Connect with us

Resensi

Risalah Amalia (Kumpulan Ratib, Wirid dan Doa-doa Mustajab)

Al-Faqir Irsan Daeng Mangngerang

Penerbit: Zawiyah Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah

Published

on

Risalah Amalia

Buku Amalia ini disadur dari kitab al-Urwatul Wutsqa karangan Syekh Abdul Samad al-Falembani murid al-Qutub ar-Rabbani wal Arif al-Samadani Sayyidi Syeikh Muhammad bin Syeikh Abdul Karim as-Samman al-Qadiri al-Khalwati al-Madani qs. Kemudian kutambahkan beberapa amaliah dari para wali Allah yang mulia. Maka kuberi nama Risalah Amalia.

Sayyidi as-Syeikh Abdus Shamad al-Falembani ra. berkata, “Ketahuilah wahai saudaraku bahwa orang-orang yang menapak jalan kepada Allah Ta’ala dengan membiasakan diri mengamalkan wirid-wirid secara rutin merupakan jalan yang menyampaikan kepada Allah Ta’ala dan kepada makrifat (pengenalan) yang sebenarnya tentang Allah Ta’ala. Tidak akan sampai kepada maklamat ini, melainkan seseorang membulatkan kasih sayangnya kepada Allah Ta’ala dan makrifat-Nya secara benar.”

Risalah Amalia

Setelah saya mendengar perkataan Syeikh hamba dan membaca kitab Siyarus Salikin, maka kususunlah Risalah Amalia ini agar memudahkan hamba dan para penempuh jalan yang menginginkan ridha Allah dan kebahagiaan dunia dan akhirat mengamalkannya.

Susunan buku ini diawali dengan surah al-Qur’an pilihan (fadilah Q.S. al-Kahfi, Q.S Yasin, Q.S. al-Waqi’ah, dan Q.S. al-Mulk), kemudian disajikan amalan-amalan khas Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah, bacaan bacaan wirid, hizib, ratib dan fadilahnya, doa-doa, seputar amalan hari Jum’at, Ismul Azham, amalan Rabu terkahir Bulan Safar, amalan Nisfu Sya’ban, seputar anak yang baru lahir, penyelenggaraan jenazah, adab ziarah kubur, doa arwah, shalawat, shalat-shalat sunnah, zakat, thaharah, istinja, mimpi bertemu nabi saw., sujud sahwi dan tilawah, adab khalwat, kumpulan syair Syekh Samman qs., silsilah dan ijazah tarekat Khalwatiyah Sammaniyah.

Buku ini diterbitkan oleh Zawiyah Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah, lebar buku 11 cm dan Panjang 14,5 cm, yang terdiri dari 382 halaman.[Hardianto]

Artikel

Resensi Buku, Ridha sebagai Jalan Memperoleh Cinta

Published

on

Cinta adalah realitas abadi, tapi ia cenderung memudar dan menghilang. Karena manusia jatuh cinta pada pantulan cahaya sang kekasih. Cinta sejati bergantung pada pemahaman. Pecinta harus mampu membedakan emas dan kilaunya. – Jalaluddin Rumi –

Laksana pasir pantai yang diterpa pasang surutnya ombak, tak pernah mengeluh tentang datang perginya deraian air laut. Begitulah kiranya ridha hamba kepada segala ketentuan-Nya, karena ridha merupakan salah satu dari sekian banyak buah cinta.

Dalam pembahasan tasawuf, ridha sebagai salah satu maqam atau jalan untuk menuju dan sampai wushul kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ibn Athaillah al-Sakandary mendefinisikan ridha sebagai tenangnya hati atas semua pilihan Allah didasari dengan keyakinan bahwa semua ketentuan Allah adalah yang terbaik baginya dan tidak membencinya sama sekali.

Sedangkan menurut Abi Ali al-Daqqaq, ridha bukan berarti tidak merasakan derita yang menimpa, akan tetapi ridha adalah tidak menolak takdir dan keputusan Allah. Pembahasan ridha juga termaktub dalam Al-quran surah al-Bayyinah yang berbunyi “Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhannya”.

Setiap manusia pasti merasakan manis pahitnya perjalanan hidup, karena itu sudah menjadi takdir Allah. Manusia diberi akal dan kekuatan untuk berikhtiar sedangkan untuk hasil kita bertawakkal kepada Allah. Karena segala sesuatu yang menciptakan adalah Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa bagi orang yang mengakui keberadaan Allah Subhanahu wa ta’ala. dan mengakui bahwa cinta dapat menimbulkan duka tentu akan mengakui bahwa cinta dapat melahirkan ridha terhadap apa saja perbuatan kekasih hati pada dirinya.

Hal ini bisa terjadi karena jika hati sudah menyatu dengan sesuatu yang telah menguasainya secara penuh, maka ia tidak peduli dengan selain sesuatu tersebut. Selain itu, dengan adanya setitik cinta pada hatinya, pasti dia berpikir bahwa di balik semua yang menimpanya itu semata-mata hanya karena cinta.

Cinta dan ridha adalah dua hal yang tidak rasional di mata orang yang belum merasakannya, akan tetapi menjadi rasional jika sudah sampai titik tersebut. Karena jika cinta sudah menguasai seseorang maka ia akan menaklukan segalanya. Orang yang lebih mencintai kekasihnya daripada kemalasan, niscaya akan meninggalkan kemalasan demi kekasihnya. Orang yang lebih mencintai kekasihnya daripada harta bendanya, ia akan berani meninggalkan harta bendanya demi kekasihnya.

Dalam perjalanan cinta, jika sudah sampai pada titik uns atau keintiman spiritual, maka ia akan merasakan kegembiraan dan kebahagiaan hati karena telah menyaksikan keindahan. Ketika kegembiraan dan kebahagiaan hati sudah menguasai, tidak peduli dengan sesuatu yang menghilang, juga tidak peduli dengan kekhawatiran akan menghilang, maka kenikmatan yang ia rasakan akan memuncak.

Buku ini merupakan terjemahan dari kitab Mahabbah wa al-Syawq wa al Uns wa al-Riha karya Imam al-Ghazali (450-505). Buku ini berisi tentang kisah-kisah para ulama yang sudah sampai di titik mahabbah atau cinta kepada Allah dan juga berisi tentang perumpamaan-perumpamaan dalam penjabaran setiap pembahasan. Bagi Sebagian orang mungkin buku ini bisa dipahami dengan mudah, akan tetapi bagi sebagiannya lagi, perlunya pemahaman lebih dalam memahami buku ini.

Judul Buku: Rindu tanpa Akhir

Penulis: Imam al- Ghazali

Penerjemah: Asy’ari Khatib

Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta

Tahun Terbit: Cet. II Agustus 2006

Oleh: Khoirul Muthohhirin (UIN Walisongo Semarang)

Editor: Arip Suprasetio

Continue Reading

Resensi

Mengenal Tasawuf, Melawan Hawa Nafsu ala Kiai Asrori

Published

on

“Ilmu tasawuf itu tidak didapat dari pembahasan lisan, akan tetapi dari sesuatu yang dirasakan dan ditemukan dalam hati. Tidak digali dari buku, akan tetapi dari ahli rasa. Tidak diraih dari diskusi dan seminar, akan tetapi dari berkhidmah dan berguru kepada orang-orang yang sempurna,” (KH. Ahmad Asrori).

Munculnya agama Islam menjadi jawaban atas rusaknya peradaban pada masa Jahiliyyah,  bahkan sampai saat ini konsep ajaran Islam relevan untuk dibumikan dan dijadikan pedoman hidup, hal itu dibuktikan dengan adanya trilogi ajaran Tuhan yang termaktub dalam ajaran Islam, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan, dimana tiga pondasi tersebut mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Dalam memahami trilogi ajaran Islam, posisi iman sebagai pondasi teologi, islam sebagai pondasi dalam menjalankan syari’at, maka ihsan sebagai jalan tasawuf. Tasawuf pada dasarnya merupakan jalan yang ditempuh seseorang dalam dalam mengetahui dan melawan nafsu. Pembahasan tasawuf berkaitan dengan ruhaniyah manusia, aspek-aspek moral serta tingkah laku untuk menuju dan sampai (wushul) ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagai orang awam dengan segala keterbatasan ilmu dan pemahaman mengenai jalan untuk menuju dan wushul ke hadirat Allah, maka perlu adanya ilmu dan metode untuk meraihnya, dalam hal ini para sufi (ahli tasawuf) memiliki suatu konsepsi untuk wushul, konsep ini merupakan latihan-latihan ruhani yang dilakukan secara bertahap. Latihan-latihan ini sering dikenal dengan istilah maqamat serta ahwal. adapun bentuk-bentuk maaqamat di antaranya adalah taubat, zuhud, wara’, tawakal, sabar, rida, ikhlas, dan khauf.

Dalam buku ini, Kiai Asrori memiliki konsepsi maqamat yang berbeda dengan para tokoh sufi lainnya, jika para ulama sufi menjelaskan bahwa maqamat pertama adalah taubat kemudian maqamat berikutnya harus ditempuh secara berurutan. Sedangkan menurut Kiai Asrori menuturkan bahwa maqamat itu pilihan, tidak harus dilakukan secara berurutan. Hal ini disebabkan karena perjalanan ruhani setiap orang itu berbeda, tergantung dengan hal yang diberikan Allah kepada orang tersebut. Maka setelah menempuh maqam taubat sebagai maqam pertama, salik bisa melanjutkan menempuh jalan sufistiknya melalui maqam mana yang ia mampu.

Selain itu, dalam konsepsi maqamatnya, Kiai Asrori memperkenalkan istilah Al maut al ikhtiyari (kematian yang dapat diusahakan) atau dapat diartikan dengan mematikan hawa nafsu. Menurut beliau, siapapun tidak bisa wushul kepada Allah kecuali mengalami salah satu dari dua kematian, yaitu matinya jasad atau matinya hawa nafsu.

Lebih lanjut Kiai Asrori menjelaskan bahwa ada dua usaha untuk meraih maqamat, yaitu dengan usaha yang didasari dengan kelapangan hati  dan menyiapkan hati untuk menerima anugerah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Penjabaran konsep maqamat Kiai asrori dalam buku ini tidak selesai pada teori saja, akan tetapi sampai pada implementasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam upaya mematikan hawa nafsu, Kiai Asrori menganjurkan untuk tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang bernyawa, atau campuran unsur hayawani dalam proses pembuatannya. Dalam ritual jawa perbuatan semacam ini disebut mutih atau tarak.

Kedua, jika berbuka puasa tidak langsung makan makanan yang berat, melainkan cukup dengan air putih dengan beberapa kurma. Ketiga, membaca surah Al Insyirah setiap pagi dan sore setelah salat subuh dan ashar sebanyak tujuh kali sambil meletakkan telapak tangan kanan di bawah susu kiri. Hal ini bermaksud untuk membuat hati menjadi lapang, tidak mudah marah dan tersinggung, dan mudah menerima semua takdir Allah subhanahu wa ta’ala.

Buku yang bisa dijadikan media untuk belajar tasawuf, menjadi obat di kala gundah, dan kabar gembira bagi yang mengalami kesedihan. Selain itu, buku ini mudah dipahami bagi kalangan manapun karena menggunakan bahasa yang ringan.

Judul Buku      : Konsep Sufistik KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy

Penulis            :  Rosidi a.k.a Abdur Rosyid

Penerbit           : Bildung

Tahun Terbit   : Cetakan Pertama 2019

Tebal               : xviii+132 Halaman; 14 x 20.5 cm

Oleh: Khoirul Muthohhirin (UIN Walisongo)

Editor: Arip Suprasetio

Continue Reading

Resensi

Buku Pendidikan Tasawuf Abuya; Mengupas Konsep dan Geneologi Tarekat Naqsyabandiyah di Aceh

Published

on

Buku “Pendidikan Tasawuf Abuya” karya Dr. Dicky Wirianto yang diterbitkan oleh Bandar Publishing, merupakan sebuah karya yang menyajikan Konsep dan Geneologi Tarekat Naqsyabandiyah di Aceh. Tokoh utama yang dijelaskan adalah masyayikh dari ulama-ulama Aceh, yaitu Syekh Haji Muhammad Waly Al-Khalidy.

Buku ini sangat menarik dan ada beberapa alasan yang mendorong penulis berusaha menerbitkan buku ini. Pertama, buku ini menjelaskan secara spesifik tentang Syekh Muhammad Waly Al-Khalidi sebagai pelopor Tarekat Naqsyabandiyah al-Waliyah di Aceh pada Abad 20 yang bertempat di Dayah, Labuhan Haji Aceh Selatan. Karya ini merupakan kajian mendalam dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para penulis sebelumnya, sehingga dengan penerbitan buku ini, maka hasil penelitian tersebut akan memberi manfaat maksimal bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang Pendidikan Islam, Tasawuf dan Ilmu Agama Islam lainnya.

Kedua, kehadiran buku ini diharapkan akan memberikan sumbangan signifikan dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran di Fakultas pada Perguruan Tinggi. Apalagi, peningkatan kualitas pembelajaran adalah salah satu bagian komitmen penting dalam rangka mewujudkan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia. Dengan adanya buku ini, diharapkan akan memperkaya informasi dan akan ilmu baru yang didapatkan dari hasil penelitian.

Naskah buku ini berisikan uraian komprehensif tentang kajian ketasawufan di Nusantara, terutama di Aceh termasuk di dalamnya akan menguraikan bagaimana peran Syekh Muhammad Waly Al-Khalidi sebagai pelopor Pendidikan Tasawuf di Indonesia, dan Aceh khususnya.

Prof. Jamhari, MA., Guru Besar Fakultas Imu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia). Dalam sebuah pengantarnya menuliskan sebagai berikut:

”Van Bruinessen memaparkan bahwa Tarekat Naqsyabandiyah masuk ke Indonesia mula-mula muncul pada paruh abad ke-17 dan orang pertama yang mengamalkan Tarekat Naqsyabandiyah  ini diketahui adalah Syekh Yusuf  Al-Makassari. Selanjutnya tarekat ini berkembang ke beberapa daerah seperti Banten, Bogor, Cianjur di mana seorang guru dari Banten mengangkat seorang khalifah di dua daerah ini.  Kemudian belakangan diketahui di penghujung abad ke-18, atau awal abad 19, tarekat ini ditemukan di beberapa daerah. Seperti Jawa Tengah dan Pengikut yang banyak di Sumatera dan Aceh.”

Penyebaran Tarekat Naqshabandiyah di Aceh dibawa oleh Syekh Muhammad Waly Al-Khalidy melalui jalur Syekh Abdul Ghani Al-Kamfari dari Batu Bersurat Riau. Kehadiran buku ini telah menjelaskan peran dan strategi penyebaran tarekat ini melalui murid-murid dan khalifah Syekh Muhammad Waly yang tersebar di beberapa daerah seperti Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Selatan dan sebagian wilayah pesisir Aceh. Semoga kehadiran buku ini dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan khususnya tentang tarekat.

Penulis: Hardianto
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending