengan frekuensi dan energi tak terhingga, yang muncul dari Tuhan dan tersambung dengan diri rohani Rasulullah, yang kemudian diteruskan kepada para ulama pewaris ilmu Rasulullah (silsilah keguruan mursyid-mursyid tarekat) Inilah yang dikatakan sebagai “Tali Tuhan” (habl min Allâh), yang melaluinya individu dapat terhubung dengan unsur tak terhingga tersebut.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya mendefinisikan metafisika eksakta sebagai kajian yang membahas masalah-masalah metafisika, yaitu yang bersifat abstrak, transenden dan gaib melalui pendekatan pada ilmu eksakta (matematika, fisika, kimia, mekanika, biologi, dll).

Syaikh Kadirun menjelaskan sintesis sains, teknologi, dan tasawuf modern, dengan menggunakan rumus eksakta fisika dan matematika sebagai metafora untuk menjelaskan hubungan antara manusia dan Tuhan, dan sebagai wujud atau simbol bahwa segala sesuatu dapat diperhitungkan secara ilmiah. Beliau menjelaskan tentang teknologi metafisika berupa penyaluran kekuatan tak terhingga di dalam kalîmah Allah, yaitu zikir dengan metode tarekat, memusatkannya, dan mengarahkannya untuk berbagai tujuan di dunia ini.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya

Tarekat sebagai Metodologi

Ditegaskan oleh Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, bahwa kebenaran agama jangan hanya dipertahankan dengan hujjah akal, tetapi harus mampu dibuktikan kebenarannnya secara ‘real’, yang itu bisa didapatkan melalui metode tarekat. Dan metode tarekat itu sendiri harus bisa dibuktikan kebenarannya melalui sains matematika, fisika, dan kimia yang terukur. Ia berpandangan, bahwa menunjukkan ‘kekeramatan‘ (karamah) diperlukan untuk membuktikan kebenaran (Islam atau amalan tarekat) dan menangkis pendapat bahwa agama adalah khayalan.

Pada dasarnya ilmu tarekat di dalam al Qur’an merupakan metode pelaksanaan teknis dari suatu amalan yang sangat tinggi, yaitu zikir. Di sinilah yang dimaksudkan oleh Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, bahwa tarekat merupakan sebuah metodologi di dalam ilmu tasawuf, yaitu melalui pengamalan zikir, pengamalan kalimah Allah.

Menurut Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, kekuatan potensi kalimah Allah adalah maha dahsyat, sehingga mampu mempertahankan eksistensi dunia dari kehancuran total oleh tenaga apa pun. Maka ilmu tersebut perlu diriset, di mana letak ilmiahnya, the how to do-nya, dari amalan-amalan tarekat yang kelihatannya mubazir dan seolah-olah hanya membuang waktu. Namun sebenarnya semuanya itu akan terbukti, kalau dilaksanakan dengan metode zikir yang tepat, akan memperoleh manfaat yang besar dari kekuatan yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an dan Hadist, Tuhan telah menunjukkan banyak contoh mengenai energi tak terhingga tersebut, seperti pada kejadian banjir Nabi Nuh, bencana yang dialami kaum Nabi Luth, mu’jizat Nabi Sulaiman, Nabi Daud melawan Goliath, Nabi Isa menghidupkan orang mati, kerikil batu sijjil untuk memusnahkan tentara Abrahah, Nabi Ibrahim melawan Namrud, Nabi Musa melawan Fir’aun, dan lain-lainnya.

Begitu juga dengan sejarah penyebaran agama Islam di Nusantara Indonesia. Saat Islam mulai mendarat di tanah Jawa, dengan para ulama yang dikenal dengan sebutan “Wali Songo” mulai mendakwahkan Islam. Semula rakyat merasa keberatan, bahkan menolaknya, dengan alasan mereka telah mempunyai agama kebatinan Jawa.

Di sinilah kemudian diterjunkan ke garda depan kekuatan-kekuatan metafisika berupa tasawuf dan ilmu sufinya, dengan berbagai fenomena keajaiban dan karamahnya. Barulah kebatinan di tanah Jawa tersebut dapat menerima Islam. Kemudian dilanjutkanlah dakwah Islam itu dengan pengajaran ilmu fiqh sebagai pengatur dalam tatakrama kehidupan umat Islam.

Demikian pula tidak sedikit kisah-kisah karamah Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya dalam mempraktekkan teknologi metafisika ini, seperti memadamkan letusan gunung Galunggung di Jawa Barat atas permintaan Pemda Tk I Jawa Barat dengan menggunakan helikopter dan melempar batu serta menyiramkan air zikir kalimah Allah, memberantas pemberontakan gerombolan komunis di Hutan Pahang Malaysia atas permintaan perwira angkatan bersenjata Malaysia dengan menggunakan helikopter dan melemparkan batu-batu bermuatan zikir kalimah Allah.

Dengan metode tarekatullah menyembuhkan berbagai penyakit berat dan penyakit ganjil, penyembuhan kecanduan narkoba, mengusir gangguan jin, dll. Semua itu merupakan praktek menyalurkan energi tak terhingga kalimah Allah, melalui berbagai media seperti batu, air, dan tongkat, yang telah didoakan dan diberi muatan zikir kalimah Allah.

Kisah-kisah menarik tentang sosok pribadi dan perjalanan spiritual Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, peran aktifnya dalam dunia pendidikan, dunia sosial kemasyarakatan, dunia militer dan ketatanegaraan, serta cerita-cerita karamahnya dengan berbagai penjelasan ilmiah mengenai teknologi Al-Qur’an ini, membuat tarekat yang dipimpinnya mendapatkan banyak pengikut.

Murid-murid Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya berasal dari beragam kalangan, mulai masyarakat kelas bawah, menengah, sampai kelas atas, dari usahawan, profesional, artis, seniman, akademisi (guru, mahasiswa, dosen, doktor, sampai profesor), kalangan militer (polisi dan tentara, dari pangkat rendah sampai perwira tinggi), kalangan pejabat (dari kepala daerah, menteri, sampai keluarga Diraja Malaysia), baik di Indonesia maupun di Malaysia.

Namun selain mendapatkan banyak pengikut, ada pula sebagian kalangan yang menolak pemikiran Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya maupun tarekat yang dibawanya. Pemikirannya tentang teknologi metafisika Al-Qur’an untuk menjelaskan tarekat, cerita-cerita karamahnya, perjalanan hidupnya, dan praktek-praktek teknis tarekat yang dilakukan jamaah tarekatnya, dianggap kontroversial oleh para penentangnya, bahkan terjadi intimidasi terhadap jamaah tarekat ini di beberapa daerah. Penolakan-penolakan dan intimidasi ini pun disanggah dengan cara damai oleh para pengikut Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya melalui berbagai tulisan ilmiah dan forum-forum ilmiah.

Walaupun terdapat kontroversi di sebagian kalangan, namun karya-karya ilmiah pemikiran Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya telah banyak menginspirasi para penulis, akademisi, dan peneliti di Indonesia, Malaysia, maupun beberapa negara lainnya. Tercatat lebih dari 30 tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia, bahasa Melayu, maupun bahasa Inggris, berupa skripsi, thesis, disertasi, makalah forum ilmiah, jurnal, sampai buku, yang telah mengulas pemikiran Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, sosok pribadi dan perjalanan spiritualnya, maupun pergerakannya dalam dakwah tarekat.  

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya

Tulisan tentang Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya

Berbagai tulisan ilmiah berupa skripsi, thesis, disertasi, makalah, jurnal ilmiah, dan buku, yang mengambil tema tentang Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, maupun cuplikan pemikirannya, oleh periset, akademisi, dan penulis dari Indonesia maupun luar negeri, antara lain:

  1. Nur, Prof. K. H. Djamaan (2002). “Tasawuf dan Tarekat Naqsyabandiyah Pimpinan Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya.” Medan: USU Press..
  2. Ridjal, Syamsur (2013). “Tarekat Naqsyabandiyah Syeikh Kadirun Yahya dan Pengalamannya di Kota Jambi”. Innovatio : Journal for Religious Innovations Studies. Jambi: Program Pasca Sarjana, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
  3. Mutmainnah, Anisah (2018). “Studi Deskriptif Pemikiran Politik Syeikh Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah tentang Hidup Bernegara”. Skripsi thesis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, Medan
  4. Wahid, Yenny Zannuba (2009). Dja’far, Alamsyah M., ed. Agama dan pergeseran representasi: konflik dan rekonsiliasi di Indonesia. Jakarta, Indonesia: Wahid Institute.
  5. Bruinessen, Martin van. (1994). Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia : survei historis, geografis dan sosiologis (edisi ke-Rev. ed). Bandung, Indonesia: Penerbit Mizan.
  6. Mohamad al-Merbawi, Abdul Manam Bin; Abdullah, Mohd Syukri Yeoh; Abdullah, Osman Chuah; Wan Abdullah, Wan Nasyrudin Bin; Ahmad, Salmah (2012). “Tarekat Naqshabandiyyah Khalidiyyah in Malaysia: A Study on the Leadership of Haji Ishaq bin Muhammad Arif”. MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman. Medan: Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
  7. Fakhriati (2013). “Prof. Dr. H. Kadirun Yahya: Perjalanan Menuju Saidi Syeikh dalam Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah”. Jurnal Lektur Keagamaan. Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jakarta.
  8. Bruinessen, Martin Van (2007). “After The Days of Abu Qubays: Indonesian Transformations of The Naqshabandiyya-Khalidiyya”. Journal of the History of Sufism. Paris, France: Simurg Press.
  9. Erawadi, Erawadi (2014). “Pusat-Pusat Perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah di Tapanuli Bagian Selatan”. MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman. Medan: Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
  10. Lubis, Sakban (2018). “Tharekat Naqsabandiyah Kholidiyah Saidi Syekh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, MA di Universitas Pembangunan Panca Budi Medan”. Almufida: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman. Medan: Fakultas Agama Islam Universitas Dharmawangsa.
  11. Nurul Amin Hudin, LC (2016) “Titik Temu Ilmu Eksakta dan Tasawuf Pemikiran Syekh Kadirun Yahya.” Masters thesis, Program Studi Agama dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta.
  12. Yudhasatria, Ebma (2014). “Pemikiran Kadirun Yahya Tentang Tasawuf 1950-2001.” Skripsi thesis, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.
  13. May, Asmal (2017). “Menyingkap Energi Zikir Dalam Konsep Tasawuf Syekh Kadirun Yahya”. Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman. Pekanbaru, Riau: Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim.
  14. Husin, Hamidun Mohamad; Jailani, Moh. Rushdan Mohd., Prof. DR. (2013). “Kelangsungan Amalan Takziyat Al-Nafs: Instrospeksi Pengalaman Tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah Yayasan Prof. DR. H. Kadirun Yahya di Malaysia.” Proceedings from conference on “Seminar Kebangsaan Pengajian Akidah dan Agama Kali ke-3 (2013), run by Program Pengajian Akidah dan Agama dengan kerjasama Fakulti Kepimpinan dan Pengurusan, Universiti Sains Islam Malaysia. Kuala Lumpur, Malaysia, 28 September 2013.
  15. Abdullah, Luqman (2018). “Kontribusi Tarekat Naqsyabandiyah Terhadap Pendidikan Agama Islam Dan Perubahan Perilaku Sosial Jamaah (Studi Kasus Jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Di Dukuh Tompe, Kabupaten Boyolali)”. Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam.
  16. Triyanta, Agus (2003). “Tarekat Naqsyabandiyah dan Konservasi Alam (Etika Lingkungan Lingkungan Hidup dalam Wawasan Keagamaan)”. Fenomena, Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Humaniora. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.
  17. Sutatminingsih, Raras (2016). “The Relationship Between The Practice Of Suluk With Psychological Well Being Among The Saliks At Tarekat Naqsyabandiyah And Non-Saliks“. Atlantis Press.
  18. Izzati, Nurul (2019). “Kontroversi Tasawuf Nusantara: Kadirun Yahya dan perdebatan tentang otentisitas ajaran tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah”. Masters thesis, Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya.
  19. Hakim, U.N. Lukman (2011). “Aktualisasi Metafisika dalam Kehidupan Manusia di Abad 21”. Jurnal Ilmiah Abdi Ilmu. Medan: Universitas Pembangunan Panca Budi Medan.
  20. Simamora, Nur Aisah (2016). “Integrasi Keilmuan Pada Perguruan Tinggi Islam Di Kota Medan.” Dissertation thesis, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan.
  21. Bahri, Media Zainul (2018). “Expressing Political and Religious Identity: Religion-Science Relations in Indonesian Muslim Thinkers 1970-2014″. Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies (dalam bahasa Inggris). Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
  22. Syarifuddin; Prof. Dr. Muzakkir, MA; Nur, Dr.Anwarsyah (2017). “Metaphysical thought Muhammad Iqbal and Correlation in the Reconstruction of the characters on Education Institutions (Case Study on Education Foundation of Prof. Dr. H. Kadirun Yahya)“. International Journal for Innovative Research in Multidisciplinary Field. Gujarat, India: Research Culture Society.
  23. Abdullah, Luqman (2018). “Model Tarekat Naqsyabandiyah dan Pengaruhnya Terhadap Kecerdasan Spiritual (Studi Kasus Jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Nurul Amin di Kabupaten Boyolali)”. Masters thesis, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta.
  24. Husin, Hamidun Mohamad (2014), “Kepribadian Prof. Kadirun Yahya dan Pengaruhnya terhadap Suasana Pengamalan Tarekat di bawah Bimbingannya di Malaysia.” Diarsipkan 2020-06-04 di Wayback Machine. Proceedings from the international conference on “International Research Management and Innovation Conference 2014 (IRMIC2014), run by Research Development Centre & Islamic Academy, Selangor International Islamic University College. Kuala Lumpur, Malaysia, 17 to 18 November 2014.
  25. Husin, Hamidun Mohamad (2017), “The Doctrine and Practice of Naqshabandiyyah Khalidiyyah of The Prof. DR. H. Kadirun Yahya.” Proceedings from the international conference on “3rd International Conference o Islamiyyat Studies 2017 (IRSYAD2017)”, run by Faculty of Islamic Civilization Studies, Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor. Kuala Lumpur, Malaysia, 1 to 1 Agustus 2017.
  26. Aziz, Ahmad Amir (2013). “Kebangkitan Tarekat Kota”. ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman. Surabaya: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.
  27. Ahmadi, Ghufron (2010). “Sumber Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah Kadirun Yahya (Studi Kasus di Surau Saiful Amin Yogyakarta)”. Skripsi thesis, Jurusan Tafsir Hadist, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta.
  28. Faiz, Muhammad (2016). “Khazanah Tasawuf Nusantara: Tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah di Malaysia”. ‘Anil Islam: Jurnal Kebudayaan dan Ilmu Keislaman. Sumenep, Madura: Institut Ilmu Keislaman Annuqayah.
  29. Howell, Julia Day (2001-08). “Sufism and the Indonesian Islamic Revival”. The Journal of Asian Studies. Association for Asian Studies, Hong Kong.
  30. Ryan, Natasha (2003). “Tauhid and Tasawwuf: Indonesian Sufism in search of unity“. Bachelor of Arts Honours thesis, Faculty of Community Services, Education and Social Sciences, Edith Cowan University, Australia.
  31. Howell, Julia Day, Professor (2002), “Seeking Sufism in the Global City: Indonesia’s Cosmopolitan Muslims and Depth Spirituality.” Proceedings from the international conference on “Islam in Southeast Asia and China: Regional Faithlines and Faultlines in the Global Ummah ” run by the City University of Hong Kong’s Southeast Asia Research Centre, Faculty of Humanities and Social Sciences. Hong Kong, 28 November to 1 December 2002.

Sumber: Biografi Prof. Dr. H. Kadirun Yahya


Baca juga:

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending