Connect with us

Berita

Menyambut Bulan Suci Ramadhan, MATAN UNJ Ziarah ke Makam Ulama di Jakarta

Published

on

DKI Jakarta, JATMAN Online – Mahasiswa Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah Universitas Negeri Jakarta (MATAN UNJ) melakukan ziarah ke beberapa Makam Ulama di Jakarta dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan pada Senin, (28/03).

Kegiatan ini juga dalam rangka bermuhasabah diri untuk selalu ingat bahwa pada saatnya nanti setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ziarah diawali ke Makam Pangeran Jayakarta yang berada di Jatinegara Kaum. Rangkaian acara dimulai dengan tawasul, dzikir, tahlil, doa, dan diakhiri dengan sejarah singkat Pangeran Jayakarta yang disampaikan oleh Wakil Ketua MATAN UNJ, Mohamad Faqih.

“Seperti kita ketahui bahwasanya Pangeran Jayakarta termasuk salah satu pahlawan yang menjadi ‘pelindung’ kota Jakarta. Pangeran Jayakarta sebagai pewaris tahta ayahnya (Pangeran Akhmad Jakerta) menjadi penguasa wilayah Jayakarta. Perlawanan terhadap VOC pada zaman dahulu menjadikan Pangeran Jayakarta tinggal di daerah Jatinegara Kaum hingga akhirnya beliau wafat pada tahun 1640,” kata Wakil Ketua MATAN UNJ.

Lanjut, Faqih, menjelaskan bahwa Makam ini awalnya belum banyak diketahui oleh orang banyak.

“Menariknya, Makam Pangeran Jayakarta baru terungkap setelah Indonesia merdeka. Setelah 3 abad dari wafatnya Pangeran Jayarkata keberadaan makamnya baru diketahui oleh masyarakat. Hal ini dilakukan agar VOC tidak mengetahui keberadaannya pada zaman dahulu,” jelasnya.

Kemudian seluruh pengurus MATAN UNJ melanjutkan ziarah ke Makam ke dua, yaitu Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi yang dikenal dengan sebutan Habib Cikini. Di Makam ini, rangkain acara tawasul, dzikir, tahlil, dan doa dipimpin langsung oleh Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan. Hal ini diluar dugaan karena ketika sampai di Makam ini, beliau sedang berziarah juga.

Salah satu bukti kewalian Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi yang belum lama terjadi pada tahun 2010, Makam beliau sempat ingin digusur untuk pembangunan apartemen. Singkat cerita, peristiwa aneh terjadi yang menjadikan Makam tersebut tidak mampu diangkut. Dengan kejadian itu justru diberikan sebidang lahan untuk Makam beliau dan dibangun megah, serta terus diziarahi orang-orang. Yang menziarahi Makam ini juga bukan kalangan Muslim saja, tetapi Non-Muslim pun banyak berziarah untuk mengambil air makam yang terus bermanfaat sampai sekarang.

Kegiatan ziarah dilanjutkan ke Makam terakhir di daerah Kwitang, yaitu Makam Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi (anak dari Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi) yang dikenal dengan sebutan Habib Ali Kwitang. Seluruh pengurus MATAN UNJ sekaligus melakukan shalat dzuhur dan makan bersama di Masjid ini. Setelah itu rangkain acara baru dimulai dengan tawasul, dzikir, tahlil, doa, dan sejarah singkat Habib Ali Kwitang yang disampaikan oleh Wakil Ketua MATAN UNJ, Mohamad Faqih.

Selain ziarah sebagai perintah Nabi untuk manusia mengingat kematian, disisi lain ziarah ini dilakukan agar tetap menjaga budaya yang telah diwariskan oleh ulama-ulama terdahulu. Tujuan lain agar dapat mempererat hubungan MATAN UNJ dengan para ulama di Jakarta yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia, sehingga dapat diteladani semangat juangnya. Semoga perantara ziarah ini juga dapat menjadikan setiap anggota MATAN UNJ lebih meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menghambakan diri kepada-Nya dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan khususnya.

Pewarta: M. Sidik

Editor: Arip Suprasetio

Berita

Hadiri Ngaji Bulanan Pesma Daarusshohabah, Kiai Nafi Jelaskan Pentingnya Tasawuf

Published

on

Jakarta, JATMAN Online – Khodimut Thariqah Naqsabandiyah KH. Ahmad Nafi menjelaskan setelah tarbiyah syariat, selanjutnya tarbiyah qulub. Ilmu tasawuf, memperbaiki nafsu, membuka hijab. Orang yang sudah bersyariat, berfiqih, bertasawuf maka itulah orang yang sampai pada hakikat.

“Hakikat adalah sempurnanya iman. Yakni, dalam kitab Lathoiful Isyaroh, hidupnya kalbu bersama Allah kapanpun, dimanapun, dengan siapapun. Kita tidak hanya mencegah hawa nafsu saat ibadah, tapi saat dalam pekerjaan,” kata Kiai Nafi saat mengadiri Pengajian Bulanan di Pesantren Mahasiswa Daarusshohabah, Jalan Pemuda Asli II No. 20 RT 03/03, Rawamangun, DKI Jakarta, Kamis (14/09/2023).

Pengasuh PP Raden Rahmat Sunan Ampel Jember ini menyampaikan kalau baik dengan orang yang baik itu wajar. Kalau hati bersih, ketemu orang maksiat atau buruk atau kriminal saja selalu husnuzon.

“Gimana caranya bersih hati? Kita harus tawadlu berhadapan dengan orang maksiat. Itu diterangkan dalam kitab Nasoihul ibad, caranya lihatlah bahwa rahmat Allah mungkin diberikan pada siapapun yang dikehendaki-Nya, sekalipun manusia itu ahli maksiat. Jika dia mendapat hidayah, bisa husnul khatimah. Kita tidak bisa menjamin bisa husnul khotimah,” jelasnya.

“Bencilah pada perilakunya, jangan benci pada orangnya. Ketika kita tidak bisa tawadlu, berarti ada kesombongan dalam hati,” tambahnya.

Menurut Kiai Nafi, cita-cita mulia adalah baik di dunia dan akhirat, tercegah dari neraka, masuk surga tanpa melihat neraka, tanpa hisab. Gimana caranya? Jadilah orang-orang pilihan Allah. Jadilah orang-orang yang shalih (ibadah dan muamalah).

“Ibadah jangan jasmani saja, isi juga dengan ruhaniyah, sambung dengan Nur Nabi, yakni sambunglah dengan orang-orang yang menjadi jalan menuju Allah. Jadilah orang yang bisa menjadi sahabat terbaik bagi semua orang,” ungkapnya.

Continue Reading

Berita

Sebarluaskan Tarekat, JATMAN Jateng dan DIY Gelar Manaqib Kubra

Published

on

Semarang, JATMAN Online – Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabaroh an Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wustho Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewah Yogyakarta (DIY) menggelar Manaqib Kubro di Pondok Pesantren Al-Mukhlisin Nyatnyono, Ungaran, Semarang, Sabtu (9/9/2023).

Manaqib Kubro, Istighosah, Bahtsul Masail, Temu Mursyid, dan Pengajian Akbar murupakan kegiatan rutin keliling 6 bulan sekali di 41 Syu’biyyah yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Manaqib Kubro ini turut dihadiri oleh perwakilan pengurus Idarah Aliyyah, pengurus Idarah Wustho Jateng dan DIY, Pengurus Syu’biyyah, para masyaikh dan habaib, serta TNI – Porli setempat dan tamu undangan lainnya.

Menurut Mudir JATMAN Jateng KH Ahmad Sa’id Lafif, Musyawarah Idaroh Wustho merupakan program JATMAN yang rutin dilakukan satu tahun dua kali.

“Program ini akan berkelanjutan terus menerus merupakan bagian Khidmah kita terhadap Thoriqoh.Musyawarah Idharoh Wustho ini bentuk komunikasi yang baik, sehingga menjalankan JATMAN Jateng berkembang pesat memberikan manfaat bagi masyarakat luas,’’ katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal JATMAN Idaroh Aliyyah KH. Mashudi dalam sambutannya menyampaikan atas nama JATMAN Idaroh Aliyyah mengapresiasi kegiatan pengajian akbar dan manaqib kubro ini

“Sejak pagi sampai sekarang dengan pengajian akbar dan tadi kita mengikuti bersama-sama maulidurrasul, kami yakin bahwa ini adalah arena untuk menjadikan majelis ini majelis yang mubarak. Sepulang dari mejelis ini semuanya diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala,” katanya.

Kiai Mashudi menjelaskan mejelis seperti inilah yang dikemas dan dikawal oleh JATMAN menjadi salah satu ngerem datangnya kiamat.

“Tidak akan terjadi kiamat selagi masih ada orang yang wirid dzikir Allah, Allah, Allah. Itulah garapan dari JATMAN, mengistiqomahkan wirid. Jadi, barangsiapa yang diberikan kekuaran berdzikir maka yang bersangkutan akan diberi tanda-tanda kewalian,” jelasnya.

“Jadi, JATMAN itu bukan hanya diikuti oleh bapak-bapaknya saja tapi ibu-ibunya juga berthoriqoh. Polisi berthoriqoh, tantara berthoriqoh. Mari kita do’akan dengan didampingi TNI-POLRI JATMAN semakin besar. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin,” tambahnya.

Mudah-mudahan majelis ini, lanjutnya, menjadikan kita semakin cinta kepada Rasululah shalallahu ‘alaihi wassalam. Ketika kita berkhidmah kepada Allah maka segala sesuatu akan tunduk kepada kita.

“Itulah sebabnya JATMAN sedang mengembangkan salah satu lajnah, yaitu lajnah Wathonah (Wanita Thoriqoh an Nahdliyyah). Kemudian lajnah MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al Mu’tabah an Nahdliyyah),” paparnya.

“Mudah-mudahan semua program yang sudah direncanakan oleh Idarah Aliyyah berserta Idaroh Wustho, Syu’biyyah, Ghusniyyah, dan Sa’afiyyah Se-Indonesia dimudahakan Allah dan akhirnya JATMAN menjadi jam’iyyah salah satu yang bisa mengamankan Indonesia yang kita cintai ini, menjadi Indonesia semakin hebat dan maju,” ungkapnya.

Continue Reading

Berita

Gus Yaqut Ajak Umat Islam Gelar Shalat Istisqa

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Seiring dengan kemarau panjang yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, yang membuat sejumlah wilayah mengalami kekeringan, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) mengajak umat Islam untuk menggelar Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan.

“Kementerian Agama mengajak umat Islam untuk melaksanakan Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan,” kata Gus Yaqut di Jakarta, Jumat (15/09).

Ia mengatakan sesuai dengan namanya, al-istisqa’, adalah meminta curahan air penghidupan (thalab al-saqaya). Para ulama fikih mendefinisikan Shalat Istisqa sebagai shalat sunah muakkadah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan.

Shalat Istisqa pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW, seperti yang dikisahkan lewat hadis riwayat Abu Hurairah RA.

Menurut Gus Yaqut, Shalat Istisqa menjadi bagian dari ikhtiar batin sekaligus bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

“Memohon agar Allah menurunkan hujan yang lebat merata, mengairi, menyuburkan, bermanfaat tanpa mencelakakan, segera tanpa ditunda. Amin,” ujarnya.

Adapun pelaksanaan Shalat Istisqa sama dengan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Sesudah Takbiratul Ihram, melakukan takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali takbir pada rakaat kedua.

Setelah membaca Surat Al-Fatihah dan lainnya, lalu rukuk, sujud hingga duduk tahiyyat kemudian salam.

Khatib lalu menyampaikan khutbah sama seperti khutbah Idul Fitri dan Idul Adha. Khutbah dianjurkan mengajak umat Islam untuk bertobat, meminta ampun atas segala dosa, serta memperbanyak istighfar dengan harapan Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan makhluk hidup lainnya pada saat kemarau panjang.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending