Connect with us

Artikel

Tasawuf: Solusi Terhadap Problematika Masyarakat Modern

Published

on

A. Pendahuluan

Dewasa ini, kita hidup pada zaman modern atau era digital yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia mendapatkan berbagai kemudahan dan kesenangan hidup, karena hampir semua kebutuhan hidup manusia terutama yang bersifat lahiriyah dapat dipenuhi dengan bantuan mesin dan robot yang dihasilkan oleh industri maju. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi transportasi dan komunikasi telah mengantarkan manusia memasuki era globalisasi, suatu era dimana manusia mampu melakukan hubungan antar bangsa sejagat (global) dalam berbagai segi kehidupan secara lebih luas, lebih mudah dan lebih cepat. Berkat kemajuan teknologi transportasi, hubungan antarbangsa semakin mudah dan cepat. Akibatnya, kontak langsung antarbangsa semakin sering terjadi sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran pikiran, gagasan serta saling mempengaruhi yang pada gilirannya dapat mengubah pola pikir dan tingkah laku masing-masing.

Dengan kemajuan teknologi komunikasi, dunia terasa kecil dan menjadi transparan. Semua kejadian di suatu negara, dalam waktu yang sama dapat diketahui oleh manusia sejagat. Hampir tidak ada rahasia suatu negara atau masyarakat yang tidak diketahui oleh negara atau masyarakat lain. Untuk menghadiri seminar internasional, seseorang tidak harus pergi meninggalkan negaranya masing-masing. Untuk belanja berbagai keperluan sehari-hari,  orang tidak perlu keluar rumah dan membayar uang kontan. Begitu canggihnya sistem perdagangan dan pembayaran, orang dapat bepergian kemana saja dan membeli apa saja tanpa membawa uang tunai, tetapi cukup dengan membawa bank card.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat sejak dasawarsa 70-an telah menimbulkan revolusi informasi yang melanda semua bangsa, baik di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang tanpa menghiraukan apakah masyarakatnya sudah siap menerima perubahan yang sedemikian cepat atau tidak. Alfin Toffler, penulis buku “Future Shock” memperkenalkan nomenklatur baru powershift, yaitu bahwa globalisasi tidak hanya mengubah peta kekuatan, tetapi juga mengubah secara mendalam sifat dan hakikat kekuatan.  

Dewasa ini, arus globalisasi makin terasa. Perkembangan dunia internasional baik dalam bidang ekonomi, politik maupun sosial budaya secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia. Arus globalisasi, positif maupun negatif telah menembus batas-batas negara, bahkan menembus dinding-dinding rumah tangga dan keluarga kita. Jika kita tidak siap menghadapinya, dapat dipastikan arus globalisasi dapat mengancam, bahkan menimbulkan malapetaka bagi kita. Karena melalui teknologi komunikasi seperti radio, televisi, film, video, internet dan yang lain, sangat memungkinkan terjadinya penyebaran nilai-nilai baru yang dapat menggoyahkan nilai-nilai yang selama ini dianggap baku, termasuk nilai-nilai agama. Demikian juga melalui teknologi komunikasi, kebiasaan-kebiasaan buruk suatu masyarakat dunia, seperti penyalah-gunaan obat-obatan terlarang, alat kontrasepsi, minuman keras dan pergaulan bebas akan berdampak negatif terhadap masyarakat Indonesia.


B. Ciri-ciri Modernisme

Ditinjau dari aspek sejarah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengantarkan manusia menuju zaman modern dan era globalisasi pada saat sekarang ini, bermula dari revolusi ilmu pengetahuan pada akhir abad XV Masehi, yang ditandai oleh kemenangan rasionalisme[1] dan empirisme[2] terhadap dogmatisme agama di Barat.[3] Perpaduan antara rasionalisme dan empirisme dalam satu paket epistemologi, telah melahirkan apa yang disebut dengan metode ilmiah. Dengan metode ilmiah, kebenaran pengetahuan hanya diukur dengan kebenaran koherensi dan korespondensi. Suatu pengetahuan baru diakui kebenarannya secara ilmiah jika secara logika bersifat koheren (runtut) dengan kebenaran sebelumnya dan didukung oleh fakta empirik (koresponden).[4]

Kepercayaan yang terlalu berlebih-lebihan terhadap rasionalisme dan empirisme sebagai metode ilmiah yang diakui kebenarannya, menyebabkan masyarakat Barat kurang apresiatif terhadap pengetahuan yang berada di luar lingkup pengujian metode ilmiah, termasuk di dalamnya pengetahuan dan nilai-nilai religius.[5] Inilah ciri-ciri modernisme, yaitu memisahkan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang bersumber dari nilai-nilai religius. Hal ini dapat dimengerti karena sejak awal kelahirannya, modernisme memang merupakan suatu bentuk “pembangkangan” terhadap tradisi Kristen yang mengungkung pemikiran manusia. Sebagaimana dikatakan oleh Arnold Toynbee, bahwa modernisme semula muncul di Barat ketika mereka berterima kasih bukan kepada Tuhan, melainkan kepada diri mereka sendiri karena mereka telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen Abad Pertengahan.[6]


C. Problematika Masyarakat Modern

Akibat dari penggunaan akal yang terlalu berlebihan dengan mengesampingkan dimensi spiritual dan nilai-nilai keagamaan, maka kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menimbulkan persoalan serius bagi kehidupan manusia di zaman modern. Di antara problematika yang dihadapi oleh masyarakat modern adalah:

Pertama, hilangnya orientasi hidup yang bermakna serta pegangan moral yang kokoh. Pada umumnya, masyarakat industri maju (modern) tidak tahu lagi, untuk apa mereka dihidupkan, sebagaimana mereka juga tidak tahu bahwa sesudah mati mereka akan dibangkitkan kembali untuk dimintai pertanggung-jawaban dan menerima balasan dari amal perbuatan mereka di alam dunia. Mereka tidak lagi mengenal Allah SWT sebagaimana mereka juga tidak mau tahu tentang ajaran-ajaran agama yang mengatur kehidupan mereka. Tujuan hidup mereka hanya terbatas pada pencapaian sasaran-sasaran yang bersifat material dan duniawi.  Oleh karena itu, yang terpenting bagi mereka adalah bekerja, mencari uang, dan bersenang-senang. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur, yang ada dalam benak mereka adalah bekerja dan mencari uang, tidak peduli apakah pekerjaan tersebut halal atau haram. Sesudah itu mereka mencari kesenangan-kesenangan untuk memperturutkan hawa nafsunya dengan berjudi, mengunjungi diskotik, bar, night club, mengkonsumsi minuman keras, berzina dan sebagainya. Dalam kadar tertentu, hal ini telah berkembang di tengah-tengah masyarakat kita. 

Kedua, terjadinya pergeseran tata nilai, dari tatanan kehidupan yang bertumpu pada nilai-nilai spiritual beralih pada pola hidup materialistik, hedonistik, bahkan sekularistik. Hasil penelitian tentang kehidupan masyarakat industri Barat telah menggoreskan catatan-catatan yang antara lain adalah sebagai berikut, “Proyek-proyek industri selalu menghasilkan kemudahan-kemudahan dan kenikmatan-kenikmatan. Akan tetapi manusia harus menempatkan diri sebagai bagian dari mesin yang didesain secara rasional menurut hukum fisika. Mereka lebih banyak bergaul dengan mesin-mesin. Dalam pekerjaan seperti ini mereka merasa tidak memerlukan agama sehingga menjadi agnostic, bahkan ateistic. Konsekwensinya, pandangan hidup mereka menjadi sekuler”.[7]

Pergeseran tata nilai sebagaimana yang dialami masyarakat industri Barat tersebut, kini mulai terasa pada sebagian masyarakat Indonesia. Di antaranya, tercermin pada hal-hal sebagai berikut :

  1. Semakin berkembangnya pandangan dan orientasi hidup materialistik. Akibatnya, terjadilah pergeseran tata nilai dari semangat mementingkan kepuasaan rohani yang berjangka panjang kepada kepuasan hedonistik sesaat. Untuk memenuhi nafsunya terhadap materi, sebagian bangsa Indonesia tidak segan-segan melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
  2. Semakin mencairnya nilai-nilai agama, kaidah-kaidah sosial dan susila. Dewasa ini, semakin banyak manusia yang tidak lagi merasa takut berbuat dosa dan melanggar hukum sehingga dengan enteng melakukan pembunuhan dan perkosaan, penodongan dan penjambretan, pencurian dan perampokan, perjudian dan mabuk-mabukan, perkelahian antar pelajar, tawuran antar warga masyarakat dan sebagainya. Mereka juga tidak merasa malu melakukan perbuatan zina, kumpul kebo (free sex), menenggak ektasi, menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan berbagai perbuatan maksiat lainnya. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, mereka merasa bangga dalam melakukan berbagai perbuatan maksiat tersebut. Akibatnya, banyak di antara anak-anak kita yang menjadi korban narkoba dan melakukan praktek aborsi[8] serta tidak sedikit di antara mereka yang terserang virus HIV/AIDS.
  3. Semakin berkembangnya sikap permissif pada sebagian masyarakat, terutama masyarakat kota. Akibatnya, mereka tidak mau perduli terhadap berbagai pelanggaran hukum agama dan norma-norma susila yang terjadi di tengah-tengah masyarakat modern.
  4. Timbulnya kecenderung sebagian masyarakat, terutama masyarakat kota untuk bersikap individualis bahkan egois, karena dengan alat-alat elektronik mereka merasa bisa hidup tanpa bantuan orang lain.   

Ketiga, timbulnya perasaan terasing (alienasi), frustasi, dan kehampaan eksistensi. Akibat dari hilangnya orientasi hidup yang bermakna dan hanya diarahkan pada dunia materi, maka manusia modern banyak mengalami keterasingan diri (self alienation), frustasi, dan kehampaan eksistensi.[9] Sebagaimana dikatakan oleh Alvin Toffler, bahwa di antara gejala-gejala negatif yang muncul di kalangan masyarakat industri maju (modern) adalah, timbulnya rasa kesepian, hilangnya struktur masyarakat yang kukuh, dan ambruknya makna yang berlaku.[10] Pengertian alienasi sebagaimana dijelaskan oleh seorang psikoanalisis terkenal, Eric Fromm adalah sebagai berikut “Alienasi yang kita temukan dalam masyarakat modern adalah hampir total; ia meliputi hubungan manusia dengan pekerjaannya, ke benda-benda yang ia komsumsi, ke negara, ke sesamanya, dan ke dirinya sendiri. Manusia telah menciptakan suatu dunia dari barang-barang buatan manusia yang tidak pernah ada sebelumnya. Ia telah membangun permesinan sosial yang ruwet untuk mengatur permesinan teknis yang ia bangun. Namun seluruh kreasinya itu tegak di atas dan mengatasi dirinya sendiri. Semakin kuat dan besar kekuatan yang ia lepaskan, semakin ia merasa dirinya tak berdaya sebagai manusia. Ia menghadapi dirinya sendiri dengan kekuatan dirinya yang dikandung dalam benda-benda yang ia ciptakan, yang terasing dari dirinya sendiri. Ia telah dikuasi oleh kreasinya sendiri, dan telah kehilangan kekuasaan terhadap dirinya sendiri. Ia telah membuat sebuah  patung anak sapi emas dan berkata”inilah dewamu yang membawa kamu keluar dari Mesir”.[11]

Alienasi yang menimpa masyarakat modern telah menimbulkan rasa kesepian yang mencekam sehingga mereka merindukan perkawanan yang akrab dan hangat serta mendambakan suatu penjelasan tentang apa dan kemana hidup ini. Dalam keadaan demikian, mereka sangat mendambakan persahabatan dan kehidupan komunal. Maka orang-orang modern yang merasa kesepian mulai tertarik kepada kultus-kultus, yaitu bentuk bentuk gerakan spiritual (dan keagamaan) yang menawarkan persahabatan dan kehidupan komunal. Kehangatan dan perhatian yang tiba-tiba ini sedemikian kuatnya memberi rasa kebaikan sehingga anggota-anggota kultus sering bersedia untuk memutuskan hubungan dari keluarga dan teman-teman lama mereka, untuk mendermakan penghasilannya kepada kultus. Kadang-kadang mereka menerima narkotika dan bahkan seks sebagai imbalannya. Seperti yang dilakukan oleh sekte Children of God beberapa waktu lalu yang melakukan pesta seks di antara sesama anggota.

Kultus bukan sekedar perkumpulan. Karena ia juga menawarkan struktur yang banyak dibutuhkan di samping menyodorkan ketentuan-ketentuan yang ketat pada tingkah laku. Mereka menuntut dan menciptakan disiplin yang sangat kuat, pengorganisasian yang ketat, absolutistik, dan dengan sendirinya kurang toleran kepada kelompok lain. Bahkan sebagian nampaknya bertindak begitu jauh sehingga memaksakan disiplin melalui penyiksaan, kerja paksa, dan bentuk-bentuk kurungan serta penjara yang mereka buat untuk diri mereka sendiri. Bahkan lebih dari itu, tidak jarang mereka melakukan bunuh diri bersama seperti yang dilakukan oleh sekitar 235 orang anggota sekte pemujaan Hari Kiamat (sekte Pemulihan 10 Perintah Tuhan) di bawah pimpinan Joseph Kibwetere di sebuah Gereja di Kanungu, distrik Rukingire yang terletak sekitar 320 kilometer Baratdaya Kempala Ibukota Negata Uganda pada hari Jum’at 17 Maret 2000 dengan cara melakukan bakar diri. Pimpinan sekte ini menyatakan, bahwa dunia akan berakhir pada 31 Desember 1999 tapi akhirnya mengubah ajarannya menjadi akhir tahun 2000. Sebelum melakukan bakar diri, para anggota sekte pemujaan ini menjual seluruh harta bendanya di pusat perdagangan Kanungu sebagai persiapan kematian mereka.[12]

Kultus biasanya berpusat pada ketokohan seorang pribadi yang menarik, berdaya pikat retorik yang memukau, dan dengan sederhana namun penuh keteguhan, menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan. Contoh yang paling sering disebut untuk gerakan kultus adalah Unification Church, Divine Light Mission, Hare Krishna, The Way, People’s Temple, Yahweh ben Yahweh, New Age, Aryan Nation, Christian Identity, The Order, Scientology, Jehovah Witnesses, Children of God, Gerakan Bhagwan Shri Rajneesh dan lain-lain. Semuanya di Amerika, namun hal serupa dan yang analog dengan itu juga muncul dimana-mana, termasuk akhir-akhir ini di negeri kita.[13] Di antaranya adalah berkembangnya Organisasi Usrah, Daarul Arqam dan terutama Islam Jamaah yang berubah menjadi Lemkari dan kini telah berubah menjadi Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII).

Keempat, terjadinya perubahan sosial yang sangat drastis di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut:

  1. Meningkatnya kebutuhan hidup. Kalau pada masyarakat agraris tradisional, manusia sudah merasa cukup apabila telah tercukupi kebutuhan primernya, seperti sandang, pangan dan papan (perumahan) secara sederhana, maka pada masyarakat modern, kebutuhan primer tersebut berubah menjadi suatu prestise yang bersifat sekunder. Akibatnya, kehidupan orang-orang modern selalu dikejar-kejar waktu untuk mengejar materi dan prestise. Segala upaya akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya tadi, sehingga terkadang harus melanggar norma-norma agama dan susila, seperti korupsi, kolusi dan manipulasi meskipun harus mengorbankan orang lain. Semua ini akan membawa mereka kepada hidup seperti mesin yang tidak mengenal istirahat. Akibat lebih lanjut adalah timbulnya kegelisahan (anxiety) yang tidak jelas ujung pangkalnya sehingga menghilangkan rasa bahagia dalam hidup.
  2. Timbulnya rasa individualis dan egois. Karena kebutuhan sekunder meningkat, maka berkembanglah rasa asing dan terlepas dari ikatan sosial. Manusia lebih memikirkan diri sendiri dari pada orang lain. Urusan orang lain tidak lagi menjadi perhatiannya sehingga mereka akan merasa kesepian dalam hidup ini. Semua hubungan dengan orang lain, didasarkan pada kepentingan, bahkan motif profit (motif keuntungan), bukan hubungan persaudaraan yang didasarkan pada rasa kasih sayang dan saling mencintai. Seperti hubungan bawahan dengan atasan, dokter dengan pasien, buruh dengan majikan, dosen dengan mahasiswa.
  3. Persaingan dalam hidup. Berangkat dari adanya kebutuhan yang meningkat, yang membawa manusia modern kepada hidup yang mementingkan diri sendiri, maka terjadilah persaingan dalam hidup. Persaingan itu didorong oleh prestise yang tinggi sehingga terjadilah hal-hal yang tidak sehat, seperti memfitnah orang lain, menjatuhkan teman atau menyengsarakannya, bahkan menjerumuskannya ke penjara dan membunuhnya semata-mata untuk meraih keuntungan pribadi. Akibatnya, kehidupan sosial menjadi berantakan, dan persahabatan berubah menjadi permusuhan.[14]

BERSAMBUNG…


[1] Rasionalisme adalah suatu metodologi ilmiah yang terlalu mengutamakan rasio atau akal. Metode ini dikembangkan oleh Rene Descartes (1596 – 1650 ) dari Perancis, dan John Locke (1632 – 1704) dari Inggris.

[2] Empirisme adalah suatu metodologi ilmiah yang mendasarkan pada pengalaman dengan cara melakukan percobaan-percobaan (experiment) secara obyektif dan berulang-ulang serta akhirnya menghasilkan kesimpulan yang sama walaupun dilakukan oleh berbagai orang. Kebanyakan orang Barat mengklaim bahwa empirisme sebagai suatu metodologi ilmiah berasal dari Roger Bacon (1214 – 1294) dan Francis Bacon (1561 – 1627), keduanya dari Inggris. Akan tetapi Prof. J.W. Draper, Ph. D., M.D., Ll.D. dalam bukunya “History of the Conflict between Religion and Science” 6th printing, London 1866, dan Robert Brifault dalam bukunya “The Making of Humanity”, London, 1919 esp. h. 202 mengungkapkan, bahwa Roger Bacon  dan Francis Bacon, keduanya telah melakukan plagiat.

[3]F.B. Burnham, “Postmodern Theology”, Harper & Row Publisher, 1989, h. ix.

[4]Jujun S. Surissumantri, “Ilmu Dalam Perspektif”, PT. Gramedia, Jakarta, 1983, h. 10.

[5] T.G. Masaryk, “Modern Man and Religion”, Westport, Connecticut: Green Wood Press Publisher, 1970, h. 55.

[6] Arnold Toynbee, “A Study of History”, Oxford University Press, Oxford, 1957, h. 148.

[7]Drs. H. Kafrawi Ridwan, MA. “Metode Dakwah Pada Masyarakat Industri”,  

[8] Menurut Laporan Majalah Editor, edisi 1 Juni 1991, di Jakarta setiap tahun terjadi 5000 kasus aborsi.

[9] Allen E. Bergin, “Psikoterapi dan Nilai-nilai Religius”, dalam ‘Ulum al-Qur’an, 1994, No. 4, Volume V. h. 5

[10] Alvin Toffler, “The Third Wave”, Bantam Books, New York, 1990, h. 374.

[11] Eric Fromm, “The Sane Society”, Holt, Reinehart and Winston, New York, 1964, h. 124-125.

[12] Harian Umum Republika, Senin, 20 Maret 2000/14 Dzul Hijjah 1420, h. 1

[13] Dr. Nurcholish Madjid, “Islam Agama Kemanusiaan”, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, 1995, h. 128.

[14] Zakiah Darajat, “Peranan Agama dalam Kesehatan Mental”, Gunung Agung, Jakarta, 1992, h. 10 – 14. 

Artikel

Konsep pemahaman Isyraqiyah Tasawuf Irfani Syekh Syuhrawardi al-Maqtul

Published

on

Suhrawardi Al-Maqtul lahir pada tahun 548 H/1153 M di Suhraward (Iran Barat Laut). Suhrawardi dikenal dengan Syekh al-Isyraq atau Master of Illuminasionist (Bapak Pencerahan), Al-Hakim (Sang Bijak) dan Al-Maqtul (Yang Terbunuh).

Suhrawardi mendapat pendidikan awal dari Majd al-Din al-Jilli di Maraghah, di sini ia mempelajari ilmu kalam dan filsafat. Setelah itu, ia memperdalam kajian filsafat kepada Fakhruddin al-Mardini di Isfahan di mana Suhrawardi menjadi teman sekelas Fakhriddun al-Razi.

Selanjutnya Suhrawardi belajar pada Zhahir al-Din al-Qari al-Farsi, seorang ahli logika yang meperkenalkan kepadanya kitab al-Bashair al- Nashiriyah karangan umar Ibn Sahlan al-Sawi, yang juga dikenal sebagai komentator Risalah al-Thair karangan Ibn Sina.

Dalam diri Suhrawardi terhimpun dua keahlian yaitu dalam bidang filsafat dan tasawuf. Oleh karena itu, kecerdasan dan ketinggian pengetahuan Suhrawardi mampu menarik perhatian banyak orang. Sehingga sanggup mengalahkan pakar dan ulama pada masa itu, di lain pihak terdapatnya kecemburuan dan merasa terancamnnya para ulama dan fuqaha dengan kehadiran Suhrawardi.

Suhrawardi pernah diundang oleh Malik Az-Zahir seorang penguasa Ayyubid (Aleppo), penguasa tersebut sangat suka kepada para sufi dan cendekiawan. Tetapi hakim-hakim agama yang takut kepada filsuf-mistik yang muda dan pandai itu akhirnya membujuk raja, dengan bantuan ayahnya Saladin-pahlawan perang salib untuk memenjarakan Suhrawardi.

Seorang hakim terkenal bernama Qadhi Al-Fadhil mengirimkan surat kepada Saladin dan menuntut agar Suhrawardi dieksekusi dan dijebloskan ke dalam penjara. Suhrawardi meninggal dalam penjara berusia 38 tahun.

Adapun penyebab langsung kematiannya di penjara masih merupakan misteri yang belum terjawab hingga kini.Suhrawardi adalah seorang pemikir yang produktif. Dalam kehidupannya yang terbilang cukup singkat, Suhrawardi menulis hampir 50 karya baik dalam bahasa Arab mau pun Persia. Karya-karyanya ditulis dalam gaya yang indah dan bernilai sastra tinggi. Karya-karya Suhrawardi yang membentuk filsafat isyraqi terutama tersusun dalam Hikmah al-Isyraq.

Filsafat Isyraqi

Pemikiran filsafat Suhrawardi yang paling terkenal adalah Hikmatul Isyraq atau filsafat iluminasi. Syekh Prof. Muhammad Rajab Ali Al-Hasani dalam Muqaddimah kitab Syawakil Hurr fi Syarh Haykal Nur menjelaskan,

والإشراق في اللغة: الإضاءة والإنارة، يقال: “أشرقت الشمس” طلعت واضاءت، و”اشرق وجهه” : أي أضاء

“Isyraq secara bahasa berarti penerangan dan pencahayaan. Dikatakan, ‘Matahari bersinar,’ terbit dan bersinar, dan ‘wajahnya bersinar’ artinya bersinar.

وفي اصطلاح الحكماء هو ظهور الأنوار العقلية ولمعانها وفيضانها على الانفس الكاملة عند التجرد عن المواد الجسمنة

“Secara istilah, hikmah adalah penampakan cahaya akal, kecemerlangannya dan luapannya ke dalam jiwa yang sempurna ketika substansi jasmani dilucuti.”

Istilah Isyraq yang berarti penyinaran di sini berhubungan dengan simbol dari matahari yang selalu terbit di timur dan memberikan sinarnya berwujud cahaya ke seluruh alam. Cahaya merupakan simbol pengetahuan atau simbul spiritual dan simbol sesuatu yang immateri.

Filsafat Suhrawardi berbeda dari filsafat yang telah ada sebelumnya. Filsafat sebelumnya lebih banyak bertumpu pada peran rasio. Sedangkan filsafat Suhrawardi menggabungkan antara peran rasio dengan intuisi (Dzauqi). Dengan kata lain, filsafatnya Suhrawardi adalah filsafat yang dipadukan dengan tasawuf. Hal ini tidak mengherankan, karena Suhrawardi adalah seorang filsuf dan sekaligus seorang sufi. Dalam mazhab Isyraqi Suhrawardi mencoba menggabungkan cara nalar dan cara intuisi, menganggap keduanya saling melengkapi.

Menurut Suhrawardi seseorang yang telah menggabungkan daya intelektual (rasional) dan daya intuisi, sehingga orang tersebut memperoleh pengetahuan maka orang tersebut dapat dikatakan sebagai insan kamil, dan memiliki kedudukan sebagai khalifah Allah Swt.

Suhrawardi mulai memaparkan konsepsinya tentang keesaan Tuhan. Dia menjelaskan bahwa tuhan adalah cahaya atas cahaya, kemudian dari itu terjadilah penyinaran yang mengakibatkan sumber-sumber cahaya yang lain. Adanya penyinaran itu selanjutnya mewujudkan sendi-sendi alam materi dan ruhani. Alam secara keseluruhan muncul karena sinar Allah dan limpah-Nya.

Proses Isyraqi menurut Suhrawardi dimulai dari Nur al-Anwar, (cahaya segala cahaya). Nur al-Anwar menurutnya merupakan sumber bagi segala cahaya yang ada. Ia Maha Sempurna, Mandiri, Esa dan tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya.

Nur al-Anwar ini hanya memancarkan sebuah cahaya yang disebut dengan Nur al-Aqrab (cahaya terdekat) dan ia merupakan cahaya pertama. Nur al-Aqrab sebagai cahaya pertama memancarkan cahaya kedua, cahaya kedua memancarkan cahaya ketiga, cahaya ketiga memancarkan cahaya keempat, begitu seterusnya hingga mencapai cahaya yang jumlahnya sangat banyak.

Pada setiap tingkatan penyinaran setiap cahaya menerima pancaran langsung dari Nur al-Anwar dan tiap-tiap cahaya meneruskan cahayanya ke masing- masing cahaya. Yang berada di bawah selalu menerima pancaran dari Nur al-Anwar secara langsung dan pancaran dari semua cahaya yang berada di atasnya.

Dengan demikian, semakin ke bawah tingkat suatu cahaya semakin banyak pula ia menerima cahaya. Demikian secara ringkasnya proses Iluminasi dalam filsafat Suhrawardi. 

Kesimpulan dari proses filsafat Isyraq Suhrawardi adalah setiap Nur (cahaya) yang berada di bawah merupakan penerima pancaran Nur sebanya dua kali dari jumlah pancaran yang diberikan oleh cahaya yang berada setingkat di atasnya.

Kesimpulan tersebut berdasarkan argumentasi berikut yaitu cahaya kesatu (Nur al- Aqrab) memperoleh satu kali pancaran, cahaya kedua memperoleh dua kali pancaran, cahaya ketiga memperoleh empat kali pancaran, cahaya keempat memperoleh delapan kali pancaran, cahaya kelima memperoleh cahaya enam belas kali pancaran, dan seterusnya.

Filsafat Isyraqi Suhrawardi juga menggunakan susunan alam (kosmos) pada tiap tingkatan cahaya yang terpancar dari Nur al-Anwar, seperti yang digunakan dalam filsafat Al-Arabi dan Ibnu Sina pada teori emanasi.

Suhrawardi menyebut manusia sebagai alam kecil yang terdiri dari ruh dan jasad, sehingga ruh termasuk dalam kategori alam cahaya dan jasad termasuk dalam kategori alam kegelapan.

Agar manusia selalu berada di dalam cahaya dan dapat memantulkan cahaya tersebut ke seluruh penjuru alam, manusia harus  menguasai kehidupan ruhaninya sehingga jasmani tunduk dengan kata lain kehidupan cahaya harus selalu menguasai dan mengalahkan kegelapan.

Continue Reading

Artikel

Syekh Jahid Sidek: Kaidah Kesufian dalam Menanamkan Kedamaian Hidup (3)

Published

on

Terbentuk Hati yang Mutmainnah.

Allah berfirman dalam Surat Ar-Ra’d ayat 27-28,

قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَنۡ أَنَابَ

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ  

“Katakanlah (Muhammad), sesugguhnya Allah akan menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberi petunjuk kepada orang yang kembali (taubat zahir batin) kepada-Nya. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang sebab zikir kepada Allah. Ingatlah, (hanya) dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”.

Dari ayat di atas terdapat empat syarat untuk mendapat hidayat yang khusus, yaitu sentiasa bertaubat dari semua dosa hingga taubatnya meningkat ke tingkat inabah, kuatkan iman, beramal salih dan terus berzikrullah. Dengan kaidah ini, hati akan mutmainnah.

Akhirnya Sampai Kepada Allah

Bila hati sudah mencapai tingkat mutmainnah, maka Allah akan karuniakan hidayah yang khusus seperti yang Allah sebutkan dalam Surat Al-Fajr ayat 27-30,

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ

ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ

 فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي

وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي

“Wahai hati yang tenang (mutmainnah), kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridla dan diridlai. Masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu ke dalam surge-Ku”.

Allah akan memberikan karunia pada hati yang mutmainnah berupa,

Pertama, hati, ruh atau nafs mereka akan diberikan karurnia berupa mengenal Allah sebagaimana sebelum ia masuk ke jasad, di mana ketika itu ruh manusia telah bermusyahadah kepada Allah, seperti yang disebutkan dalam Surat Al-A’raf ayat 172,

أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ

“Tidakkah Aku ini Tuhan kamu? Mereka (ruh-ruh manusia) menjawab, ‘benar, kami bersaksi’.”

Dengan itu, apabila hati telah benar-benar mutmainnah, maka Allah akan singkap berbagai hijab, sehingga hati manusia dapat musyahadah terhadap wujud Allah. Inilah antara hakikat dan makrifah Allah yang Allah sampaikan secara ladduni atau secara mukasyafah.

Kedua, Allah karuniakan kepada orang tersebut maqam ridla dan diridlai Allah.

Ketiga, orang tersebut akan menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Ini berarti orang tersebut telah menjadi seorang muhsin, ulul-albab yang apabila beramal dapat berbuat dengan sebaik-baiknya, seperti yang Allah sebut dalam Surat Az-Zumar ayat 17-18,

وَالَّذِيۡنَ اجۡتَنَـبُـوا الطَّاغُوۡتَ اَنۡ يَّعۡبُدُوۡهَا وَاَنَابُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ لَهُمُ الۡبُشۡرٰى​ ۚ فَبَشِّرۡ عِبَادِ ۙ‏

ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Dan orang-orang yang menjauhi Tagut (yaitu) tidak menyembahnya1 dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira; sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku. (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.1 Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Keempat, mereka akan mendapat nikmat terbaik di dunia, yaitu hati atau ruh mereka dapat bermusyahadah kepada Allah. Menurut sebagian ahli sufi, yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, “Masuklah ke surga-Ku”, itu ialah jannatul `ajilah atau surga di dunia, berupa kebahagiaan yang didapatkan ketika hati berada dalam keadaan musyahadah. Adapun surga yang kedua ialah aajilah, yaitu surga yang akan datang di akhirat berupa melihat Zat Allah Swt.

Salik sampai kepada Allah

Sampai kepada Allah adalah berhasil mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Yaitu ketika Allah limpahkan makrifah ke dalam hati hamba-Nya yang dikasihi. Makrifah merupakan tingkatan tertinggi yang di bawahnya adalah kepahaman (al-Fahm) dan pengetahuan (al-‘Ilm).

Al-Ilm berada di posisi paling bawah. Orang yang berilmu disebut sebagai alim. Sedankan Al-Fahm kedudukannya lebih tinggi dari ilmu. Orang yang memiliki kepahaman disebut al-fahim. Setiap orang yang fahim dia alim. Sebaliknya tidak semua orang yang alim, dia fahim.

Kedudukan tertinggi ialah makrifah. Orang yang dikaruniai Allah makrifah disebut ‘arif, atau lebih lengkap ‘arifbillah.

Ilmu dan faham termasuk dalam perkara yang diusahakan oleh hamba. Sebab itu ilmu dan kepahaman disebut sebagai ilmu kasbi jamaknya al-ulum al-kasbiyyah. Sebaliknya makrifah adalah perkara wahbi. Oleh sebab itu makrifah masuk dalam al-ulum al-wahbiyyah ataukadang disebut al-ulum al-mukasyafah atau al-ulum al-zawqiyyah.

Dengan makrifah seorang mukmin meningkat ke tingkat ihsan dan menjadi seorang muhsin.

Sabda Rasulullah saw.

الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

“Ihsan ialah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah melihatmu.”

Menurut pandangan Syekh Ibnu Rajab Al-Hambali (w.795H) dalam kitabnya Jami’ al-Ulum wal Hikam, bahwa ketika seseorang mukmin sampai ke tingkat ihsan tersebut, Allah akan limpahkan ke dalam ruang hatinya makrifah. Selanjutnya beliau menegaskan tingkatan ihsan berdasarkan kepada hadis tersebut yang terbagi menjadi dua tahap.

Tahap pertama ialah ketika seseorang berada dalam keadaan  أن تعبد الله كأنك تراه, Allah limpahkan dalam ruang hatinya makrifah. Bagaimanapun, disebabkan karena orang tersebut berada dalam keadaan fana’fillah maka sifat kehambaannya tidak sempurna. Sehingga orang itu disebut sebagai al‘Arif an-Naqis.

Sedangkan apabila orang tersebut sampai ke tahap ke dua فإن لم تكن تراه فإنه يراك , maka Allah telah mengeluarkannya dari fana’ kepada baqa’billah. Sehingga, sifat kehambaan orang tersebut menjadi sempurna. Oleh sebab itu menurut Syekh Ibnu Rajab al-Hambali, orang itu disebut sebagai al-‘Arif al-Kamil.

Iman salik sampai ke tingkat hakikat

Orang mukmin yang telah diberikan oleh Allah makrifah sampai ke tingkat ihsan sebagaimana yang telah diterangkan di atas, merupakan golongan mukmin yang disebut oleh Allah dalam Surat Al-Anfal ayat 2-4,

اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِيۡنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتۡ قُلُوۡبُهُمۡ وَاِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتُهٗ زَادَتۡهُمۡ اِيۡمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُوۡنَ

الَّذِيۡنَ يُقِيۡمُوۡنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقۡنٰهُمۡ يُنۡفِقُوۡنَؕ‏ 

اُولٰۤٮِٕكَ هُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ حَقًّا لَهُمۡ دَرَجٰتٌ عِنۡدَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٌ وَّرِزۡقٌ كَرِيۡمٌ​‏

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”

Makrifah Meningkatkan Iman ke Tingkat Yakin

Ketika Nabi Ibrahim dianugerahi Makrifah oleh Allah, kedudukan imannya meningkat pada yakin. Kemudian berubah kembali dari mukmin menjadi muqin, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Anam ayat 75,

وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ

“Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.”

Dengan makrifah seorang mukmin akan mencapai sifat siddiq, yaitu benar keimanannya terhadap Allah. Dan dengan sifat siddiq, tercapailah hakikat tauhid yaitu mengesakan Allah dari segi Uluhiyyah dan Rububiyyah-Nya. Dengan tercapainya hakikat tauhid tersebut, maka tercapailah sifat hati yang ikhlas. Dengan hati yang ikhlas, maka sempurnalah sifat kehambaannya terhadap Allah yang mendorong untuk sentiasa bertaqwa dan bertawakal kepada Allah, seperti yang Allah sebut dalam Surat At-Talaq 2-3,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُ ۥ مَخۡرَجً۬ا

وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمۡرِهِۦ‌ۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدۡرً۬ا

“Dan siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah jadikan untuknya jalan keluar. Dan Allah senantiasa memberi rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan siapa yang bertawakal kepada Allah maka cukuplah Allah menjadi jaminannya. Sesungguhnya Allah sangat tegas dalam perintah-Nya dan Dialah yang mentakdirkan segala sesuatu.”

Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 56,

إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada golongan muhsinin”.

Dengan ini maka terbentuklah seorang manusia yang sempurna sifat kehambaannya, ilmunya, amalannya dan berhasil membina hidup yang damai harmoni dan jauh dari berbagai sifat buruk zahir dan batin.

Penulis: Syekh Dr. H. Jahid Bin H. Sidek (Mantan Professor Madya University of Malaya dan Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Syekh Jahid Sidek: Kaidah Kesufian dalam Menanamkan Kedamaian Hidup (2)

Published

on

Menyadarkan Akal dan Menghidupkan Hati 

Setiap manusia dibekali akal dan hati. Akal fungsinya menerima kebenaran yang rasional atau yang munasabah (sesuai dengan akal). Karena biasanya, ada kebenaran agama yang akan sulit diterima oleh akal. Sedangkan hati fungsinya lebih besar dan canggih. Hati bisa menerima banyak perkara yang akal tidak mampu menerimanya. Sesuai dengan kedua posisinya masing-masing, maka Allah menyediakan dua ilmu, pertama ilmu yang sesuai pada akal dan yang kedua ilmu yang sesuai pada hati.

Rasulullah s.a.w bersabda:

العلم علمان علم ثابت في القلب فذاك علم نافع وعلم في السان فذاك حجة الله على عباده

“Ilmu itu (ilmu Islam) ada dua; Pertama ilmu yang tetap dalam hati, itulah ilmu nafi’. Sedangkan ilmu lainnya ada pada lisan (pada akal). Ilmu inilah yang digunakan oleh Allah di akhirat nanti untuk menentukan nasib hambanya (jika baik dimasukkan ke dalam surga, jika buruk dimasukkan ke dalam neraka).”

Akal dan hati jika telah dikuasai oleh nafsu dan syaitan, tidak dapat berfungsi, sehingga mereka digambarkan oleh Allah sebagai orang yang buta, tuli dan bisu. Lebih jauh lagi keadaan mereka sudah menjadi lebih buruk daripada binatang ternak. Tegasnya, akal mereka lalai dan hati mereka telah mati. Kedua-duanya perlu disadarkan dan dihidupkan.

Akal yang lalai perlu disadarkan dengan memberikan pelajaran dan pendidikan ilmu, serta memberikan pemahaman yang sesuai dengan tahap pemikiran. Bukan hanya ilmu agama, tapi ilmu apapun yang dapat mengisi ruang akal mereka dan menyadarkan mereka.

Adapun hati yang mati, keras, berpenyakit, buta dan lain sebagainya, menurut pandangan ulama tasawuf hendaklah dibersihkan dan dihidupkan kembali. Dalam konteks ini, seseorang membutuhkan mentor yang mempunyai sifat-sifat taqwa dan tawakal yang sempurna. Agar berhasil mempercepatkan kesadaran akal dan hidupnya hati. Pada posisi ini, mentor akan berusaha bersungguh-sungguh membantu mantee untuk menghidupkan hati. Sedangkan keberhasilan dari usaha tersebut, dikembalikan kepada Allah Swt.

Allah berfirman dalam Surat Al-Anam ayat 122,

أَوَ مَن كَانَ مَيۡتٗا فَأَحۡيَيۡنَٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورٗا يَمۡشِي بِهِۦ فِي ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡكَٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”

Walaupun Allah yang menghidupkan hati, namun ikhtiar yang tepat dan sesuai juga harus dilakukan. Antara usaha yang perlu kita lakukan dalam strategi menghidupkan hati ialah penekanan amalan zikir dan tafakkur yang bersungguh-sungguh. Menurut Ibnu Athaillah, apabila seseorang terus berzikir dan bertafakkur, maka keadaan hatinya akan diubah oleh Allah, dari ghaflah (lalai) kepada yaqazah (sadar), dan akan naik ke derajat hudlur, di mana hati telah tenggelam dalam mengingat Allah. Dan Akhirnya, hati hanya fokus pada Allah saja. Inilah makna hati menjadi hidup dan bercahaya seperti yang disebut dalam Surat Al-Anam ayat 122 di atas.

Empat Tahap Zikrullah

Zikrullah dan tafakkur yang konsisten akan mengubah keadaan hati orang yang berzikir dari satu tahap ke satu tahap yang lebih baik. Menurut Ibnu Athaillah, zikrullah ada empat tahap yang dijelaskan dalam Kitab Hikam,

تترك الذكر لعدم حضورك مع الله فيه لان غفلتك مع غير ذكره أشد عليك من غفلتك في ذكره فعسى أن يرفعك من ذكر مع غفلة إلى ذكر مع يقظة ومن ذكر مع يقظة إلى ذكر مع حضور ومن ذكر حضور إلى ذكر مع الغيبة عما سوى المذكور

“Janganlah kamu tinggalkan zikir disebabkan kamu tidak dapat benar-benar ingat Allah dalam zikir tersebut. Karena kelalaianmu ketika tidak berzikir itu lebih buruk daripada lalaimu ketika berzikir. Mudah-mudahan Allah meningkatkan zikirmu dari zikir ghaflah kepada zikir yaqazah, dari zikir yaqazah kepada zikir khudur, dari zikir khudur kepada zikir ghaibah.” (Ahmad bin Muhammad Ibn ‘Ajibah, Iqaz al-Himam, (Beirut, Dar al-Fikr: t.t) Jld. I, H. 79)

Zikrullah dan tafakkur yang terus-menerus, merupakan perbuatan yang dilakukan oleh golongan orang-orang yang ulil-albab,

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) rang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka’.” (QS. Ali Imran: 190-191).

Dalam hikmah di atas, Ibnu Athaillah mengkategorikan zikrullah kepada empat tahap, yaitu zikir ghaflah, zikir yaqazah, zikir khudur dan zikir ghaibah. Tingkatan tersebut dapat dipahami melalui skema berikut,

Realita yang berlaku dalam setiap tahap zikir tersebut secara umum dipimpin oleh seorang syekh atau mursyid yang dikaruniakan oleh Allah untuk membantu menghidupkan hati murid yang berzikir sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam Surat Al-Anam ayat 122 di atas.  

Ibnu Athaillah juga telah membongkarkan rahasia yang terkandung pada setiap tahap zikrullah tersebut. Antara lain beliau menegaskan bahwa Allah akan melimpahkan nur yang berbeda dalam setiap tahapnya,

1. Warid al-Intibah/Nur al-Intibah (وارد الانتباه \ نور الانتباه)

اورد عليك الوارد لتكون به عليه واردا

“Allah limpahkan ke dalam hatimu  ‘Nur Intibah’, supaya dengan nur tersebut hatimu sentiasa menerima limpahan nur-Nya”.

2. Warid al-Iqbal/Nur al-Iqbal (وارد الاقبال \ نور الاقبال)

اورد عليك الوارد ليتسلمك من يد الأغيار ويحررك من رق الأثار

“Allah limpahkan ke dalam hatimu ‘Nur Iqbal’, supaya dengan nur tersebut dapat menyelamatkan hatimu dari pengaruh makhluk dan memerdekakan hatimu dari diperhamba oleh makhluk”.

3. Warid al-Wishal/Nur al-Wishal (وارد الوصال \ نور الوصال)

اورد عليك الوارد ليخرجك من سجن وجودك الي فضاء شهودك

“Allah limpahkan ke dalam hatimu ‘Nur al-Wishal’, supaya dengan nur tersebut dapat mengeluarkan hatimu dari penjara wujud dirimu sendiri menuju tersingkapnya syuhudmu terhadap rahasia-rahasia Allah”.

Warid (وارد) sendiri bermakna Nur Hidayah (cahaya hidayah) yang Allah sampaikan ke dalam hati hamba-Nya yang dikasihi (نور يقذف الله فى قلب من احبه من عباده).

Apabila seseorang dapat karunia berupa Warid al-Intibah, maka keluarlah hatinya dari berbagai kegelapan lalai (ghaflah) menuju cahaya sadar (yaqazah). Ketika terlimpah nur al-intibah inilah awal mula terjadinya Jadzab.

Ketika ruhani seseorang benar-benar telah sadar dan merasakan adanya hubungan yang erat antara dirinya dan Allah disebabkan mata hatinya dapat mengetahui rahasia-rahasia Allah di alam malakut, ia akan menjauhkan dirinya dari segala maksiat. Inilah permulaan jalan ruhani seseorang dari aspek batinnya yang dikenal sebagai salik (سالك).

Apabila seseorang mendapat karunia Warid al-Iqbal, hatinya akan sentiasa berada dalam keadaan khudur ma’allah (hati fokus dalam mengingat Allah) dan ia akan menjadi hamba Allah semata. Perjalanan zahir dan batinnya tidak ada tujuan lain kecuali hanya kepada Allah (لا مقصود الا الله). Orang yang demikian disebut sebagai al-khawas (الخواص).

Sedangkan jika seseorang mendapat karunia Warid al-Wishal, maka hatinya atau mata hatinya (Basirah) hanya akan memandang Nur Wujudullah sehingga tidak terpandang selain diri-Nya karena ia telah fana’ dalam rahasia Nur Wujudullah semata. Contohnya ialah pengalaman yang dilalui oleh Nabi Musa as. Ketika Allah tajalli (tampak)kan sebagian rahsia Nur Wujud-Nya seperti yang telah diterangkan di atas, orang tersebut sampai ke tingkat zikir ghaibah. Inilah yang dinamakan khawasul-khawas (خواص الخواص).

Penulis: Syekh Dr. H. Jahid Bin H. Sidek (Mantan Professor Madya University of Malaya dan Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending