Connect with us

Kitab

Spiritual, Sebuah Pengembaraan

Published

on

Spiritual

Kata pengembara biasanya digunakan untuk seseorang yang melakukan perjalanan yang sangat jauh. Jika seseorang ingin menempuh perjalanan dari satu kota ke kota lain, atau dari satu Negara ke Negara lain, memiliki bekal yang cukup untuk perjalanannya adalah suatu keharusan atau bahkan bisa mati kelaparan atau kehausan di dalam perjalanannya. Demikian pula perjalanan spiritual.

Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk kembali kepada-Nya sebagaimana firman-Nya, “Maka segeralah kembali kepada Allah” (Qs adz-Dzariyat: 50).

Perjalanan kembali kepada Allah adalah perjalanan yang penuh misteri. Bagaikan menempuh gurun ruhani yang tak terbatas luasnya dan tak dapat diraba oleh panca indera. Sehingga para pengembaranya perlu secara sungguh-sungguh mempersiapkan perlengkapan dan bekal perjalanannya. Jika pengembara dunia saja membutuhkan bekal untuk melewati gurun sahara yang sangat terbatas dan bisa dirasakan oleh panca indera. Lalu, bagaimana dengan pengembara spiritual yang akan melewati gurun ruhani yang tak terbatas dan tak dapat diraba dengan panca indera? Al-Imam al-Ghazali di dalam bukunya Minhaj al-‘Abidin, menjelaskan tentang perjalanan ruhani sebagai berikut, “Jalan yang ditempuh licin, banyak lintasan, jauh, banyak rintangan, kehancuran, musuh, dan perampok. Inilah jalan menuju surga, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah, ‘Surga diliputi dengan tipu daya dan neraka diliputi dengan syahwat’.

Selain itu, kondisi seorang hamba sangat lemah, zaman telah rusak, masalah agama simpang siur, waktu luang yang sedikit, kesibukan yang banyak, umur yang pendek, amal yang penuh dengan kekurangan, ajal yang dekat dan perjalanan yang jauh. Oleh karenanya tidak ada bekal yang harus dimiliki kecuali amal taat. Seseorang yang memilikinya, maka dia termasuk hamba yang beruntung dan bahagia selamanya”. Seorang yang berakal pasti ingin memenuhi panggilan Tuhan untuk kembali kepada-Nya dan orang yang berakal pasti mempersiapkan bekal dalam menempuh perjalanannya.

Dalam buku ini, al-‘Allamah Abdullah bin Ali al-Haddad telah memberikan tanda-tanda bagi pengembara spiritual agar tidak tersesat. Mendirikan tangga bagi mereka untuk mencapai puncak. Dan membekali mereka dengan nasihat dan petunjuk hingga mereka yang menerimanya tak mungkin mati kelaparan atau kehausan. Susunan nasihatnya yang begitu rapid an cara beliau menyampaikannya, menunjukkan beliau telah melewati perjalanan itu dan menguasai seluk beluknya. Tak salah jika seorang ‘arifin pernah berkata, “Aku lebih mengetahui jalan ke langit daripada jalan di bumi”. Dalam buku ini beliau menuntun kita bak seorang ayah terhadap anaknya, dan kita seakan-akan mendapatkan seorang syaikh spiritual sebagai penuntun. Sungguh beruntung mereka yang mendengar nasihat dari beliau, dan sungguh beruntung mereka yang mengamalkannya dengan ikhlas.

Untuk melengkapi kesempurnaan buku ini, kami sajikan bait-bait perkataan seorang ulama -besar al-Imam Abdullah al-‘Aidrus yang dijelaskan dan dijabarkan oleh al-Imam Abdullah bin al-Alwi al-Haddad sebagai penutup buku ini. Bait-bait yang telah dijabarkan oleh al-Imam Abdullah bin al-Alwi al-Haddad ini kami kutip dari kitab beliau yang berjudul Ithaf as-Sail.

Di dalam buku ini terdapat istilah-istilah sufi yang sulit dipahami, dan kami telah menyediakan penjelasannya dalam glossary. Semoga bermanfaat bagi siapa yang membaca dan ingin mengamalkannya.[Tim Pustaka JATMAN]

Lihat juga di Perpustakaan Digital JATMAN

Baca buku yang lain.

Kitab

Empat Buku Penting Kajian Syekh Hamzah Fansuri Sepanjang Masa

Published

on

Hamzah Fansuri telah dikaji oleh orientalis setidaknya sejak tahun 1933 atau bahkan lebih awal. Di tahun tersebut, John Doorenbos melakukan kajian filologi atas prosa dan syair Hamzah dan menerbitkannya dalam buku berjudul De Geschriften van Hamzah Pansoeri. Buku ini mengkaji beberapa karya syair dan prosa Syekh Hamzah seperti Ashrar Al Arifin dan Sharb Al Ashiqin. Selanjutnya muncul buku-buku karya orientalis lain seperti G.W.J Drewes dan L.F Brakel yang menulis The Poems of Hamzah Fansuri (1986); Claude Guillot dan Ludvik Kalus, menulis La stele funeraire de Hamzah Fansuri atau Batu Nisan Hamzah Fansuri (2000); Dan Braginsky, Satukan Hangat dan Dingin Kehidupan Hamzah Fansuri Pemikir dan Penyair Sufi Melayu (2003).

Sarjana Nusantara yang juga menulis tentang Hamzah Fansuri di antaranya Syed Muhammad Naquib Al-Attas melalui buku The Mysticism of Hamzah Fansuri (1970);  Ali Hasjimi yang menulis Ruba’i Hamzah Fansuri-Karya Sastra Sufi Abad XVII (1976); Wan Mohd Saghir Abdullah yang menulis Tafsir Puisi Hamzah Fansuri dan Karya-karya Sufi (1993); Abdul Hadi, Tasawuf yang Tertindas; Kajian Hermeneutik terhadap karya-karya Hamzah Fansuri (2001); Dan Sangidu, Wachdatul Wujud – Polemik Pemikiran Sufistik antara Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As Samatrani dengan Nururddin ar Raniri (2003)

Di antara begitu banyak karya tersebut, ada empat judul yang sangat penulis rekomendasikan Alasannya, pertama karena sebagiannya adalah buku-buku paling awal yang mengkaji naskah tasawuf Hamzah Fansuri. Kedua, semua buku tersebut menggunakan sumber primer, yaitu naskah asli Hamzah Fansuri. Ketiga, buku-buku tersebut memuat analisis karya sang Hamzah secara komprehensif. Nyaris belum ada karya sebelum maupun setelahnya yang memuat sumber lain di luar dari apa yang mereka tulis. Keempat, hampir keseluruhan buku dan jurnal yang lahir setelahnya merujuk kepada mereka. Kelima, belum ada diskursus yang keluar dari wilayah kajian dari peneliti-peneliti tersebut seperti linguistik, metafisika, kosmologi, teologi, psikologi dan epistemologi.

1. The Mysticism of Hamzah Fansuri (1970)

The Mysticism of Hamzah Fansuri (1970) adalah karya Syed Muhammad Naquib Al Attas yang diterbitkan oleh University of Malay Press Kuala Lumpur. Buku ini dapat dianggap sebagai karya legenda karena hampir semua peneliti pasca tahun 1970 yang hendak mengkaji Hamzah Fansuri akan merujuk kesini. Menurut Braginksy, buku ini adalah karya revolusi yang membangkitkan kajian mengenai berbagai aspek dalam studi Hamzah, Islam dan Melayu dalam berbagai aspeknya (Wan Daud dan Uthman, 2009).

Pengarangnya, Syed Muhammad al Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin al Attas adalah filsuf kebangsaan Malaysia yang lahir di Bogor, 5 September 1931. Al-Attas menghadirkan buku ini dalam rangka menyempurnakan transliterasi naskah Hamzah yang telah dimulai oleh Doorenbos.

Buku Al-Attas sendiri, selain mengelaborasi tiga risalah tasawuf juga mencantumkan lebih dari seratus bait syair Hamzah yang diambil dari perpustakaan Universitas Leiden. Menurut Al-Attas, ajaran tasawuf Hamzah Fansuri, secara ontologi, kosmologi dan psikologi memiliki kesamaan dengan Ibnu Arabi dan Abdul Karim Al Jilli. Beberapa pokok pemikiran Hamzah Fansuri yang terdapat dalam buku Al-Attas yaitu aspect of oneness (tauhid dan ketauhidan); the world of created things (makhluk, ciptaan atau maujudad), creation and the doctrine of perpetual creation (doktrin penciptaan dan keabadian ciptaan yang diperdebatkan), fixed essence (a’yan thabithah), the spirit (nyawa/ruh) dan the soul/self (diri/nafs), divine attribute (Sifat Allah) dan hubungan fana dengan ma’rifah dan ikhtiar. Selain itu, secara mendalam Al Attas juga mengkaji pemikiran Hamzah mengenai divine will (irâdah) dan hal-hal terkait dengannya, termasuk hubungan antara irâdah dengan makna hendak dan mahu (mau) dalam bahasa Melayu. Melalui pendekatan linguistik dan semantik (a general linguistic and semantic approach) ia berusaha menemukan sistem mistik Syekh Hamzah Fansuri dengan pemetaan terhadap kata-kata kunci (to selection of key words in the vocabulary of Hamzah’s mystical system).

2. Ruba’i Hamzah Fansuri (1976)

Ruba’i Hamzah Fansuri; Karya Sastra Sufi Abad XVII (1976) ditulis oleh Ali Hasjimi dan diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Buku berukuran kecil tersebut merupakan transliterasi atas karya Syekh Samsuddin As Sumatrani yang membahas 26 bait syair Hamzah Fansuri.  Sebagai pengantar Ali Hasjimi juga memaparkan riwayat Hamzah Fansuri dan polemik pemikiran tasawufnya. Terakhir, Ali Hasjimi juga memuat 19 bait syair tafsir unggas yang sedikit berbeda dengan tafsir unggas dalam buku Al-Attas. Perbedaan ini bisa terjadi karena perbedaan hasil bacaan atau manuskrip yang dibaca berbeda. Karena salah satu resiko dalam dunia penyalinan naskah di masa lalu adalah terjadinya berbedaan salinan dari satu naskah yang sama.

3. The Poems of Hamzah Fansuri (1986)

The Poems of Hamzah Fansuri (1986). Buku ini diterbitkan oleh Foris Publication, Cinnaminson-USA tahun 1986. Pada tahun 1976, Brakel memperkenalkan Hamzah Fansuri dalam The World Orientalist Conference di Paris dan tahun 1979 di the 2nd European Colloquium on Indonesian Studies di London. Artinya, naskah sastra sufi Melayu Nusantara, wabilkhusus Syekh Hamzah telah sejak lama menjadi lirikan orang Eropa dan Amerika. 

Drewes dan Brakel memulai bukunya dengan mengkaji periode kehidupan Hamzah Fansuri, pengaruh ajarannya di Pulau Jawa, diskursus beberapa naskah, pengaruh tasawuf Persia, penolakan Nuruddin Ar Raniry, dan telaaah filologis atas karya syair Hamzah. Secara umum, buku “The Poems” mengkaji syair Hamzah Fansuri langsung sumber-sumber primer baik di Indonesia maupun Belanda.

4. Tasawuf yang Tertindas (2001)

Tasawuf yang Tertindas; Kajian Hermeneutik terhadap karya-karya Hamzah Fansuri (2001) terbitan Paramadina layak diposisikan sebagai salah satu karya yang mengulas syair Syekh Hamzah secara lebih komprehesif. Bahkan ada pendapat yang beredar bahwa “Jika ingin mengenal kitab tasawuf Hamzah Fansuri, maka bacalah “The Mysticism of Hamzah Fansuri” dan jika ingin mengenal syair-syairnya bacalah “Tasawuf yang Tertindas.” Hal ini menjadi wajar karena Abdul Hadi memfokuskan karya disertasi pada Universitas Sains Malaysia tersebut untuk membedah syair-syair Hamzah Fansuri.

Buku Tasawuf yang Tertindas dimulai dari penjelasan-penjelasan teoritik mengenai tasawuf dan sastra sufi; hermeneutika, dunia simbol dan ta’wil; serta perdebatan atas pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri. Pada bagian kedua, Abdul Hadi mendekati naskah Hamzah secara filologi dengan memeriksa mana teks yang diyakini sebagai milik Hamzah Fansuri dan mana teks milik orang lain. Pemeriksaan dilakukan setelah merumuskan beberapa ciri dan karakter syair Hamzah berdasarkan pengalaman bertahun bergumul dengan teks sufi penyair terbesar Aceh tersebut. Dua sumber utama syair yaitu Perpustakaan Nasional Jakarta dan Perpustakaan Museum Leiden.

Penulis: Ramli Cibro (Dosen Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Kitab

Syarah Ruba’i; Tafsir Syamsuddin Sumatrani atas Syair Mistik Hamzah Fansuri

Published

on

Kitab Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri adalah salah satu karya Syekh Syamsuddinn As-Sumatrani (w.1630) yang berisi tafsir atas syair-syair Hamzah Fansuri (w.1590). Kitab tersebut memuat 39 bait syair Hamzah. Kitab ini juga menjadi salah satu rujukan bagi mereka yang ingin memahami makna syair mistik Hamzah Fansuri secara mendalam. Selain itu, kelebihan Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri adalah bahwa ia ditulis oleh murid langsung Syekh Hamzah Fansuri atau setidaknya orang yang hidup sezaman dengannya dan setuju dengan pemikiran-pemikirannya.

Pada tahun 1976, Ali Hasjimi menerbitkan Naskah Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri karya Syekh Syamsuddin. Naskah tersebut ia peroleh dari sisa perpustakaan Kutubkhannah Dayah Tiro, sebuah perpustakaan terbesar dimasa lalu, milik ulama-ulama Tiro Aceh yang terkenal. Naskah tersebut disimpan oleh Teungku Muhammad Yunus Jamil dan kemudian disalin kembali oleh Ali Hasjimi sendiri pada tahun 1972. Penyalinan tersebut, menurut Ali Hasjimi adalah dalam rangka mengetengahkan kembali pemikiran tasawuf Syekh Hamzah Fansuri setelah lama terpendam dan dilupakan masyarakat muslim Nusantara.

Ada empat pokok penting pemikiran Syekh Hamzah yang disyarah Syamsuddin dalam kitab tersebut yaitu tajalli, makrifat, suluk dan nur muhammad.

1. Tajalli

Wujud Allah Maha Sempurna. Allah menciptakan manusia dan alam semesta sendiri tanpa memerlukan sekutu. Allah juga tidak bercerai dari sekalian makhluk ciptaan-Nya sejak sedia hingga selama-lama. Itu sebabnya para pecinta (sufi) menjadikan ia sebagai mahbub (sebagai tujuan atau sebagai yang dicintai). Kata Syamsuddin, Allah tidak bercerai dari Ahlullah, sejak martabat azal (alam azali) hingga martabat abad (selama-lama).

Arif Billah (sufi) menyebutkan, “Aku tidak melihat segala sesuatu kecuali aku melihat Allah bertajalli padanya.” Pada martabat azal dan martabat arwah, Allah bertajalli dengan sirr (dengan tersembunyi). Akan tetapi pada martabat ‘abad Allah bertajalli pada sekalian semesta (dengan nyata). Walaupun tajalli Allah nyata pada alam semesta, Ia hanya dapat disaksikan oleh Arif Billah dan tidak terlihat oleh orang awam.

Allah tersembunyi di alam nyata; bertajalli dengan makhluknya. Allah senantiasa nyata bagi Arif Billah dan tidak terlihat bagi orang awam. Mereka yang memiliki pandangan demikian secara sempurna akan mabuk sehingga terkadang keluar kata-kata yang menentangi syari’at. Ketika Husein Manshur Al Hallaj karam dalam makrifat; ia menyaksikan Allah nyata dalam seru sekalian alam; lalu Al Hallaj keluar dan menyampaikan kesaksiannya. Ia berujar dalam mabuknya, “Ana Al-Haq!”

2. Makrifat

Kajian mistik-makrifat terkait perbedaan pandangan antara Arif Billah dengan orang awam dalam melihat tajalli Allah di alam semesta. Ketika Arif Billah mengenal Allah, mereka disebut alim, dan ketika Allah mengenal Arif Billah, maka mereka disebut bangsawan. Inilah yang dimaksud syair Hamzah, lagi alim lagi bangsawan. Alim dimaksud adalah makrifat dan bangsawan yang dimaksud adalah beroleh kemuliaan dunia dan akhirat.

Penyebab orang awam tidak dapat melihat Allah lantaran mata batin mereka tertutup oleh kesibukan mencari kesenangan dunia (syair berahimu daim akan orang kaya); kesibukan memperturutkan hawa nafsu dengan lalai dan maksiat (syair nafsu dan syahwat daim sertamu); dan didalam tubuh diliputi oleh kedirian (syair dunia nan kau sandang-sandang).

Syamsuddin dalam tafsirnya menuliskan bahwa mabuk dunia justru membahayakan diri sendiri. Orang yang tidak mengenal agama dengan baik karena terlalu sibuk dengan dunia, nafsu dan syahwat, tidak akan sampai kepada maqam fana’ dan baqa’ selama-lama. Jika dunia masuk ke dalam hati; maka Allah akan keluar darinya. Begitupun sebaliknya jika dunia keluar dari dalam hati, maka cahaya Allah akan mudah masuk ke dalamnya. Jadi jelas, siapapun yang tidak menjauhi dunia, tidak akan pernah sampai kepada makrifat. Siapapun yang masih condong kepada nafsu tidak akan pernah sampai (wasil) kepada Allah.

3. Suluk

Menurut Hamzah, walaupun kita menguasai ilmu syari’ah, akidah dan muamalah, jika tidak disertai dengan suluk (makrifah dan fana) maka semuanya hanya sia-sia belaka. Maka, untuk mencapai makam tersebut, seseorang harus senantiasa bermuraqabah (mengingat Allah dan melakukan ibadah serta perbuatan baik), mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi angan-angan duniawi yang berkepanjangan. Ilmu agama bagi mereka yang tidak melengkapi diri dengan makrifat dan fana hanya akan menjadi alat untuk mencari keuntungan duniawi semata. Maka, wajib bagi orang Islam untuk menuntut ilmu makrifat tersebut supaya mereka sampai pada maqam istirahat.

Orang yang menuju Allah harus mengemis penuh hiba. Ia harus masuk ke dalam pagar rabbani, dan membuang segala sesuatu selain-Nya. Ia harus menempuh jalan syari’at, melalui tarekat dan mencari bimbingan dari guru yang ‘arif hingga mendapat makrifat dan washil (sampai) kepada Tuhannya.

Pertajam mata batin, butakan mata zahir, isbatkan Allah dan nafikan selainnya. Semua itu harus dilalui dengan jalan suluk dan ma’rifat. Siapa yang ingin memandang wujud Allah maka ia tidak diperkenankan memandang kepada selain Allah. Karena untuk sampai kepada Allah (washil), seseorang harus melenyapkan diri (memiskinkan diri), lenyap secara wujud, sifat, tubuh dan perbuatan seperti orang mati yang telah dikubur atau seperti laron yang menceburkan diri ke dalam api.

Fana fillah – baqa billah; lenyap dalam Allah – kekal bersama Allah dengan cara mengikuti syari’at dan hakikat Muhammad. Kata Syamsuddin, fanakan akal dan rasa (bahkan badan dan nyawa) karena kesemuanya adalah ta’yin makhluk. Penjamkan mata zahir supaya terbuka mata batin. Mereka yang telah sampai pada maqam fana akan memperoleh tempat diam yang tetap (makam sakinah) dan dapat beristirahat. Ia melepas cinta pada selain Allah dengan tawakal, zikir nafi isbat dan meminta perlindungan hanya kepada Allah.

4. Nur Muhammad

Nur Muhammad adalah pancaran pertama dari tajalli Allah. Ketika pada mulanya Allah adalah kanz makhfiyan (permata yang tersembunyi) yang ingin dikenal; maka Allah menjadikan nur Muhammad yang darinya Allah menjadikan sekalian alam. Nur Muhammad juga merupakan cermin dari Wujud, Dzat, Sifat dan Asma. Darinya lahir segala kebaikan maupun keburukan; segala kekurangan maupun kelebihan; segala kesempurnaan maupun ketidaksempurnaan.

Hakikat Muhammad nyata bagi sekalian alam. Itu sebabnya ia juga disebut awal dan akhir karena dialah permulaan ciptaan dan ia pula penghabisannya  Sekalian alam nyata (maujud) dari Hakikat Muhammad dan Hakikat Muhamamd nyata (maujud, merupakan tajalli) dari hakikat Al-Wujud. Itu sebabnya ada hadist Qudsi yang menyebut,”Aku ciptakan Engkau Ya Muhammad daripada Ku dan Aku ciptakan alam semesta daripada engkau.” Wallahu a’lam.

Penulis: Ramli Cibro (Dosen Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Kitab

Kitab Asrar Al ‘Arifin; Tafsir Hamzah Fansuri atas Syair-syairnya

Published

on

Asrâr Al-‘Ārifîn fî Bayân ‘Ilm al Sulúk wa al Tauhîd atau Rahasia Ahl Ma’rifah adalah kitab Hamzah Fansuri yang menjelaskan makna beberapa bait syairnya. Diketahui bahwa syair Syekh Hamzah Fansuri teramat banyak.

Di antara sekian syair tersebut, sebagian darinya ditafsir oleh murid beliau seperti Syamsuddin Sumatrani dalam Kitab Ruba’i Hamzah Fansuri dan Syair Ikan Tongkol. Juga terdapat tafsir syair Hamzah Fansuri yang disalin ulang oleh Muhammad Yusuf Trengganu yang diyakini juga ditulis sendiri oleh Syekh Trengganu tersebut. Naskah tertua disimpan di Leiden, No. 7291 dan sudah ditransliterasikan oleh Doorbores (1933) dan Al-Attas (1970). Menurut Syarifuddin, Naskah ini juga terdapat dalam koleksi perpustakaan kuno Abu Dahlan Tanoh Abee, No. 663 Aceh Besar.

Selain ditafsir oleh muridnya, Hamzah juga menafsir sendiri syair-syairnya diantaranya 15 bait syair yang ditafsir dan diberi nama Asrar Al Arifin atau rahasia ahli ma’rifah (the secrets of the gnostic). Kitab ini menjelaskan lima belas bait syair milik Hamzah Fansuri. Kitab ini adalah tafsir mistik atas syair mistik, dimana penafsir dan pembuat syair adalah beliau sendiri. Kata Hamzah, bagi yang tidak memahami bagaimana makna syair, dapat menggalinya dari tafsirnya karena tafsir atas syair makrifat, juga merupakan makrifat.

Kitab Asrar Al Arifin membahas mengenai makrifat kepada Allah, baik makrifat Sifat maupun Asma’-nya. Menurut Hamzah, seorang yang menyembah Allah tapi tidak disertai dengan makrifat, maka ia tetap muslim akan tetapi imannya kurang. Begitu penting makrifat kepada Allah hingga Hamzah mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa,

Siapa yang di dunia buta (tidak mengenal Allah) maka di akhirat kelak ia juga buta (17:72).”

Bagi Hamzah, mereka yang tidak mengetahui Allah disebut awwam, mereka yang mengetahui Allah (dengan ilmu) disebut khash dan mereka yang mengenal Allah (dengan makrifat) disebut khawas al khawas.

Bait pertama, kedua, ketiga dan keempat berbicara mengenai Dzat Allah beserta ketujuh sifatnya. Hamzah menyebutkan bahwa walaupun mengetahui nama (asma’) itu penting (termasuk mengetahui sifat dan perbuatan Allah), tapi mengenal Yang Pertama (yaitu Khuni Dzat Allah) itu lebih penting. Hamzah menyebutkan,

“Yakni tatkala bumi, langit, arash, kursi, surga, neraka dan semesta belum ada, maka yang Ada ketika itu hanya Dzat Allah semata, sendiri tiada dengan sifat dan asma.”

Dzat itu disebut Huwa, kata tunjuk bagi Dzat tanpa sifat dan asma. Adapun nama “Allah” adalah himpunan seluruh Asmaul Husna, sama seperti nama “Muhammad” yang terhimpun di dalamnya, nama-nama mulia bagi baginda junjungan kita.

Menurut Hamzah, Allah itu “Qadim” yaitu suatu makna yang sulit dipahami kecuali oleh mereka yang sudah terbuka hijab (kasyf). Mereka yang sudah terbuka hijab mengumpamakan Qadim seperti buah yang bulat, tiada berujung, tiada berpangkal, tiada batasan awal dan tiada pula batasan akhir. Tiada depan, tiada belakang, tiada kiri dan tiada pula kanan, tiada atas dan tiada bawah. Perumpamaan lain seperti lingkaran yang tiada awal dan tiada akhir. Menurut mereka, Allah Ada beserta tujuh Sifat Qadim lainnya yaitu Hayyat, Ilmu, Iradah, Qudrah, Kalam, Sama’ dan Bashar.

Bait kelima menjelaskan mengenai Hakikat Muhammad. Ketika ilmu melihat ma’lumat, maka muncul hakikat Muhammad. Dan Hakikat Muhammad adalah yang pertama bercerai dengan Dzat. Ia disebut Ruh Idhafi (nyawa yang tersandar), terkadang disebut Aql Kulli (perhimpunan akal), Nur (cahaya), Qalam al-A’la (huruf tertinggi) dan Lauh al-Mahfuz (bentangan yang dipelihara tempat takdir manusia ditempa).

Bait keenam berbicara mengenai Tuhan yang Kamal (sempurna) dengan Sifat Jamal (indah) dan Jalal (perkasa)-Nya. Itu sebabnya walaupun Tuhan menciptakan surga tapi juga menciptakan neraka. Walaupun ia menciptakan kesalehan dan kebaikan tapi ia juga menciptakan kefasiqan dan keburukan. Maka (dengan Jamal dan Jalal Allah), baik dan buruk berasal dari Allah. Rahim adalah Jamal Allah dan Rahman Adalah Jamal Allah. Pun demikian, dalam perikehidupan manusia juga harus diyakini bahwa Allah hanya ridla kepada perbuatan baik dan tidak ridla pada perbuatan buruk.

Bait ketujuh dan delapan, menceritakan tentang ketinggian Allah yang tiada dapat diibaratkan. Allah tidak pernah berpisah dari Sifat-Nya, kekal selama-lamanya. Allah berfirman, “Kulla yaumin huwa fi sya’n, (55:29) yang artinya Allah senantiasa sibuk. Ia memberi bekas pada segala kejadian, memberi wujud pada sekalian alam, siang dan malam, tiada berhenti, senantiasa dan selama-lama. 

Bait kesembilan dan sepuluh menganalogikan Tuhan sebagai bahr al-amiq (laut yang dalam), tiada berhingga dan berkesudahan. Kuhni Dzat-Nya tiada dapat dideskripsikan sebagaimana ucapan Nabi, “Maha Suci Engkau, yang tiada dapat kami kenal dengan sebenar-benar kenal.” Ombak timbul tenggelam dalam pandangan, tapi dalam hakikatnya ia adalah tanda keabadian yang tiada bercerai dengan laut. Allah Swt. tiada bercerai dengan alam, tapi ia tiada di dalam dan tiada di luar alam. Dia tiada di atas, tiada di bawah, tiada di kiri, tiada dikanan, tiada di depan dan tiada di belakang. Dia tidak bercerai dan Dia tidak bertemu; Dia tidak dekat dan tidak pula jauh. Dengan kata lain, ombak dan laut keduanya terjalin, dari dalam laut ombak timbul, dan ke dalam laut ombak tenggelam. Dari dalam laut ombak datang dan ke dalam laut ombak kembali.

Bait kesebelas sampai empatbelas menjelaskan mengenai orang yang telah makrifat(tahu akan wujud) dan syuhud. Menurut Hamzah, orang yang telah mendapatkan “Wujud” akan menyaksikan keberadaan Allah dalam segala keadaan. Batinnya tidak terkait kepada apapun dan hanya terpaut kepada Allah semata. Orang yang demikian, telah fana dan mati rasa. Dan dalam keadaan fana, jangankan untuk mengingat diri, mengingat tuhanpun ia tidak mampu. Dia lenyap ke dalam Tuhannya, dan kesadaran ketuhananpun lenyap dari dirinya. Ibarat mutu (emas yang sudah menjadi perhiasan) yang lenyap di dalam emas, maka ia tidak lagi mengetahui, apakah ia emas atau mutu? Apakah ia seorang hamba atau Tuhan???

Terakhir, bait kelima belas Hamzah menganalogikan dirinya sebagai yang dlaif tapi tidak terpisah dari Dzat al-Sharif (Tuhan). Walaupun tubuhnya terlihat keras (seperti buih) karena asalnya air maka hakikatnya lembut juga (air). Seperti buih yang senantiasa terpaut (washil) dengan laut; Hamzah pun senantiasa terpaut dengan Tuhannya.

Penulis: Ramli Cibro (Dosen Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam Prodi Pengembangan Masyarakat Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending