Connect with us

Berita

Pentingnya Tradisi Haul Masyayekh, NU Harus Memelihara dan Melestarikannya

Published

on

Demak, JATMAN Online – Pentingnya tradisi haul masyayekh, karena aktivitas haul akan mengungkap berbagai kesalehan yang dapat dijadikan teladan hidup. Oleh karena itu,  Warga NU harus memelihara dan melestarikan tradisi ajaran haul masyayekh dan orang-orang alim yang berjasa besar dalam membimbing umat.

Dilansir dari NU Online Jateng, Rais Idarah Wustha Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) Jateng KH Dzikron mengatakan, sosok Kiai Makhsum berkontribusi besar dalam membangun karakter bangsa.

“Demikian juga putra-putrinya mengikuti jejak perjuangan mbah Makhsum, aktif berkhidmah di NU dan pesantren. Salah satunya Gus Zaenal Arifin yang kini menjadi Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Demak dan Katib Idarah Wustha Jatman Jateng,” ucapnya.

Hal itu disampaikan saat mengisi pengajian di Pesantren Fathul Huda Karanggawang, Sidorejo, Sayung, Demak dalam acara haul ke-17 KH Makhsum Mahfudli bersama para masyayekh Pesantren Fathul Huda di komplek Maqbaroh Sidorejo, Kamis (24/2).

Lanjut, Kiai Dzikron, dari kerja keras dan ketekunannya muncul kader-kader bangsa yang menjadi penggerak dakwah, pendidikan, dan aktivis NU di berbagai daerah. Kehadiran mereka di tengah-tengah masyarakat lingkungannya membawa manfaat yang tidak kecil.

Kemudian Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) KH Muhammad Asyiq menegaskan, nahdliyin tidak boleh goyah dalam mempertahankan tradisi haul, sebab dari sinilah santri dan nahdliyin bisa menemukan informasi berbagai keteladanan yang diukir dimasa lalu oleh ulama yang sedang dihauli.   

“Seperti almarhum almaghfurlah romo Kiai Makhsum Mahfudli yang sedang dihauli hari ini adalah sosok yang sangat layak diteladani terutama dalam ketekunannya  mendalami ilmu dan berkhidmah kepada bangsa melalui pesantren dan NU,” ujarnya.

Kiai Asyiq mengatakan hal itu saat menyampaikan sambutan mewakili keluarga besar, Kiai Makhsum yang lahir pada tahun 1929 dan meninggal pada tahun 2005 mendapat bekal pendidikan dan disiplin yang ketat dari orang tuanya, Kiai Yasir.

Saat memasuki usia baligh beliau yang masih remaja dikirim ke pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak untuk ngaji kepada Kiai Muslih.

“Dari Mranggen dilanjutkan nyantri ke Darul Ulum Pondoan Pati yang diasuh Kiai Muhammadun dan Pesantren Bendo Ploso Kediri. Perjalanan nyantri dari Karanggawang  Sidorejo ke Bendo ditempuh dengan jalan kaki, sebuah perjuangan memburu ilmu yang sangat dramatis dan heroik,” ucapnya. 

Menurutnya, inilah salah satu kehebatan para kiai-kiai terdahulu, untuk mendapatkan ilmu yang manfaat ditempuh melalui perjuangan yang tidak ringan. Karena itu para santri jangan melupakan acara haul agar jejak sejarah perjuangan para masyayekh tetap terpatri dan menginspirasi para santri yang sedang ngaji.

“Pengembaraan memburu ilmu diakhiri tahun 1958. Pulang dari mondok Kiai Makhsum langsung melayani masyarakat dengan mendirikan Fesantren Fathul Huda di tanah kelahirannya dan aktif di Jamiyah Nahdlatul Ulama dari ranting hingga cabang Demak tanpa putus,” ungkapnya.

Continue Reading

Berita

Hadiri Ngaji Bulanan Pesma Daarusshohabah, Kiai Nafi Jelaskan Pentingnya Tasawuf

Published

on

Jakarta, JATMAN Online – Khodimut Thariqah Naqsabandiyah KH. Ahmad Nafi menjelaskan setelah tarbiyah syariat, selanjutnya tarbiyah qulub. Ilmu tasawuf, memperbaiki nafsu, membuka hijab. Orang yang sudah bersyariat, berfiqih, bertasawuf maka itulah orang yang sampai pada hakikat.

“Hakikat adalah sempurnanya iman. Yakni, dalam kitab Lathoiful Isyaroh, hidupnya kalbu bersama Allah kapanpun, dimanapun, dengan siapapun. Kita tidak hanya mencegah hawa nafsu saat ibadah, tapi saat dalam pekerjaan,” kata Kiai Nafi saat mengadiri Pengajian Bulanan di Pesantren Mahasiswa Daarusshohabah, Jalan Pemuda Asli II No. 20 RT 03/03, Rawamangun, DKI Jakarta, Kamis (14/09/2023).

Pengasuh PP Raden Rahmat Sunan Ampel Jember ini menyampaikan kalau baik dengan orang yang baik itu wajar. Kalau hati bersih, ketemu orang maksiat atau buruk atau kriminal saja selalu husnuzon.

“Gimana caranya bersih hati? Kita harus tawadlu berhadapan dengan orang maksiat. Itu diterangkan dalam kitab Nasoihul ibad, caranya lihatlah bahwa rahmat Allah mungkin diberikan pada siapapun yang dikehendaki-Nya, sekalipun manusia itu ahli maksiat. Jika dia mendapat hidayah, bisa husnul khatimah. Kita tidak bisa menjamin bisa husnul khotimah,” jelasnya.

“Bencilah pada perilakunya, jangan benci pada orangnya. Ketika kita tidak bisa tawadlu, berarti ada kesombongan dalam hati,” tambahnya.

Menurut Kiai Nafi, cita-cita mulia adalah baik di dunia dan akhirat, tercegah dari neraka, masuk surga tanpa melihat neraka, tanpa hisab. Gimana caranya? Jadilah orang-orang pilihan Allah. Jadilah orang-orang yang shalih (ibadah dan muamalah).

“Ibadah jangan jasmani saja, isi juga dengan ruhaniyah, sambung dengan Nur Nabi, yakni sambunglah dengan orang-orang yang menjadi jalan menuju Allah. Jadilah orang yang bisa menjadi sahabat terbaik bagi semua orang,” ungkapnya.

Continue Reading

Berita

Sebarluaskan Tarekat, JATMAN Jateng dan DIY Gelar Manaqib Kubra

Published

on

Semarang, JATMAN Online – Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabaroh an Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wustho Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewah Yogyakarta (DIY) menggelar Manaqib Kubro di Pondok Pesantren Al-Mukhlisin Nyatnyono, Ungaran, Semarang, Sabtu (9/9/2023).

Manaqib Kubro, Istighosah, Bahtsul Masail, Temu Mursyid, dan Pengajian Akbar murupakan kegiatan rutin keliling 6 bulan sekali di 41 Syu’biyyah yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Manaqib Kubro ini turut dihadiri oleh perwakilan pengurus Idarah Aliyyah, pengurus Idarah Wustho Jateng dan DIY, Pengurus Syu’biyyah, para masyaikh dan habaib, serta TNI – Porli setempat dan tamu undangan lainnya.

Menurut Mudir JATMAN Jateng KH Ahmad Sa’id Lafif, Musyawarah Idaroh Wustho merupakan program JATMAN yang rutin dilakukan satu tahun dua kali.

“Program ini akan berkelanjutan terus menerus merupakan bagian Khidmah kita terhadap Thoriqoh.Musyawarah Idharoh Wustho ini bentuk komunikasi yang baik, sehingga menjalankan JATMAN Jateng berkembang pesat memberikan manfaat bagi masyarakat luas,’’ katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal JATMAN Idaroh Aliyyah KH. Mashudi dalam sambutannya menyampaikan atas nama JATMAN Idaroh Aliyyah mengapresiasi kegiatan pengajian akbar dan manaqib kubro ini

“Sejak pagi sampai sekarang dengan pengajian akbar dan tadi kita mengikuti bersama-sama maulidurrasul, kami yakin bahwa ini adalah arena untuk menjadikan majelis ini majelis yang mubarak. Sepulang dari mejelis ini semuanya diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala,” katanya.

Kiai Mashudi menjelaskan mejelis seperti inilah yang dikemas dan dikawal oleh JATMAN menjadi salah satu ngerem datangnya kiamat.

“Tidak akan terjadi kiamat selagi masih ada orang yang wirid dzikir Allah, Allah, Allah. Itulah garapan dari JATMAN, mengistiqomahkan wirid. Jadi, barangsiapa yang diberikan kekuaran berdzikir maka yang bersangkutan akan diberi tanda-tanda kewalian,” jelasnya.

“Jadi, JATMAN itu bukan hanya diikuti oleh bapak-bapaknya saja tapi ibu-ibunya juga berthoriqoh. Polisi berthoriqoh, tantara berthoriqoh. Mari kita do’akan dengan didampingi TNI-POLRI JATMAN semakin besar. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin,” tambahnya.

Mudah-mudahan majelis ini, lanjutnya, menjadikan kita semakin cinta kepada Rasululah shalallahu ‘alaihi wassalam. Ketika kita berkhidmah kepada Allah maka segala sesuatu akan tunduk kepada kita.

“Itulah sebabnya JATMAN sedang mengembangkan salah satu lajnah, yaitu lajnah Wathonah (Wanita Thoriqoh an Nahdliyyah). Kemudian lajnah MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al Mu’tabah an Nahdliyyah),” paparnya.

“Mudah-mudahan semua program yang sudah direncanakan oleh Idarah Aliyyah berserta Idaroh Wustho, Syu’biyyah, Ghusniyyah, dan Sa’afiyyah Se-Indonesia dimudahakan Allah dan akhirnya JATMAN menjadi jam’iyyah salah satu yang bisa mengamankan Indonesia yang kita cintai ini, menjadi Indonesia semakin hebat dan maju,” ungkapnya.

Continue Reading

Berita

Gus Yaqut Ajak Umat Islam Gelar Shalat Istisqa

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Seiring dengan kemarau panjang yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, yang membuat sejumlah wilayah mengalami kekeringan, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) mengajak umat Islam untuk menggelar Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan.

“Kementerian Agama mengajak umat Islam untuk melaksanakan Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan,” kata Gus Yaqut di Jakarta, Jumat (15/09).

Ia mengatakan sesuai dengan namanya, al-istisqa’, adalah meminta curahan air penghidupan (thalab al-saqaya). Para ulama fikih mendefinisikan Shalat Istisqa sebagai shalat sunah muakkadah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan.

Shalat Istisqa pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW, seperti yang dikisahkan lewat hadis riwayat Abu Hurairah RA.

Menurut Gus Yaqut, Shalat Istisqa menjadi bagian dari ikhtiar batin sekaligus bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

“Memohon agar Allah menurunkan hujan yang lebat merata, mengairi, menyuburkan, bermanfaat tanpa mencelakakan, segera tanpa ditunda. Amin,” ujarnya.

Adapun pelaksanaan Shalat Istisqa sama dengan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Sesudah Takbiratul Ihram, melakukan takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali takbir pada rakaat kedua.

Setelah membaca Surat Al-Fatihah dan lainnya, lalu rukuk, sujud hingga duduk tahiyyat kemudian salam.

Khatib lalu menyampaikan khutbah sama seperti khutbah Idul Fitri dan Idul Adha. Khutbah dianjurkan mengajak umat Islam untuk bertobat, meminta ampun atas segala dosa, serta memperbanyak istighfar dengan harapan Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan makhluk hidup lainnya pada saat kemarau panjang.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending