Connect with us

Tokoh

Mengenal KH. Abdul Djalil Mustaqim, Ulama Thariqah yang Menjadi Mursyid Sejak Kanak-kanak

Published

on

KH. Abdul Djalil Mustaqim adalah putera KH. Mustaqim yang menjadi penerus garis kemursyidan Thariqah Sadziliyah sekaligus Pengasuh Pondok PETA Tulungagung. Ia lahir pada tahun 1942 M.

Sebelum kelahirannya, banyak ulama yang sudah memprediksi bahwa ia akan menjadi ulama besar. Salah satunya KHR. Abdul Fattah Mangunsari Tulungagung yang mengatakan kepada ibunya Nyai Halimah Sa’diyah dengan Bahasa Jawa,

“Nyai, anak yang ada di dalam kandunganmu kelak akan menjadi pakunya tanah Jawa.”

Benar saja, tepat di tahun 1947 M, ketika Kiai Abdul Djalil masih berusia 5 tahunan, ia telah di bai’at thariqah oleh Syekh Abdur Rozaq at-Tarmasi Pacitan Jawa Timur.

Pada saat itu, Syekh Abdur Rozaq ingin mengadopsinya sebagai anak, namun sang ibu merasa keberatan. Karena tidak diizinkan untuk mengadopsi, Syekh Abdur Rozaq tetap meminta izin untuk membawa Kiai Abdul Jalil ke suatu tempat.

Menurut cerita Kiai Abdul Djalil, ia dipanggul oleh Syekh Abdur Rozaq berjalan mengelilingi alun-alun Tulungagung, di sinilah ia diba’at.

Setelah dibai’at oleh Syekh Abdur Rozaq, pada usianya ke-11 tahun, ia sudah diajari dan disuruh oleh ayahnya, Kiai Mustaqim untuk menggantikannya membai’at murid-muridnya. Padahal saat itu ia masih hobi bermain layangan dan bercelana pendek. Hal ini terus berlangsung hingga ayahnya wafat pada tahun 1970 M.

Pendidikan Kiai Abdul Djalil

Sejak kecil, Kiai Abdul Djalil dididik langsung oleh kedua orang tuanya. Di samping itu, ia juga belajar ilmu dasar-dasar agama seperti mengaji al-Qur’an, Fiqh, Akhlak kepada KH. Ahmad Suja’i, seorang tokoh agama yang tidak jauh dari rumahnya serta bersekolah di SMDP Tulungagung.

Setelah lulus dari SMDP Tulungagung sekitar tahun 1958, pada akhir 1959 di usianya yang ke-16 tahunan, Kiai Abdul Djalil memperdalam ilmu agama di pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri selama dua tahun di bawah asuhan KH. Achmad Djazuli Utsman, saat itu ia menempati di komplek Darussalam atau komplek “D”.

Selama di pesantren, Kiai Abdul Djalil sangat menghormati dan memuliakan kiainya. Ia memiliki kebiasaan membalikkan terompah kiainya itu, baik ketika berada di rumah atau di masjid.

Sehingga ketika Kiai Djazuli masuk ke rumah atau ke dalam masjid, maka terompah yang semula menghadap ke arah dalam, akan selalu dibalik ke arah luar oleh Kiai Abdul Djalil.

Kebiasaan ini akhirnya dihafal betul oleh Kiai Djazuli, sampai-sampai ketika Kiai Djazuli akan mengenakan terompah dan keadaannya tidak terbalik (tetap mengarah ke dalam), maka ia bertanya kepada santri lain dengan bahasa jawa “Gus Djalil apa sedang pulang?”

Kiai Abdul Djalil juga pernah bercerita bahwa selama menuntut ilmu di sana, setiap kali ia pulang dan akan berangkat kembali ke pondok, ia sering mendengar suara binatang seperti burung, ikan yang mendo’akannya agar diberikan ilmu yang bermanfaat.

Kejadian ini terus berlangsung sampai ia mondok di Mojosari Nganjuk.

Setelah belajar ilmu agama di pondok Al-Falah Ploso Mojo Kediri selama dua tahun, tepatnya di tahun 1961, Kiai Abdul Djalil pindah ke pesantren Mojosari Nganjuk di bawah asuhan KH. Manshur yang mana ia merupakan pengganti KH. Zainuddin Mojosari yang terkenal menjadi wali agung.

Selain menjadi santri di Mojosari, Kiai Abdul Djalil juga sempat nyambi kuliah di Jurusan Bahasa Arab IAIN Tulungagung. Namun tidak sampai tuntas karena hanya berlangsung selama dua tahun. Ketika itu, kakaknya, KH. Arif Mustaqim menjadi salah satu dekan di kampus tersebut.

Karamah Kiai Abdul Djalil

Sejak kecil, Kiai Abdul Djalil sudah menampakkan perbedaan dibanding anak-anak lain pada umumnya. Ia dianugerahi Allah terbukanya mata hati (mukasyafah) sehingga ketika menuntut ilmu agama di pesantren Mojosari Nganjuk, ia pernah diperdengarkan suara dari dalam kubur.

Pada suatu hari, Kiai Abdul Djalil sedang melewati pemakaman umum desa tetangga Mojosari. Tiba-tiba ada suara memanggil-manggil namanya, suara itu minta tolong dengan bahasa jawa, “Mbah Djalil kesini, saya minta tolong.”

Kemudian Kiai Abdul Djalil mendekat ke arah sumber suara itu. Ternyata suara tersebut bersumber dari arah makam seorang perempuan yang menyampaikan permohonannya agar kiai berkenan menemui anaknya yang bernama Fulan yang alamatnya desa ini.

“Mbah Djalil, tolong sampaikan kepada anak saya agar mengirimi do’a (selamatan/hajatan) untuk saya, sebab sudah lama ia tidak kirim do’a untuk saya”.

Singkat cerita akhirnya Kiai Abdul Djalil menemui Fulan yang dimaksud si mayit. Setelah diceritakan panjang lebar, terkejutlah si Fulan karena ia merasa memang sudah lama tidak mengirimkan do’a untuk almarhumah ibunya lewat selamatan/hajatan.

Setelah si Fulan mengadakan selamatan untuk ibunya, selang beberapa hari kemudian Kiai Abdul Djalil melewati pemakaman umum itu lagi. Ia dipanggil si mayit yang intinya mengucapkan terima kasih dan menyampaikan bahwa anaknya sudah berkirim do’a untuknya.

Selain peristiwa di atas, ada peristiwa lain yang diceritakan langsung dari H. Ali Imron bin Ghozali Ringinrejo, Kediri.

Pada suatu hari Kiai Abdul Djalil dan H. Ali Imron sedang menunggu di sebuah gubuk yang disediakan untuk orang-orang yang akan menaiki perahu getek, setelah perahu hampir terisi penuh, si tukang perahu mengajak untuk segera naik perahu, namun ia tidak bersedia seraya berkata,

“Sudah, kamu berangkat saja dahulu, saya nanti saja. Ini, rokok”

Kemudian Kiai Abdul Djalil menyuruh H. Ali Imron untuk memberi sebungkus rokok kepada tukang perahu tersebut. Pada saat perahu sudah di tengah sungai Brantas, barulah Kiai Abdul Djalil mengajak H. Ali Imron untuk menyeberang dengan berjalan kaki sambil membaca shalawat terus-menerus.

Kemudian dua orang itu turun ke sungai dan berjalan ke arah seberang sungai. Kedua kaki Kiai Abdul Djalil dan H. Ali Imron masuk ke dalam air hanya sampai di bawah lutut, padahal kedalaman sungai itu bisa mencapai antara tiga sampai empat meter. Melihat kejadian itu, tukang perahu dan semua penumpang menjadi takjub luar biasa.

Penampilan Sehari-hari Kiai Abdul Djalil

Penampilan sehari-hari Kiai Abdul Djalil selalu rapi, bersih, segar dan ceria. Rambutnya selalu tersisir rapi, serta kumis, kuku, jenggot dan cambang selalu di potong saat panjang.

Kiai Abdul Djalil juga selalu berbau harum, sebab di sakunya selalu terdapat botol kecil minyak wangi. Minyak wangi ini selalu ia usapkan ke telapak tangan dan bajunya. Sehingga, ketika para tamu bersalaman dan mencium tangannya, mereka akan mencium aroma wangi.

Dalam berpakaian sehari-hari, Kiai Abdul Djalil selalu berpenampilan sederhana yakni bersarung, berkopiah hitam dan kaos oblong warna putih atau berbaju koko apabila menemui tamu. Sedangkan saat bepergian biasanya ia mengenakan celana panjang berwarna hitam lengkap dengan alat pinggangnya, kemeja lengan panjang atau pendek yang dimasukkan di dalam celana serta berkopiah hitam.

Namun semua barang yang pakai mulai baju, celana, ikat pinggang, dompet, korek api, arloji, dan alas kaki adalah barang-barang berkualitas tinggi yang tentu saja tidak menggelapkan matanya dari silaunya dunia, karena yang di hatinya hanya ada Allah Swt. semata.

Wafatnya Sang Mursyid

Kiai Abdul Djalil kembali ke hadirat Allah Swt. sekitar pukul 01.30 dini hari, pada Jum’at Wage, Januari 2005. Sebelum wafat, ia mengalami sakit selama tujuh hari dan dirawat di Rumah Sakit ORPEHA, Tulungagung.

Kiai Abdul Djalil di makamkan di dalam kawasan Pondok PETA Tulungagung bersama ayahandanya KH. Mustaqim bin Husain.

Berita

Dimakamkan 4 Tahun Lalu Jasad Mbah Moen Masih Utuh, Berikut Biografi KH Maimoen Zubair

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Kabar mengejutkan sekaligus luar biasa datang dari Makkah. Jasad salah satu ulama besar Indonesia yakni KH Maimoen Zubair dikabarkan masih dalam kondisi utuh ketika makamnya di Mekkah dibongkar.

Kabar masih utuhnya jasad KH Maimoen Zubair itu sempat dibagikan oleh pengguna akun Youtube Alman Mulyana.

Alman menjelaskan bahwa makam di Kota Mekkah itu selalu dibongkar selama 4 tahun sekali. Salah satunya yang tengah melakukan kegiatan pembongkaran yakni di komplek pemakaman bersejarah Jannatul Ma’la.

Di komplek tersebut terdapat makam keluarga Rasullah. Selain itu ada pula ulama besar Indonesia yakni KH Maimoen Zubair.

“Jannatul Ma’la ini terdapat makam keluarga Rasulullah termasuk juga makam ulama besar Indonesia yaitu KH Maimoen Zubair. Hari ini dibongkar dan luar biasanya makam KH Maimoen Zubair itu yang dibongkar ditutup kembali karena jasadnya masih utuh,” ungkapnya.

Untuk membuktikannya, ia bahkan sempat menyambagi tempat jasad KH Maimoen Zubair dimakamkan.

Dari video yang diperlihatkan terlihat bekas pembongkaran makam KH Maimoen Zubair yang kemudian ditutup kembali. Ia memperlihatkan pula batu nisan yang bertulis nama KH Maimoen Zubair di atas liang yang baru saja dibongkar itu.

Biografi KH Maimoen Zubair: Keturunan Sunan Giri

KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) dikenal sebagai kiai atau ulama kharismatik dari indonesia. Selain menjadi seorang ulama, beliau juga dikenal sebagai seorang politikus. Berikut profil dan biografi KH Maimun Zubair (Mbah Moen).

Mbah Moen adalah putra pertama dari pasangan Kiai Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah. Beliau dilahirkan di Karang Mangu Sarang hari Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 H atau 1348H atau 28 Oktober 1928.

Dari jalur silsilah kakek, nasab Mbah Moen sampai kepada Sunan Giri. Berikut adalah jalur silsilah nasab Mbah Moen: KH. Zubair bin Mbah Dahlan bin Mbah Carik Waridjo bin Mbah Munandar bin Puteh Podang (desa Lajo Singgahan Tuban) bin Imam Qomaruddin (dari Blongsong Baureno Bojonegoro) bin Muhammad (Macan Putih Gresik) bin Ali bin Husen (desa Mentaras Dukun Gresik) bin Abdulloh (desa Karang Jarak Gresik) bin pangeran Pakabunan bin panembahan Kulon bin sunan Giri.

Sedangkan dari jalur silsilah Nenek yaitu, Nyai Hasanah binti Kiai Syu’aib bin Mbah Ghozali bin Mbah Maulana (Mbah Lanah seorang bangsawan Madura yang bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro).

Ayahnda Mbah Moen, Kiai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Kedua guru tersebut adalah sosok ulama yang tersohor di Yaman.

Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan.

Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara seimbang. Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras.

Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri.

Keluarga Mbah Moen

KH Maimun Zubair (Mbah Moen) diketahui bahwa beliau menikah dengan nyai Hj Fatimah yang merupakan anak dari KH Baidhowi Lasem. Istrinya Hj Fatimah meninggal dunia pada tanggal 18 Oktober 2011. KH Maimun Zubair (Mbah Moen) juga diketahui menikah dengan wanita bernama Nyai Masthi’ah, anak dari KH Idris asal Cepu.

Nama-nama putra-putri beliau diantaranya:

KH. Abdullah Ubab
KH. Gus Najih
KH. Majid Kamil
Gus Abd. Ghofur
Gus Abd. Rouf
Gus M. Wafi
Gus Yasin
Gus Idror
Sobihah (Mustofa Aqil)
Rodhiyah (Gus Anam)

Pendidikan

Dalam riwayat pendidikannya, sejak kecil Mbah Moen sudah dibimbing langsung oleh orangtuanya dengan ilmu agama yang kuat, mulai dari menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam Ilmu Syara’ yang lain.

Pada usia yang masih muda, beliau sudah hafal beberapa kitab di luar kepala di antaranya Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Selain itu, beliau juga mampu menghafal kitab fiqh madzhab Asy-Syafi’I, seperti Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.

Pada tahun 1945 beliau memulai pendidikannya ke Pondok Lirboyo Kediri, di bawah bimbingan KH. Abdul Karim atau yang biasa dipanggil dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali juga KH. Marzuqi.

Setelah itu selesai, kemudian beliau kembali ke kampungnya, mengamalkan ilmu yang sudah beliau dapat. Kemudian pada tahun 1950, beliau berangkat ke Mekkah bersama kakeknya sendiri, yaitu KH. Ahmad bin Syu’aib untuk belajar dengan ulama di Mekkah.

Di antaranya adalah Sayyid Alawi al-Maliki, Syekh al-lmam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly. Disana ia belajar selama 2 tahun.

Pada tahun 1952, Mbah Moen kembali ke Tanah Air. Setiba di Indonesia Mbah Moen kemudian melanjutkan belajar ke beberapa ulama di tanah Jawa. Guru-guru beliau adalah Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abui Fadhol Senori (Tuban), dan beberapa kiai lain.

Mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar

Setelah dirasa cukup untuk menimba ilmu, akhirnya Mbah Moen kembali ke Sarang dan mengabdi kepada masyarakat di sana.

Pada tahun 1965, Mbah Moen mendirikan Pesantren al-Anwar. Pesantren inilah kemudian menjadi rujukan para orang tua, untuk memondokan anaknya untuk belajar kitab kuning dan turats.

Sehingga akhirnya, masyarakat Sarang mengenal KH Maimoen Zubair sebagai sosok ulama yang kharismatik.

Karier Politik dan Kiprahnya di NU

Selain menjadi seorang pengasuh Al-Anwar Sarang, Pada tahun 1971, Mbah Moen terjun ke dunia politik menjadi anggota DPR wilayah Rembang hingga tahun 1978. Kemudian pada tahun 1987, beliau menjadi Anggota MPR RI utusan Jawa tengah hingga tahun 1999.

Kemudian semasa jabatan politiknya di MPR RI, Mbah Moen juga pada tahun 1985 hingga 1990 dikenal aktif dalam NU, Mbah Moen pernah menjabat sebagai Ketua Syuriah NU Provinsi Jawa Tengah. Beliau juga pernah menjadi Ketua Jam’iyah Thariqah NU.

Pada tahun 1995 hingga 1999, Mbah Moen juga aktif dalam organisasi partai seperti menjadi Ketua MPP Partai Persatuan Pembangunan, dan kemudian menjadi Ketua Majelis Syari’ah PPP sejak 2004.

Karya-Karya Mbah Moen

  • Nushushul Akhyar adalah kitab karangan Mbah Moen yang menjelaskan tentang penetapan awal puasa, Idul Fitri dan pembahasan terkait tempat Sa’i.
  • Tarajim Masyayikh Al-Ma’ahid Ad-Diniah bi Sarang Al-Qudama’ merupakan kitab yang ditulis oleh Mbah Moen yang berisi biografi lengkap ulama-ulama Sarang.
  • Al-Ulama’ Al-Mujaddidun kitab inilah yang sering di kaji oleh Gus Baha.
  • Maslakuk Tanasuk kitab ini menjelaskan tentang sanad thoriqot Mbah Moen kepada Sayyid Muhammad Al Maliki dan berisi pembahasan lainnya.
  • Kifayatul Ashhab.
  • Taqirat Badi Amali.
  • Taqrirat Mandzumah Jauharut Tauhid.

Wafat di Makkah

Tahun 2019 saat menunaikan ibadah haji, pada hari Selasa, 6 Agustus 2019 pagi KH. Maimoen Zubair wafat. Atas keinginan sendiri (wasiat) kepada anak-anaknya, beliau ingin dimakamkan di pemakaman Ma’la di Makkah, Arab Saudi.

Beliau tutup usia pada dalam umur 90 tahun. Wallahua’lam.

Continue Reading

Tokoh

Mengenal KH. Abdurrohman Mranggen, Khalifah TQN yang Haulnya Diperingati Setiap Dzulhijjah

Published

on

KH. Abdurrahman Mranggen merupakan salah satu tokoh penyebar Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang sangat berpengaruh di Jawa Tengah. Berkat kegigihan KH. Abdurrahman dan dzuriyahnya, Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah berhasil membumi di masyarakat, khususnya masyarakat Jawa Tengah. 

Tanggal 11 Dzulhijjah 1444 H, merupakan peringatan haul KH Abdurrahman bin Qasidil Haq ke-83. Berikut manaqib beliau.

Kelahiran dan Pendidikan KH Abdurrahman Mranggen  

KH. Abdurrahman lahir di kampung Suburan Mranggen Demak tahun 1872 M. Ayahnya Kiai Kasidin yang dikenal juga dengan KH. Qosidil Haq merupakan seorang guru ngaji. Selain itu setiap harinya Kiai Qosidil Haq juga berkebun dan berdagang, serta menyewakan rumahnya untuk penginapan para pedagang yang datang dari luar kota.

Dalam hal pendidikannya, Kiai Abdurrohman kecil dididik dan dibimbing langsung oleh ayahnya sendiri, lalu setelah memasuki usia dewasa beliau belajar di Pesantren Tayem, Purwodadi, Grobogan. 

Kiai Abdurrorman juga pernah nyantri di sebuah pesantren yang berada di seberang sungai Brantas Kediri Jawa Timur. Setelah pulang dari Jawa Timur, Dirinya berguru pada KH. Abu Mi’raj di Kampung Sapen, Penggaron, Genuk, Kota Semarang, hingga akhirnya dijodohkan dengan putrinya yaitu Nyai Hajjah Shofiyah Abu Mi’raj.  

Kiai Abdurrohman sempat berguru pula pada  KH. Sholeh Darat, seorang ulama besar kenamaan dari Semarang. Juga berguru pada KH. Ibrohim Brumbung Mranggen. Di sinilah Kiai Abdurrohman, di mata  KH. Ibrohim mulai terlihat keistimewaannya. 

Pada suatu ketika KH. Ibrohim akan melaksanakan shalat berjamaah dengan para santrinya, termasuk Kiai Abdurrohman. Sebelum berjamaah  KH. Ibrohim berkata pada santri-santrinya, bahwa ketika nanti apabila ada sesuatu hal terjadi dan ia mampu menghadapinya dengan sabar dan tenang, maka suatu saat nanti akan mempunyai putra yang berhasil menjadi orang yang sholeh dan alim.  

Tidak lama setelah itu ketika KH. Ibrohim melaksanakan jamaah shalat maghrib bersama santri-santrinya. Ketika selesai shalat tiba-tiba ada seekor ular datang menuju ke arah Kiai Abdurrohman, ular itu terlihat merambati tubuhnya, dan hal itu berlangsung sampai shalat jamaah selesai. 

Bahkan menjelang shalat jamaah Isya KH. Ibrohim menuju ke Mushala untuk shalat Isya ternyata masih dijumpai Kiai Abdurroman masih tetap berada ditempatnya dan melihat ular tadi yang masih berada di sekitar Kiai Abdurrohman.

Setelah ular itu pergi dengan sendirinya KH. Ibrohim mengatakan kepada Kiai Abdurrohman bahwa “Kamu termasuk orang yang tahan ujian, sabar dan tabah.” Dalam redaksi yang lain dikatakan bahwa “besok kamu akan memiliki putra yang shaleh, alim, dan menjadi orang besar.”

Perkataan sang guru adalah doa bagi seorang murid, demikian pula perkataan KH. Ibrohim yang mengandung doa itu dikabulkan oleh Allah Swt., dan di kemudian hari Kiai Abdurrohman menjadi seorang ulama dan putra-putrinya menjadi orang-orang yang alim. Di antaranya adalah dua putra beliau yang ketokohan dan keulamaannya begitu masyhur di nusantara, yaitu KH. Muslih Abdurrohman dan KH. Ahmad Muthohar. Dan setelah kejadian tersebut KH. Ibrohim berkenan membaiat Kiai Abdurrohman untuk menjadi Khalifah Thariqah Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. 

Dalam mencari maisyah sehari-sehari, Kiai Abdurrohman berdagang kain di pasar. Meskipun demikian dirinya sangat disiplin dalam beribadah. Di antara kebiasaannya adalah beliau tidak berangkat ke tempat dagang sebelum menunaikan shalat dhuha, meskipun sudah banyak calon pembeli berdatangan, tidak menyurutkan niat mereka untuk membeli kain dari kiai Abdurrahman sehingga mereka nampak setia menunggu sampai beliau datang.

Kiai Abdurrohman juga dicintai para pelanggannya karena suka memberi kelonggaran pada mereka yang mengambil barang dagangannya dulu dan membayar belakangan atau diangsur.  

Selain itu, berkat kejujuran dan kemahirannya dalam berbahasa Arab, para pedagang keturunan Arab yang tinggal di Semarang juga menaruh kepercayaan kepada beliau dan membolehkan dirinya membawa barang dagangannya.

Sosok Kiai Abdurrohman juga dikenal sebagai pribadi yang luwes dalam setiap pergaulan. Bergaul dengan kiai tampak kekiyaiannya, bergaul dengan bangsawan tampak kebangsawanannya, bergaul dengan pedagang kelihatan sifat kesaudagarannya.

Di samping sebagai pedagang, ketokohan Kiai Abdurrohman juga sudah terkenal pada saat itu, dirinya juga sangat perhatian terhadap dunia pendidikan. Terbukti beliau merintis pendirian Pesantren Suburan (kelak berubah nama menjadi Pondok Pesantren Furuhiyyah Mranggen) yang kemudian menjadi pusat pendidikan Islam di Demak dan banyak tokoh-tokoh besar terlahir dari pesantren yang beliau dirikan itu.

Sebagai sorang alim yang berdedikasi tinggi terhadap tugas dan tanggung jawabnya, Kiai Abdurrohman senantiasa mengamalkan ilmu-ilmu yang dikuasai demi pengabdian kepada Allah dan Rasul-Nya, Agama juga kepada Nusa dan Bangsa.

Keluarga KH Abdurrahman Mranggen

Kiai Abdurrohman beristri dua, tapi tidak poligami. Istri pertama Ibu Nyai Suripah ipar KH Ibrohim Brumbung Mranggen dan dikaruniai empat orang putra namun semuanya dipanggil oleh Allah Swt, sewaktu masih kecil yakni setelah ibunya Suripah menghadap kehadirat Allah Swt.

Kemudian dirinya berkenan menikah lagi dengan Hj. Shofiyyah (nama kecil Fatimah) binti KH. Abu Mi’roj bin Kiai Syamsudin Penggaron Genuk Semarang dan dikaruniai 11 Putra-putri antara lain:

1. Hafsoh (lahir di kapal dalam perjalan menuju tanah suci, meninggal di Jakarta dalam perjalanan ke tanah air)
2. KH Usman (wafat 1967)
3. Bashiroh (meninggal sewaktu kecil)
4. KH Muslih (Wafat tahun 1981)
5. KH Murodi (Wafat tahun 1980)
6. Rohmah (meninggal sewaktu kecil)
7. KH Fathan (Wafat tahun 1945)
8. KH Ahmad Muthohar (meninggal tahun 2005)
9. Hj Rohmah Muniri (meninggal tahun 1988)
10. Faqih (meninggal sewaktu kecil)
11. Tasbihah Mukri (meninggal sewaktu kecil)

Akhir Hayat KH Abdurrahman Mranggen

Puluhan tahun KH Abdurrahman mewakafkan dirinya untuk berjuang dalam dakwah menyebarkan ajaran agama serta pengabdiannya kepada masyarakat, sehingga sangat patut jika beliau mendapatkan tempat yang terbaik dan penghargaan dari para kolega dan masyarakat umum lainnya. 

Setelah pengabdiannya kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. KH. Abdurrohman menghadap Ilahi pada tanggal 12 Dzulhijjah 1360 H bertepatan pada tahun 1941 M dalam usia 70 tahun.

Semoga beliau menjadi teladan bagi kita semua.

Continue Reading

Tokoh

Mengenal Syekh Abdul Wahab Rokan, Mursyid Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah dari Langkat

Published

on

Biografi Syekh Abdul Wahab Rokan

Syekh Abdul Wahab Rokan merupakan seorang mursyid Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah. Ayahnya bernama Abdul Manaf bin Muhammad Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tambusai. Sedangkan ibunya bernama Arbaiyah binti Datuk Dagi bin Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim yang memiliki pertalian darah dengan Sultan Langkat.

Ayah Syekh Abdul Wahab, Syekh Abdul Manaf merupakan seorang ulama besar yang ‘abid dan cukup terkemuka di zamannya. Adapun Moyangnya, Maulana Tuanku Haji Abdullah Tembusai adalah seorang ulama besar dan golongan raja-raja yang sangat berpengaruh. Sehingga jika dilihat dari jalur nasab, Syekh Abdul Wahab bukanlah orang sembarangan.

Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi, dilahirkan di Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Riau (sekarang Desa Rantau Binuang Sakti Kecamatan Kepenuhan Kabupaten Rokan Hulu), pada tanggal 19 Rabiul Awal 1230 H/ 28 September 1830 M, dengan nama Abu Qosim dan wafat di Babussalam, Langkat, pada hari Jumaat, 21 Jumadil awal 1345 H/ 26 Desember 1926 M, dalam usia 115 tahun.

Abu Qosim sejak kecil telah menunjukkan minatnya belajar dibidang keagamaan, mulai  dari kampung kelahirannya dengan berguru kepada  Tuan Baqi, kemudian menamatkan Al-Quran dengan H. M. Sholeh, seorang ulama besar yang berasal dari Minangkabau. Selanjutnya Abu Qosim belajar dengan Maulana Syekh Abdullah Halim serta Syekh Muhammad Shaleh Tembusai selama lebih kurang 3 tahun.

Abu Qosim di beri gelar oleh guru nya  “Faqih Muhammad” (orang yang ahli dalam bidang ilmu fiqh). Kemudian Abu Qosim Faqih Muhammad (begitu beliau dipanggil), atas bantuan ayah angkatnya, Haji Bahauddin melanjutkan belajar ke Semenanjung Melayu dan berguru kepada Syekh Muhammad Yusuf yang lebih dikenal dengan Tuk Ongku selama lebih kurang dua tahun. Dari semenanjuang Melayu, Abu Qosim Faqih Muhammad menempuh perjalanan panjang ke Mekah dan menimba ilmu pengetahuan selama enam tahun (1863-1869).

Di antara guru-gurunya di Mekkah yaitu Syekh Saidi Syarif Dahlan (Mufti Mazhab Syafi’i). Syekh Hasbullah (ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram) dan Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Abu Qubais, Mekkah. Syekh Sulaiman Zuhdi inilah yang kemudian memberi ijazah (pegesahan) dan membaiat nama dari Abu Qosim Faqih Muhammad menjadi Abdul Wahab dan memperoleh ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah” (Syekh yang dapat mengembangkan Tarekat di daerahnya), sehingga Abdul Wahab (hamba Allah Yang Maha Pemberi) menjadi bernama Syekh Abdul Wahab Al Khalidi Naqsabandi, kemudian Syekh Abdul Wahab Al Khalidi Naqsabandi menambahkan nama daerah sebagai asal usulnya, yaitu Rokan sehingga lengkapnya menjadi Syekh Abdul Wahab Rokan Al Khalidi Naqsabandi.

Berdasarkan silsilah Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Wahab Rokan menduduki urutan ke-17 dari pendiri tarekat tersebut, yakni Baha’al-Dîn al-Naqsyabandiyah, dan urutan yang ke-23 dari Nabi Muhammad saw.

Awal Pengembangan Tarekat

Sepulangnya dari Makkah, beliau kembali ke kampung halamannya Rokan Riau, dengan membangun sebuah perkampungan di Kubu (sekarang masuk daerah Kabupaten Rokan Hilir), yang bernama Kampung Masjid. Kampung ini menjadi basis penyebaran agama Islam. Dari hasil dakwahnya ini, beberapa raja Melayu di pesisir Pantai Timur Sumatera Utara seperti Panai, Kualuh, Bilah, Asahan, Kota Pinang, Deli dan Langkat selalu mengundang Syekh Abdul Wahab Rokan untuk berceramah di lingkungan dan kalangan istana. Salah seorang sultan bernama Sultan Musa Mu’azzamsyah dari Kesultanan Langkat menjadi pengikut Tarekat Naqsyabandiyah yang setia sehingga ia diangkat menjadi khalifah.

Kehadiran Syekh Abdul Wahab Rokan sebagai ulama yang disegani dan yang selalu mendapat dukungan dari raja-raja Melayu, membuat Belanda mencurigai gerak-gerik Syekh Abdul Wahab Rokan yang mengakibatkan ia tidak merasa nyaman lagi tinggal di daerah Kubu. Akhirnya, ia pindah ke Kualuh (Labuhan Batu) atas permintaan Sultan Ishak penguasa Kerajaan Kualuh, Di sana ia membuka perkampungan sebagai pusat dakwahnya yang namanya sama dengan perkampungan di Kubu yaitu Kampung Mesjid.

Setelah Sultan Ishak wafat, posisinya digantikan adiknya yang bernama Tuanku Uda. Tetapi sangat disayangkan, Tuanku Uda kurang simpati kepada Syekh Abdul Wahab Rokan. Dalam kondisi tersebut, Sultan Musa penguasa Kerajaan Langkat justru simpati dan mengharapkan agar Syekh Abdul Wahab Rokan pindah ke Langkat. Akhirnya setelah bermusyawarah dengan para muridnya, ia memutuskan untuk pindah ke Langkat, meninggalkan Kualuh.

Di Langkat, tepatnya tahun 1300/1882, ia mulai membangun perkampungan dan pusat persulukan Tarekat Naqsyabandiyah yang bernama Babussalam. Babussalam mulai di bangun pada 12 Syawal 1300 H (1883 M) yang merupakan wakaf muridnya sendiri Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja Langkat. Tempat ini masih ada sampai sekarang. 

Pokok Ajaran Syekh Abdul Wahab Rokan

Pokok ajaran Syekh Abdul Wahab Rokan dalam tarekat berpegang kepada pemikirannya yang tertuang dalam wasiatnya 44. Konsep hidup hemat dan sederhana adalah salah satu ajaran tarekat yang menjadi pegangan para pengikutnya (zuhud). Hidup zuhud adalah suatu perjalanan spiritual menuju Allah. Hidup zuhud bukan berarti menafikan harta dan kehidupan dunia. Ia berpendapat harta kekayaan adalah nikmat dan anugerah Allah yang pantas diterima dan disyukuri. Namun walau memiliki harta, tidak harus digunakan secara berlebihan, dengan kata lain adanya keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Sebelumnya, peringatan setiap tahun hanya di peringati haulnya saja (hari wafatnya) di Babussalam Langkat Sumatera Utara, tempat Syekh Abdul Wahab Rokan mengembangkan ajaran tarekat terakhir sampai beliau wafat, Namun mulai tahun 2019, dilaksanakan pula Milad (hari kelahiran) beliau, pertama kali bertepatan dengan yang ke 208 tahun kelahirannya.

Peringatan Milad ini di laksanakan di Desa Rantau Binuang Sakti, Kecamatan Kepenuhan Kabupaten Rokan Hulu, tanggal 5 Desember 2020, sebagai tumpah darah kelahiran Syekh Abdul Wahab Rokan, seorang sufi yang handal, tidak saja di tingkat regional namun sampai ke tingkat nasional dan bahkan negara tetangga. Peringatannya ditandai dengan melaksanakan suluk 10 hari dan  tahun 2019 yang lalu, telah di laksanakan pula pembuatan duplikat makam beliau di samping Surau Suluk yang cukup refresentatif di Rantau Binuang Sakti.

Adapun untuk saat ini, tonggak kemursyidan sudah masuk pada mursyid ke-12 yaitu diserahkan kepada Tuan Guru Syekh Dr. Zikmal Fuad MA. yang sebelumnya dipegang oleh Syekh H. Irfansyah Al Rokany.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending