Connect with us

Artikel

Meminta Pertolongan dan Perlindungan Kepada Allah

Syaikh Jibril memulai majelis ini dengan bersyukur kepada Allah dan berharap perjumpaan majelis di malam ini di berkahi oleh Allah Swt dan apa yang akan kita lakukan dalam majelis ini menjadi dzikir kita kepada Allah Swt. Dan semoga majelis ini menjadi majelis yang di terangi oleh cahaya Al-Qur’an dan Sunnah dengan ajaran-ajaran para Sufi khususnya penulis dari kitab ini yaitu kitab “Nawadirul Usul” yang di gubah oleh Syekh Al Hakim Al Tirmidzi.

Published

on

Pelajaran 1: Selain itu juga beliau mengharapkan keberkahan-keberkahan dari guru-guru Sufi khususnya Syaikh Nazim dan juga Syaikh Muhammad Hisyam. Lalu dikatakan bahwa hadis-hadis ini dikumpulkan oleh Syaikh Al-Hakim Al-Tirmidzi, yang mana beliau berasal dari Asia Tengah, yang juga beliau memohon kepada kita semua untuk membacakan Al-Fatihah kepada Sayyidina Muhammad Saw, beserta dengan keluarganya, dan juga kepada para Masyaikh, begitu juga kepada Syaikh Nazim dan Syaikh Hisyam.

Syaikh Gibril, beliau juga menyampaikan bahwa jalur dari periwayatan kitab Nawadirul Usul ini beliau dapatkan daripada seorang ulama Syam yang bernama Syaikh Salim Habami di kota Damaskus. Beliau mengatakan, bahwasannya beliau mengambil riwayat-riwayat ini dari Syaikh Salim Habami, yang beliau ambil dari Muhaddis Syam yang terkenal dengan nama Syaikh Badruddin Al Hasani, Syaikh Badruddin Al Hasani kemudian mengambil dari Syaikh Salim Al-Khawatib, lalu Syaikh Salim Al-Khawatib mengambil dari Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqolani, lalu Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqolani mengambil hingga sampai kepada sang Muallif kitab yaitu Syaikh Al-Hakim Al-Tirmidzi.

Syaikh Gibril Fouad Haddad memulai kajian ini dengan menyampaikan dasar pertama yang di bicarakan dalam kitab ini, yaitu BAB “Meminta Pertolongan dan Perlindungan Kepada Allah”. Yaitu mengenai kalimat “Istiadzah” (ta’awwudz) yang memuat pertolongan.

Pada hadis yang pertama, dikatakan seseorang datang kepada Rasulullah Saw, dan bertanya kepada Rasulullah Saw;

“Yaa Rasulullah, aku tidak bisa tidur”

Lalu di jawab oleh Rasulullah Saw,

“Mengapa demikian? Ada apa yang terjadi?

Sahabat mengatakan bahwa kalajengking telah menyengat orang tersebut. Lalu Rasulullah Saw bersabda,

“Maka bacalah sebelum tidur,

 أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan ciptaan-Nya,”

maka dengan membaca do’a tersebut, tidak ada hal yang akan membahayakan dirinya”

Hadits yang kedua, Shaykh Gibril menerangkan bahwa hadis yang di utarakan adalah serupa dengan hadis yang sebelumnya namun ada penambahan dari penekanan dalam satu kalimat. Dikatakan, sebelum engkau tertidur bacalah A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq. Didalam kalimat tersebut ada penambahan huruf alif, maknanya adalah keutamaan daripada kalimat tersebut. Dikatakan aku berlindung kepada Allah dari jahatnya Syaitan yang Kau telah ciptakan. Apabila kita membaca itu, kita akan terjaga hingga pagi hari.

Pada hadis yang ketiga (hadis yang serupa) dialami oleh seorang sahabiyat yaitu sahabat wanita yang bernama Khaulah binti Hakim As-Sulamiyah, dikatakan aku mendengan Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang berhenti untuk bermalam di suatu tempat (Syaikh Gibril memperjelas hadis ini dengan mengatakan dimana saja baik itu di hotel, dirumah kerabat atau di rumah saudara) maka memohonlah perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan ‘A’udzubikalimatillahittaammati min syarri maa khalaq (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna dari segala macam kejahatan yang terjadi), niscaya dia terhindar dari segala bahaya yang mengancam, sampai dia berangkat dari tempat itu.

Hadis keempat yaitu dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. Rasulullah Saw bersabda bahwa Barangsiapa yang terbangun lalu terjaga di malam hari (terkejut lalu berprasangka takut) maka memohonlah perlingdungan kepada Allah (sebagaimana redaksi hadis sebelumnya) namun ada perubahan di akhir do’anya, yaitu dengan berkata aku berlindung daripada amarah, daripada siksa dan daripada sentuhan Syaitan. Jika seorang anak sudah bisa membacanya dengan baik maka bisa langsung membacanya. Namun jika anak tersebut belum bisa membacanya, maka tulislah bacaan tersebut di secarik kertas lalu ikatlah kepada leher anak tersebut.

Pada hadis yang ke lima dari Ibnu Abbas ra. Dikatakan bahwa Rasulullah mendoakan Hasan dan Husain, dia mengatakan bahwa aku menaruh perlindungan (do’a) untuk Hasan dan Husain, aku memohon pertolongan kepada Allah (pertolongan yang sempurna dari Allah, dari semua Syaitan, daripada hewan, dan daripada mata Syaitan yang mengganggu) dan itupun adalah hal serupa yang dilakukan oleh ayahku Ibrahim As terhadap puteranya Ismail As.

Al Hakim At-Tirmidzi menjelaskan bahwa dalam kalimat A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaqapabila di baca kalimat pertama dengan sempurna dan ataupun juga di baca dalam bentuk jamak, maka seperti apa yang di Firmankan oleh Allah di dalam al-Qur’an,

 إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْــًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

Artinya: “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (Quran 36:82)

“Dikatakan “كُن”. Kun bermakna terjadi seperti كُن فَيَكُونُ maka akan terjadi, dan benar-benar pasti akan terjadi. Ketika suatu masalah sudah diputuskan akan kejadiannya terjadi, maka akan terjadi.

Syakh Al-Hakim At-Tirmidzi menjelaskan kata-kata “كُن” yang ada di dalam al-Qur’an itu menjadi kalimat (kata) yang sempurna, karena sebenarnya di dalam kaidah-kaidah bahasa Arab, sebuah kata akan menjadi sempurna jika terdiri dari 3 huruf. Namun kata “Kun itu hanya memiliki dua huruf, dan itu menjadi sempurna. Syaikh Gibril juga memberikan contoh lain, berupa kata يد yadun”. Kata yadun berarti tangan yang terdiri dari dua huruf yaitu ي “ya” dan د “dal” begitu pula dengan دم damun berarti darah yang terdiri dari د “dal” dan م “mim”. Dan juga kata غد “Gadun” berarti besok yang terdiri dari غ “Ghin” dan د “dal”. Semua kata-kata tersebut jika di ucapkan oleh manusia tentunya bukan menjadi kata-kata yang sempurna, karena tidak terdiri daripada tiga suku kata. Lainhalnya dengan kata “Kun”. Kata “Kun” yang mengucapkan adalah Allah Swt di dalam Al-Qur’an. Kata Kun” menjadi kalimat yang sempurna karena Allah Swt yang tanpa organ dan juga adalah Tuhan Yang Menciptakan Segalanya, maka ini menjadi kalimat yang sempurna. Apapun yang datang daripada Allah, yaitu Al-Qur’an, menjadi komplit dan sempurna. Apa yang disampaikan-Nya didalam Al-Qur’an adalah suci dan sempurna. Apapun yang telah terjadi (yang dikatakan oleh Allah) tidak ada yang bisa berlepas daripada itu dan juga tidak ada yang bisa mengulurkan waktu kedatangannya, semua akan terus terjadi.

Shaykh Gibril menjelaskan kepada kita, ketika kalimat digunakan dalam bentuk plular (jamak) tetap akan menjadi ketetapan yang nyata. Lalu beliau mengutip daripada hadis Qudsi yang berbunyi “Sesungguhnya pemberian-Ku adalah kata-kata, dan hukuman-Ku juga adalah kata-kata.” maksudnya adalah perkataan “Kun”. Hadis Qudsi ini di riwayatkan oleh Ahmad dan Tirmdzi. Selanjutnya Syaikh Gibril menjelaskan apa yang dikatakan oleh Al-Hakim At-Tirmidzi mengenai kata “Kun” yang terdiri dari ك “kaf” dan ن “nun”, kata “kaf” berasal dari “kainuna” yang berarti keberadaan Allah Swt dan kata “nun” adalah daripada cahaya Allah Swt. Allah telah memilikinya untuk eksistensi keberadaan-Nya serta untuk makhluknya. Jika seorang hamba berlindung dengan menggunakan kalimat ini, maka perlindungannya akan menjadi perlindungan yang sempurna. Kita akan terlindungi. Lalu beliau mengatakan pula bahwa ini adalah suatu hal yang utama ketika antara muslim dan non muslim (yang tidak eksis) kecuali semua telah ditentukan oleh Allah Swt Qada dan Qadarnya.

Ketika seorang hamba Allah menggunakan kata tersebut, maka hatinyapun akan tercetus untuk mengikuti kata tersebut. Umpamanya di dalam kehidupan, ketika manusia melihat sesuatu, ia akan terpesona atau ia akan merasa ketakutan. Ketika kehendak Allah Swt terjadi, maka semua serta merta mengikuti kehendak Allah. Hatinya, telinganya, matanya pun mengikuti kalimat tersebut.

Ketika kita berkata A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq maka kita akan diberi perlindungan oleh Allah Swt daripada hal-hal yang berbahaya. Maka seorang hamba ketika membacakan kalimat tersebut, pada dasarnya dia akan memasuki sebuah benteng yang sangat kokoh, yaitu benteng perlindungannya Allah Swt. Ibaratnya ketika kita masuk kedalam rumah, dimana kita bisa duduk dengan baik, dan minum kopi disitu. Artinya kita merasa tenang dan nyaman di dalamnya. Itulah perlindungan daripada Allah Swt. Dengan ketakwaan yang kita miliki, dengan kesadaran atas apa yang kita ucapkan, maka ketika kita mengucapkan kalimat tersebut dan tidak ada kelalaian di dalam diri kita, maka kita akan mendapatkan realisasinya dan keyakinan kepada Allah bahwa kita mendapatkan perlindungan daripada Allah Swt. Begitu pula dengan jiwa dan akal pikiran kita, semuanya merasakan kedamaian ketika kita mengucapkan kalimat itu dengan baik dan benar, hati kita akan merasakan kenyamanan. Namun jika kita mengucapkan kalimat tersebut dalam keadaaan lalai, tetap saja kita akan mendapatkan manfaat dan perlindungan daripada Allah Swt karena keagungan Allah Swt.

Syaikh Gibril mengatakan bahwa yang dikatakan sebagai “ahlul gaflah” adalah kita semua, yang dimaksud dengan “ahlul gaflah” dalam bahasa Indonesia adalah orang-orang yang dalam keadaan lalai, itulah kita semua. Wa;aupun begitu, ketika kita yakin bahwa kita ini memang lalai, kita tetap harus berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi lebih baik, (orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang yang seperti aku). Hamba Allah yang berkata A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq, walaupun dia lalai, dan hatinya tidak mengerti, tetapi tetap mendapatkan perlindungan daripada Allah Swt, seperti halnya juga ketika Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa jika seorang hamba berkata حَسْبِيَ اللَّهُ (cukuplah Allah bagiku) sebanyak tujuh kali kepada Allah, maka dengan Allah (Demi Keagungan dan Keperkasaan-Nya), akan aku berikan mereka bukti baik itu mereka dalam keadaan lurus maupun berbohong. Ketika mengatakan kalimat “Hasbiallah” itu maka mereka tetap mendapatkan perlindungan karena mereka adalah orang-orang yang yakin kepada Allah Swt. Walaupun kita memiliki kelemahan, memiliki dosa, namun keyakinan kita kepada Allah Swt ini memberikan jalan bagi kita untuk terus mendapatkan perlindungan. Percaya kepada Allah, berkeyakinan kepada Allah ibarat seperti Imam Ahmad bin Hanbal, walaupun ia kehilangan uang receh atau sesuatu di rumahnya, namun ia tetap merasakan bahagia, karena yang ia yakini (yang ia percaya) Allah Swt, ia bergantung kepada Allah Swt.

Selanjutnya Shaykh Gibril menceritakan kisah Sayyidina Ibrahim As yang dilempar kepada api yang menyala-nyala, ketika pada saat itu ada satu lembah yang begitu luas, disana apinya begitu menyala-nyala, dan Nabiyullah Ibrahim di simpan diatas bukit dengan tangan terikat juga baju yang sudah terbuka, lalu dalam keadaan seperti itu, beliau sudah siap dilemparkan kedalam api. Apapun yang terjadi pada saat itu, para malaikat bersedih hati, dunia bersedih hati, semuanya merasakan sedih, menangis, melihat kejadian tersebut, para Awliya pun juga begitu. Lalu, tiba-tiba datanglah sayyidina Jibril As di atas udara, dia datang dan mendekat kepada Sayyidina Ibrahim, kemudian menawarkan pertolongan “engkau butuh pertolongan Sayyidina Ibrahim?”, namun jawaban daripada Nabi Ibrahim sungguh mengejutkan hati kita bahwa apa yang beliau katakan “Saya tidak membutuhkan pertolongan engkau, namun Hasbiallahu… Cukuplah Allah Swt sebagai penolong bagiku.” lalu dia merasakan bahwa apa yang dibawakan oleh Sayyidina Jibril ini (tawaran pertolongan), bukannya menjadi pertolongan, baginya ini adalah sebuah “imtihan” atau ujian bagi seorang Nabi. Ketika ditawarkan pertolongan daripada malaikat Jibril, yang dia inginkan hanya Allah. Bagi dia “Hasbiallah”, cukuplah Allah. Lalu Allah menetapkan untuk Sayyidina Ibrahim mendapatkan kesejukan, maka Allah mengatakan kepada api untuk menjadi sejuk lalu menjadi sejuklah api tersebut.

Imam At-Tirmidzi menjelaskan kembali mengenai ujian yang dilalui oleh orang-orang yang beriman, dan Nabi Ibrahim memberikan contoh bagaimana dengan pengucapan “Hasbiallah” yang penuh dengan kejujuran dari hatinya, dan dia termasuk orang-orang yang benar (shiddiq), maka hasbunallah yang dia baca tersebut adalah Hasbunallah yang dibaca oleh orang-orang yang lurus, orang-orang yang memiliki keyakina didalam hatinya, dan ketika beliau mengucapkan hasbunallah pada saat itu, beliau tidak memiliki yang lainnya, tidak memiliki keduniawian, tidak memiliki pertolongan daripada malaikat, maka perkataan “Hasbiallah” yang shiddiq, membuatnya menjadi Khalilullah” atau kekasih Allah. Dan beliau akan menjadi orang yang pertama kali memakai pakaian nanti di hari akhir diantara deretan para Nabi-Nabi dan juga para kaum muslimin, dia akan menjadi orang pertama yang memakai pakaian, karena ketulusannya dalam ujian dan mengatakan “Hasbiallah”. Dialah yang dikatakan sebagai orang-orang Ahlul Yaqin, yang mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang memiliki hati yang berkecamuk? Bercampur aduk antara mengakui sebagai seorang muslim, namun perilakunya masih condong kepada keduniaan (mengikuti keinginan-keinginan, mengikuti properti-properti atau hal-hal yang membawa mereka kepada fitnah)?, maka dalam mengikuti Sayyidina Ibrahim harus memiliki keimanan yang sempurna, sungguh-sungguh, dan berkata “Hasbiallah” dengan keimanan, maka mereka menjadi orang-orang yang ikhlas, yang sungguh-sungguh. Namun, orang Islam yang hatinya masih berkecamuk, masih bercampur aduk, mereka tetap menjadi orang-orang yang beriman, tetapi mereka bukan dari kalangan orang-orang Ahlul Muhaqqiq, yaitu orang-orang beriman dengan kesungguh-sungguhan yang lebih kuat. Sebagai penutup, dikatakan Syaikh Al Hakim dari kalangan Hanafi, menyamakan antara Iman dengan Islam, maka yang dikatakan mukmin adalah orang-orang yang Ahlul Yaqin.

Mengulang kembali pembahasan pada pertemuan ini, bahwa ada dua tahapan (dua level) yang dimiliki oleh manusia. Pertama, adalah mereka yang dekat dengan Allah, yakin, menunggu, dan selalu melihat dengan perintah (ketentuan) Allah Swt. Mereka termasuk orang-orang yang berserah diri kepada Allah Swt. Namun ada pula orang-orang yang pada umumnya mata dan telinga ini melihat serta mendengar buka karena Allah, namun demi kepada sebab musababnya. Yaitu melihat hal ini dan hal itu bisa terjadi, bagaimana saya bisa lolos daripada ujian ini? Atau berbagai macam cara yang dia fikirkan dengan sebab musabab apa yang bisa terjadi. Orang-orang yang berkata, memohon perlindungan, dengan mengucapkan “Hasbiallah” namun memiliki hati yang lalai seperti ini, mereka tetap mendapatkan perlindungan daripada Allah. Mengapa? Karena kalimat yang diucapkan adalah kalimat yang suci dari-Nya. Maka meraka tetap mendapatkan perlindungan walaupun hati mereka adalah hati yang lalai atau gaflah. Wallahu’alam.

Dr. Gibril Fouad Haddad

Continue Reading

Artikel

Konsep pemahaman Isyraqiyah Tasawuf Irfani Syekh Syuhrawardi al-Maqtul

Published

on

Suhrawardi Al-Maqtul lahir pada tahun 548 H/1153 M di Suhraward (Iran Barat Laut). Suhrawardi dikenal dengan Syekh al-Isyraq atau Master of Illuminasionist (Bapak Pencerahan), Al-Hakim (Sang Bijak) dan Al-Maqtul (Yang Terbunuh).

Suhrawardi mendapat pendidikan awal dari Majd al-Din al-Jilli di Maraghah, di sini ia mempelajari ilmu kalam dan filsafat. Setelah itu, ia memperdalam kajian filsafat kepada Fakhruddin al-Mardini di Isfahan di mana Suhrawardi menjadi teman sekelas Fakhriddun al-Razi.

Selanjutnya Suhrawardi belajar pada Zhahir al-Din al-Qari al-Farsi, seorang ahli logika yang meperkenalkan kepadanya kitab al-Bashair al- Nashiriyah karangan umar Ibn Sahlan al-Sawi, yang juga dikenal sebagai komentator Risalah al-Thair karangan Ibn Sina.

Dalam diri Suhrawardi terhimpun dua keahlian yaitu dalam bidang filsafat dan tasawuf. Oleh karena itu, kecerdasan dan ketinggian pengetahuan Suhrawardi mampu menarik perhatian banyak orang. Sehingga sanggup mengalahkan pakar dan ulama pada masa itu, di lain pihak terdapatnya kecemburuan dan merasa terancamnnya para ulama dan fuqaha dengan kehadiran Suhrawardi.

Suhrawardi pernah diundang oleh Malik Az-Zahir seorang penguasa Ayyubid (Aleppo), penguasa tersebut sangat suka kepada para sufi dan cendekiawan. Tetapi hakim-hakim agama yang takut kepada filsuf-mistik yang muda dan pandai itu akhirnya membujuk raja, dengan bantuan ayahnya Saladin-pahlawan perang salib untuk memenjarakan Suhrawardi.

Seorang hakim terkenal bernama Qadhi Al-Fadhil mengirimkan surat kepada Saladin dan menuntut agar Suhrawardi dieksekusi dan dijebloskan ke dalam penjara. Suhrawardi meninggal dalam penjara berusia 38 tahun.

Adapun penyebab langsung kematiannya di penjara masih merupakan misteri yang belum terjawab hingga kini.Suhrawardi adalah seorang pemikir yang produktif. Dalam kehidupannya yang terbilang cukup singkat, Suhrawardi menulis hampir 50 karya baik dalam bahasa Arab mau pun Persia. Karya-karyanya ditulis dalam gaya yang indah dan bernilai sastra tinggi. Karya-karya Suhrawardi yang membentuk filsafat isyraqi terutama tersusun dalam Hikmah al-Isyraq.

Filsafat Isyraqi

Pemikiran filsafat Suhrawardi yang paling terkenal adalah Hikmatul Isyraq atau filsafat iluminasi. Syekh Prof. Muhammad Rajab Ali Al-Hasani dalam Muqaddimah kitab Syawakil Hurr fi Syarh Haykal Nur menjelaskan,

والإشراق في اللغة: الإضاءة والإنارة، يقال: “أشرقت الشمس” طلعت واضاءت، و”اشرق وجهه” : أي أضاء

“Isyraq secara bahasa berarti penerangan dan pencahayaan. Dikatakan, ‘Matahari bersinar,’ terbit dan bersinar, dan ‘wajahnya bersinar’ artinya bersinar.

وفي اصطلاح الحكماء هو ظهور الأنوار العقلية ولمعانها وفيضانها على الانفس الكاملة عند التجرد عن المواد الجسمنة

“Secara istilah, hikmah adalah penampakan cahaya akal, kecemerlangannya dan luapannya ke dalam jiwa yang sempurna ketika substansi jasmani dilucuti.”

Istilah Isyraq yang berarti penyinaran di sini berhubungan dengan simbol dari matahari yang selalu terbit di timur dan memberikan sinarnya berwujud cahaya ke seluruh alam. Cahaya merupakan simbol pengetahuan atau simbul spiritual dan simbol sesuatu yang immateri.

Filsafat Suhrawardi berbeda dari filsafat yang telah ada sebelumnya. Filsafat sebelumnya lebih banyak bertumpu pada peran rasio. Sedangkan filsafat Suhrawardi menggabungkan antara peran rasio dengan intuisi (Dzauqi). Dengan kata lain, filsafatnya Suhrawardi adalah filsafat yang dipadukan dengan tasawuf. Hal ini tidak mengherankan, karena Suhrawardi adalah seorang filsuf dan sekaligus seorang sufi. Dalam mazhab Isyraqi Suhrawardi mencoba menggabungkan cara nalar dan cara intuisi, menganggap keduanya saling melengkapi.

Menurut Suhrawardi seseorang yang telah menggabungkan daya intelektual (rasional) dan daya intuisi, sehingga orang tersebut memperoleh pengetahuan maka orang tersebut dapat dikatakan sebagai insan kamil, dan memiliki kedudukan sebagai khalifah Allah Swt.

Suhrawardi mulai memaparkan konsepsinya tentang keesaan Tuhan. Dia menjelaskan bahwa tuhan adalah cahaya atas cahaya, kemudian dari itu terjadilah penyinaran yang mengakibatkan sumber-sumber cahaya yang lain. Adanya penyinaran itu selanjutnya mewujudkan sendi-sendi alam materi dan ruhani. Alam secara keseluruhan muncul karena sinar Allah dan limpah-Nya.

Proses Isyraqi menurut Suhrawardi dimulai dari Nur al-Anwar, (cahaya segala cahaya). Nur al-Anwar menurutnya merupakan sumber bagi segala cahaya yang ada. Ia Maha Sempurna, Mandiri, Esa dan tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya.

Nur al-Anwar ini hanya memancarkan sebuah cahaya yang disebut dengan Nur al-Aqrab (cahaya terdekat) dan ia merupakan cahaya pertama. Nur al-Aqrab sebagai cahaya pertama memancarkan cahaya kedua, cahaya kedua memancarkan cahaya ketiga, cahaya ketiga memancarkan cahaya keempat, begitu seterusnya hingga mencapai cahaya yang jumlahnya sangat banyak.

Pada setiap tingkatan penyinaran setiap cahaya menerima pancaran langsung dari Nur al-Anwar dan tiap-tiap cahaya meneruskan cahayanya ke masing- masing cahaya. Yang berada di bawah selalu menerima pancaran dari Nur al-Anwar secara langsung dan pancaran dari semua cahaya yang berada di atasnya.

Dengan demikian, semakin ke bawah tingkat suatu cahaya semakin banyak pula ia menerima cahaya. Demikian secara ringkasnya proses Iluminasi dalam filsafat Suhrawardi. 

Kesimpulan dari proses filsafat Isyraq Suhrawardi adalah setiap Nur (cahaya) yang berada di bawah merupakan penerima pancaran Nur sebanya dua kali dari jumlah pancaran yang diberikan oleh cahaya yang berada setingkat di atasnya.

Kesimpulan tersebut berdasarkan argumentasi berikut yaitu cahaya kesatu (Nur al- Aqrab) memperoleh satu kali pancaran, cahaya kedua memperoleh dua kali pancaran, cahaya ketiga memperoleh empat kali pancaran, cahaya keempat memperoleh delapan kali pancaran, cahaya kelima memperoleh cahaya enam belas kali pancaran, dan seterusnya.

Filsafat Isyraqi Suhrawardi juga menggunakan susunan alam (kosmos) pada tiap tingkatan cahaya yang terpancar dari Nur al-Anwar, seperti yang digunakan dalam filsafat Al-Arabi dan Ibnu Sina pada teori emanasi.

Suhrawardi menyebut manusia sebagai alam kecil yang terdiri dari ruh dan jasad, sehingga ruh termasuk dalam kategori alam cahaya dan jasad termasuk dalam kategori alam kegelapan.

Agar manusia selalu berada di dalam cahaya dan dapat memantulkan cahaya tersebut ke seluruh penjuru alam, manusia harus  menguasai kehidupan ruhaninya sehingga jasmani tunduk dengan kata lain kehidupan cahaya harus selalu menguasai dan mengalahkan kegelapan.

Continue Reading

Artikel

Syekh Jahid Sidek: Kaidah Kesufian dalam Menanamkan Kedamaian Hidup (3)

Published

on

Terbentuk Hati yang Mutmainnah.

Allah berfirman dalam Surat Ar-Ra’d ayat 27-28,

قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَنۡ أَنَابَ

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ  

“Katakanlah (Muhammad), sesugguhnya Allah akan menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberi petunjuk kepada orang yang kembali (taubat zahir batin) kepada-Nya. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang sebab zikir kepada Allah. Ingatlah, (hanya) dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”.

Dari ayat di atas terdapat empat syarat untuk mendapat hidayat yang khusus, yaitu sentiasa bertaubat dari semua dosa hingga taubatnya meningkat ke tingkat inabah, kuatkan iman, beramal salih dan terus berzikrullah. Dengan kaidah ini, hati akan mutmainnah.

Akhirnya Sampai Kepada Allah

Bila hati sudah mencapai tingkat mutmainnah, maka Allah akan karuniakan hidayah yang khusus seperti yang Allah sebutkan dalam Surat Al-Fajr ayat 27-30,

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ

ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ

 فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي

وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي

“Wahai hati yang tenang (mutmainnah), kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridla dan diridlai. Masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu ke dalam surge-Ku”.

Allah akan memberikan karunia pada hati yang mutmainnah berupa,

Pertama, hati, ruh atau nafs mereka akan diberikan karurnia berupa mengenal Allah sebagaimana sebelum ia masuk ke jasad, di mana ketika itu ruh manusia telah bermusyahadah kepada Allah, seperti yang disebutkan dalam Surat Al-A’raf ayat 172,

أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ

“Tidakkah Aku ini Tuhan kamu? Mereka (ruh-ruh manusia) menjawab, ‘benar, kami bersaksi’.”

Dengan itu, apabila hati telah benar-benar mutmainnah, maka Allah akan singkap berbagai hijab, sehingga hati manusia dapat musyahadah terhadap wujud Allah. Inilah antara hakikat dan makrifah Allah yang Allah sampaikan secara ladduni atau secara mukasyafah.

Kedua, Allah karuniakan kepada orang tersebut maqam ridla dan diridlai Allah.

Ketiga, orang tersebut akan menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Ini berarti orang tersebut telah menjadi seorang muhsin, ulul-albab yang apabila beramal dapat berbuat dengan sebaik-baiknya, seperti yang Allah sebut dalam Surat Az-Zumar ayat 17-18,

وَالَّذِيۡنَ اجۡتَنَـبُـوا الطَّاغُوۡتَ اَنۡ يَّعۡبُدُوۡهَا وَاَنَابُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ لَهُمُ الۡبُشۡرٰى​ ۚ فَبَشِّرۡ عِبَادِ ۙ‏

ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Dan orang-orang yang menjauhi Tagut (yaitu) tidak menyembahnya1 dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira; sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku. (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.1 Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Keempat, mereka akan mendapat nikmat terbaik di dunia, yaitu hati atau ruh mereka dapat bermusyahadah kepada Allah. Menurut sebagian ahli sufi, yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, “Masuklah ke surga-Ku”, itu ialah jannatul `ajilah atau surga di dunia, berupa kebahagiaan yang didapatkan ketika hati berada dalam keadaan musyahadah. Adapun surga yang kedua ialah aajilah, yaitu surga yang akan datang di akhirat berupa melihat Zat Allah Swt.

Salik sampai kepada Allah

Sampai kepada Allah adalah berhasil mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Yaitu ketika Allah limpahkan makrifah ke dalam hati hamba-Nya yang dikasihi. Makrifah merupakan tingkatan tertinggi yang di bawahnya adalah kepahaman (al-Fahm) dan pengetahuan (al-‘Ilm).

Al-Ilm berada di posisi paling bawah. Orang yang berilmu disebut sebagai alim. Sedankan Al-Fahm kedudukannya lebih tinggi dari ilmu. Orang yang memiliki kepahaman disebut al-fahim. Setiap orang yang fahim dia alim. Sebaliknya tidak semua orang yang alim, dia fahim.

Kedudukan tertinggi ialah makrifah. Orang yang dikaruniai Allah makrifah disebut ‘arif, atau lebih lengkap ‘arifbillah.

Ilmu dan faham termasuk dalam perkara yang diusahakan oleh hamba. Sebab itu ilmu dan kepahaman disebut sebagai ilmu kasbi jamaknya al-ulum al-kasbiyyah. Sebaliknya makrifah adalah perkara wahbi. Oleh sebab itu makrifah masuk dalam al-ulum al-wahbiyyah ataukadang disebut al-ulum al-mukasyafah atau al-ulum al-zawqiyyah.

Dengan makrifah seorang mukmin meningkat ke tingkat ihsan dan menjadi seorang muhsin.

Sabda Rasulullah saw.

الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

“Ihsan ialah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah melihatmu.”

Menurut pandangan Syekh Ibnu Rajab Al-Hambali (w.795H) dalam kitabnya Jami’ al-Ulum wal Hikam, bahwa ketika seseorang mukmin sampai ke tingkat ihsan tersebut, Allah akan limpahkan ke dalam ruang hatinya makrifah. Selanjutnya beliau menegaskan tingkatan ihsan berdasarkan kepada hadis tersebut yang terbagi menjadi dua tahap.

Tahap pertama ialah ketika seseorang berada dalam keadaan  أن تعبد الله كأنك تراه, Allah limpahkan dalam ruang hatinya makrifah. Bagaimanapun, disebabkan karena orang tersebut berada dalam keadaan fana’fillah maka sifat kehambaannya tidak sempurna. Sehingga orang itu disebut sebagai al‘Arif an-Naqis.

Sedangkan apabila orang tersebut sampai ke tahap ke dua فإن لم تكن تراه فإنه يراك , maka Allah telah mengeluarkannya dari fana’ kepada baqa’billah. Sehingga, sifat kehambaan orang tersebut menjadi sempurna. Oleh sebab itu menurut Syekh Ibnu Rajab al-Hambali, orang itu disebut sebagai al-‘Arif al-Kamil.

Iman salik sampai ke tingkat hakikat

Orang mukmin yang telah diberikan oleh Allah makrifah sampai ke tingkat ihsan sebagaimana yang telah diterangkan di atas, merupakan golongan mukmin yang disebut oleh Allah dalam Surat Al-Anfal ayat 2-4,

اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِيۡنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتۡ قُلُوۡبُهُمۡ وَاِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتُهٗ زَادَتۡهُمۡ اِيۡمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُوۡنَ

الَّذِيۡنَ يُقِيۡمُوۡنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقۡنٰهُمۡ يُنۡفِقُوۡنَؕ‏ 

اُولٰۤٮِٕكَ هُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ حَقًّا لَهُمۡ دَرَجٰتٌ عِنۡدَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٌ وَّرِزۡقٌ كَرِيۡمٌ​‏

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”

Makrifah Meningkatkan Iman ke Tingkat Yakin

Ketika Nabi Ibrahim dianugerahi Makrifah oleh Allah, kedudukan imannya meningkat pada yakin. Kemudian berubah kembali dari mukmin menjadi muqin, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Anam ayat 75,

وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ

“Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.”

Dengan makrifah seorang mukmin akan mencapai sifat siddiq, yaitu benar keimanannya terhadap Allah. Dan dengan sifat siddiq, tercapailah hakikat tauhid yaitu mengesakan Allah dari segi Uluhiyyah dan Rububiyyah-Nya. Dengan tercapainya hakikat tauhid tersebut, maka tercapailah sifat hati yang ikhlas. Dengan hati yang ikhlas, maka sempurnalah sifat kehambaannya terhadap Allah yang mendorong untuk sentiasa bertaqwa dan bertawakal kepada Allah, seperti yang Allah sebut dalam Surat At-Talaq 2-3,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُ ۥ مَخۡرَجً۬ا

وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمۡرِهِۦ‌ۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدۡرً۬ا

“Dan siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah jadikan untuknya jalan keluar. Dan Allah senantiasa memberi rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan siapa yang bertawakal kepada Allah maka cukuplah Allah menjadi jaminannya. Sesungguhnya Allah sangat tegas dalam perintah-Nya dan Dialah yang mentakdirkan segala sesuatu.”

Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 56,

إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada golongan muhsinin”.

Dengan ini maka terbentuklah seorang manusia yang sempurna sifat kehambaannya, ilmunya, amalannya dan berhasil membina hidup yang damai harmoni dan jauh dari berbagai sifat buruk zahir dan batin.

Penulis: Syekh Dr. H. Jahid Bin H. Sidek (Mantan Professor Madya University of Malaya dan Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Syekh Jahid Sidek: Kaidah Kesufian dalam Menanamkan Kedamaian Hidup (2)

Published

on

Menyadarkan Akal dan Menghidupkan Hati 

Setiap manusia dibekali akal dan hati. Akal fungsinya menerima kebenaran yang rasional atau yang munasabah (sesuai dengan akal). Karena biasanya, ada kebenaran agama yang akan sulit diterima oleh akal. Sedangkan hati fungsinya lebih besar dan canggih. Hati bisa menerima banyak perkara yang akal tidak mampu menerimanya. Sesuai dengan kedua posisinya masing-masing, maka Allah menyediakan dua ilmu, pertama ilmu yang sesuai pada akal dan yang kedua ilmu yang sesuai pada hati.

Rasulullah s.a.w bersabda:

العلم علمان علم ثابت في القلب فذاك علم نافع وعلم في السان فذاك حجة الله على عباده

“Ilmu itu (ilmu Islam) ada dua; Pertama ilmu yang tetap dalam hati, itulah ilmu nafi’. Sedangkan ilmu lainnya ada pada lisan (pada akal). Ilmu inilah yang digunakan oleh Allah di akhirat nanti untuk menentukan nasib hambanya (jika baik dimasukkan ke dalam surga, jika buruk dimasukkan ke dalam neraka).”

Akal dan hati jika telah dikuasai oleh nafsu dan syaitan, tidak dapat berfungsi, sehingga mereka digambarkan oleh Allah sebagai orang yang buta, tuli dan bisu. Lebih jauh lagi keadaan mereka sudah menjadi lebih buruk daripada binatang ternak. Tegasnya, akal mereka lalai dan hati mereka telah mati. Kedua-duanya perlu disadarkan dan dihidupkan.

Akal yang lalai perlu disadarkan dengan memberikan pelajaran dan pendidikan ilmu, serta memberikan pemahaman yang sesuai dengan tahap pemikiran. Bukan hanya ilmu agama, tapi ilmu apapun yang dapat mengisi ruang akal mereka dan menyadarkan mereka.

Adapun hati yang mati, keras, berpenyakit, buta dan lain sebagainya, menurut pandangan ulama tasawuf hendaklah dibersihkan dan dihidupkan kembali. Dalam konteks ini, seseorang membutuhkan mentor yang mempunyai sifat-sifat taqwa dan tawakal yang sempurna. Agar berhasil mempercepatkan kesadaran akal dan hidupnya hati. Pada posisi ini, mentor akan berusaha bersungguh-sungguh membantu mantee untuk menghidupkan hati. Sedangkan keberhasilan dari usaha tersebut, dikembalikan kepada Allah Swt.

Allah berfirman dalam Surat Al-Anam ayat 122,

أَوَ مَن كَانَ مَيۡتٗا فَأَحۡيَيۡنَٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورٗا يَمۡشِي بِهِۦ فِي ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡكَٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”

Walaupun Allah yang menghidupkan hati, namun ikhtiar yang tepat dan sesuai juga harus dilakukan. Antara usaha yang perlu kita lakukan dalam strategi menghidupkan hati ialah penekanan amalan zikir dan tafakkur yang bersungguh-sungguh. Menurut Ibnu Athaillah, apabila seseorang terus berzikir dan bertafakkur, maka keadaan hatinya akan diubah oleh Allah, dari ghaflah (lalai) kepada yaqazah (sadar), dan akan naik ke derajat hudlur, di mana hati telah tenggelam dalam mengingat Allah. Dan Akhirnya, hati hanya fokus pada Allah saja. Inilah makna hati menjadi hidup dan bercahaya seperti yang disebut dalam Surat Al-Anam ayat 122 di atas.

Empat Tahap Zikrullah

Zikrullah dan tafakkur yang konsisten akan mengubah keadaan hati orang yang berzikir dari satu tahap ke satu tahap yang lebih baik. Menurut Ibnu Athaillah, zikrullah ada empat tahap yang dijelaskan dalam Kitab Hikam,

تترك الذكر لعدم حضورك مع الله فيه لان غفلتك مع غير ذكره أشد عليك من غفلتك في ذكره فعسى أن يرفعك من ذكر مع غفلة إلى ذكر مع يقظة ومن ذكر مع يقظة إلى ذكر مع حضور ومن ذكر حضور إلى ذكر مع الغيبة عما سوى المذكور

“Janganlah kamu tinggalkan zikir disebabkan kamu tidak dapat benar-benar ingat Allah dalam zikir tersebut. Karena kelalaianmu ketika tidak berzikir itu lebih buruk daripada lalaimu ketika berzikir. Mudah-mudahan Allah meningkatkan zikirmu dari zikir ghaflah kepada zikir yaqazah, dari zikir yaqazah kepada zikir khudur, dari zikir khudur kepada zikir ghaibah.” (Ahmad bin Muhammad Ibn ‘Ajibah, Iqaz al-Himam, (Beirut, Dar al-Fikr: t.t) Jld. I, H. 79)

Zikrullah dan tafakkur yang terus-menerus, merupakan perbuatan yang dilakukan oleh golongan orang-orang yang ulil-albab,

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) rang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka’.” (QS. Ali Imran: 190-191).

Dalam hikmah di atas, Ibnu Athaillah mengkategorikan zikrullah kepada empat tahap, yaitu zikir ghaflah, zikir yaqazah, zikir khudur dan zikir ghaibah. Tingkatan tersebut dapat dipahami melalui skema berikut,

Realita yang berlaku dalam setiap tahap zikir tersebut secara umum dipimpin oleh seorang syekh atau mursyid yang dikaruniakan oleh Allah untuk membantu menghidupkan hati murid yang berzikir sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam Surat Al-Anam ayat 122 di atas.  

Ibnu Athaillah juga telah membongkarkan rahasia yang terkandung pada setiap tahap zikrullah tersebut. Antara lain beliau menegaskan bahwa Allah akan melimpahkan nur yang berbeda dalam setiap tahapnya,

1. Warid al-Intibah/Nur al-Intibah (وارد الانتباه \ نور الانتباه)

اورد عليك الوارد لتكون به عليه واردا

“Allah limpahkan ke dalam hatimu  ‘Nur Intibah’, supaya dengan nur tersebut hatimu sentiasa menerima limpahan nur-Nya”.

2. Warid al-Iqbal/Nur al-Iqbal (وارد الاقبال \ نور الاقبال)

اورد عليك الوارد ليتسلمك من يد الأغيار ويحررك من رق الأثار

“Allah limpahkan ke dalam hatimu ‘Nur Iqbal’, supaya dengan nur tersebut dapat menyelamatkan hatimu dari pengaruh makhluk dan memerdekakan hatimu dari diperhamba oleh makhluk”.

3. Warid al-Wishal/Nur al-Wishal (وارد الوصال \ نور الوصال)

اورد عليك الوارد ليخرجك من سجن وجودك الي فضاء شهودك

“Allah limpahkan ke dalam hatimu ‘Nur al-Wishal’, supaya dengan nur tersebut dapat mengeluarkan hatimu dari penjara wujud dirimu sendiri menuju tersingkapnya syuhudmu terhadap rahasia-rahasia Allah”.

Warid (وارد) sendiri bermakna Nur Hidayah (cahaya hidayah) yang Allah sampaikan ke dalam hati hamba-Nya yang dikasihi (نور يقذف الله فى قلب من احبه من عباده).

Apabila seseorang dapat karunia berupa Warid al-Intibah, maka keluarlah hatinya dari berbagai kegelapan lalai (ghaflah) menuju cahaya sadar (yaqazah). Ketika terlimpah nur al-intibah inilah awal mula terjadinya Jadzab.

Ketika ruhani seseorang benar-benar telah sadar dan merasakan adanya hubungan yang erat antara dirinya dan Allah disebabkan mata hatinya dapat mengetahui rahasia-rahasia Allah di alam malakut, ia akan menjauhkan dirinya dari segala maksiat. Inilah permulaan jalan ruhani seseorang dari aspek batinnya yang dikenal sebagai salik (سالك).

Apabila seseorang mendapat karunia Warid al-Iqbal, hatinya akan sentiasa berada dalam keadaan khudur ma’allah (hati fokus dalam mengingat Allah) dan ia akan menjadi hamba Allah semata. Perjalanan zahir dan batinnya tidak ada tujuan lain kecuali hanya kepada Allah (لا مقصود الا الله). Orang yang demikian disebut sebagai al-khawas (الخواص).

Sedangkan jika seseorang mendapat karunia Warid al-Wishal, maka hatinya atau mata hatinya (Basirah) hanya akan memandang Nur Wujudullah sehingga tidak terpandang selain diri-Nya karena ia telah fana’ dalam rahasia Nur Wujudullah semata. Contohnya ialah pengalaman yang dilalui oleh Nabi Musa as. Ketika Allah tajalli (tampak)kan sebagian rahsia Nur Wujud-Nya seperti yang telah diterangkan di atas, orang tersebut sampai ke tingkat zikir ghaibah. Inilah yang dinamakan khawasul-khawas (خواص الخواص).

Penulis: Syekh Dr. H. Jahid Bin H. Sidek (Mantan Professor Madya University of Malaya dan Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending