Connect with us

Artikel

Memahami Esensi Waktu dalam Membangun Nilai Spiritual

Published

on

Allah Ta’ala berfirman;

  والعصر [١] إن الإنسن لفى خسر [٢] إلا الذينءامنوا وعملواالصلحت وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر [٣]

1. Demi masa.2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,  Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [QS. Al-Ashar; 1-3]

Allah mengabadikan “waktu” didalam surah Al-Ashar. Istilah waktu didalam ayat diatas dinamakan Masa. Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani didalam Tafsir Al-Jaelnai menafsirkan istilah  [demi masa] “Allah bersumpah dengan masa dan Waktu untuk mengungkapkan kekalnya Wujud Azali Yang Abadi dan eksistensinya yang tidak akan musnah. [Sesunggunya manusia] secara fitrah diciptakan dalam keadaan makrifat dan beriman sesuai dengan bagian Lahut [ketuhanannya]. [itu benar-benar berada pada kerugian] yaitu kerugian yang besar dan kegagalan yang nyata, dimana kerugian tersebut disebabkan oleh tindakannya yang menyibukkan diri dengan kebutuhan-kebutuhan kemanusiaan yang tidak bermanfaat baginya. [kecuali] orang-orang yang yakin, [yang mengimani] Wahdatul Al-Haq [Keesaan Allah Swt] dan memahami kebebasan-Nya dalam semua perbuatan yang berlaku pada kerajaan dan kekuasaan-Nya dan bersamaan dengan keimanan dan ketundukkan itu, mereka juga [mengerjakan amal-amal shalih]. Yang menunjukkan keikhlasan, keyakinan dan niat mereka dan bersamaan itu pula, mereka saling [nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran]. Maksudnya sebagian mereka saling berwasiat kepada sebagian yang lain untuk menempuh jalan kebenaran [Thariqoh Al-Haq] dan men tauhidkan-Nya.[i]

Penafsiran diatas merupakan sebagai bentuk tafsir isyari sufi, menjelaskan tentang hukum waktu yang telah diciptakan Allah. Menentang hukum waktu atau hukum zaman adalah maknanya tidak mau menerima ketentuan-ketentuan Allah dan inilah dikatakan manusia itu benar-benar dalam kerugian. Secara syariat, mereka disibukkan dengan tergelimang dalam maksiat sehingga mereka tidak memanfaatkan waktu dengan baik. sedangkan  Secara hakikat difahami kerugian disini Mereka [orang-orang Islam] disibukkan  ter hijab nya dirinya dari tajalli Allah dan terhijab dari selain Allah.

Kita hidup di dunia yang fana ini tidak terlepas dari perjalan waktu yang terus berputar dan berjalan dari saat ke saat, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun sampai kita meninggal, berangkat dari dunia yang fana kepada akhirat yang baqa. Maka dari itu kita harus dapat mengetahui waktu. Waktu adalah tempat kejadian sesuatu dimana sesuatu itu zahir dari yang ghaib kepada syahadah [yang fizkal], maka dikatakan insan itu anak waktu. Insan disini adalah para ahli sufi atau para salikin yang sedang berjalan menuju Allah.

Syaikh Al-Imam Muhyiddin Ibnu Arabi di dalam kitab Al-Futuhat Al-Makkiyah berkata;

فإن قلت : و ما الوقت ؟ قلنا : ما أنت به من غير نظر إلى ماض و لا إلى مستق هكذا حكم أهل الطريق 

Jika engkau bertanya: “Dan apa arti waktu?” Kami jawab: “Sesuatu yang engkau berada di dalamnya tanpa engkau melihat pada masa lalu maupun masa depan.” Begitulah, para peniti jalan Tuhan menilai waktu.[ii]

Syaikh Al-Imam Sayyidi Najmuddin Al-Kubra, didalam Kitab  Fawa’ih Al-Jamal wa Fawatih Al-Jalal menjelaskan

الصوفي ابن الوقت ؛ لأنه يدور مع الوقت كيفما كان ولا ينظر إلى ما مضى ولا إلى المستقبل لأن نظره إلى الماضي والمستقبل يضيع عليه الوقت  

Sufi adalah putra sang waktu. Sebab, ia selalu berjalan bersama waktu sebagaimana adanya. Ia tidak melihat masa lalu maupun masa depan. Sebab baginya, melihat masa lalu maupun masa depan akan membuang-buang waktu.[iii]

Al-Imam Abul Qasim Ibn Hawazin Al-Qusyairiy di dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah menjelaskan

حقيقة الوقت عند أهل التحقيق حادث متوهم علق حصوله على حادث متحقق فالحادث المتحقق وقت للحادث المتوهم.

أي كما أن السيف قاطح فالوقت بمايمضيه الحق ويجريه غالب.  السيف لين مسه قاطح حده فمن لابنه سلم ومن خاشنه اصطلم كذلك الوقت من استسلم لحكمه نجا ومن عارضه انتكس وتردي .

Esensi waktu/time (Al waqt) menurut ahli hakikat adalah sesuatu yang terbayang kan. Yang hasilnya dikaitkan pada peristiwa yang akan terjadi. Peristiwa yang terjadi merupakan waktu peristiwa yang akan datang.

Waktu adalah pedang sebagaimana fungsi pedang itu sendiri untuk menebas. Maka waktu yang disebabkan pada kebenaran yang berlalu yang memenangkan kebenaran yang melewatinya.

Pedang sangat halus sentuhannya, namun tajam sayatnya. Barangsiapa yg menghindarinya akan selamat dan barangsiapa yang melawan nya akan terbebas olehnya. Begitu juga waktu siapa yang mematuhi hukum waktu maka akan selamat. Barangsiapa lalai dan menentangnya akan terbebas dan jatuh dalam kehancuran.[iv]

Abuya Syech H. Amran Waly Al-Khalidi mengartikan waktu “Bagi ahli tasawuf waktu itu adalah tempat zahir waridat dan anwaar yaitu cahaya keberadaan Allah yang datang pada hati kita yang dapat kita untuk dekat dengan Allah dan melakukan amal-amal kebajikan dan ber akhlak mulia.”[v]

Demikianlah orang-orang arif yang bijak menilai waktu. Waktu adalah benda yang tidak berwujud namun waktu sangat berharga dan tidak dapat mendapatkan lagi, sebab pada waktu yang lain tidak didapatkan lagi ketika waktu itu telah luput dan berlalu[masa lampau]. Begitu pula sebaliknya waktu yang akan datang [masa depan] berupa cita-cita kebaikan yang ingin dicapai tidak akan dapat terwujud apabila waktu pada saat ini [masa sekarang] tidak dapat realisasikan dengan sebaik-baiknya maka cita-cita hanyalah menjadi angan-angan yang kosong dan sungguh merugi.

Adapun waktu pada saat ini kita jalankan tidak terlepas dari empat komponen waktu, yaitu:

1. Waktu ta’at, kita harus dapat menyaksikan ketaatan yang kita lakukan itu adalah pemberian Allah, maka kita manfaatkan waktu untuk dapat melihat kasih sayang Allah.

2. Waktu maksiat, kita harus dapat menyaksikan bahwa maksiat itu datang dari keburukan nafsu, dan  hawa kita yang dikuasai syaitan, maka kita manfaatkan waktu untuk bertobat dengan segera, menyesali kesalahan yang kita lakukan.

3. Waktu nikmat, kita harus dapat mensyukuri dan mempergunakan waktu nikmat kebaikan sesuai apa yang diridhai Allah.

4. Waktu bala dan musibah, kita harus dapat bersabar dan ridha dengan segala yang datang dari Allah yaitu Qudrah dan Iradah-Nya.

Apabila keempat komponen waktu itu dapat di aplikasikan dan direalisasikan dengan baik di dalam waktu seseorang itu berada di masa sekarang, maka orang itulah orang-orang yang beruntung sebagai yang di isyarahkan dalam surah al-ashr diatas dan maksud tafsir Syaikh Abdul Qadir  Al-Jaelan diatas, “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Maka oleh orang barat mengatakan “time is money” [waktu itu uang] yang dapat memberikan keuntungan jika dimanfaatkan. Sedangkan orang Arab mengatakan “Al-Waqtu Saifun” [waktu adalah pedang], Maka demikian pulalah waktu dengan kehendak-kehendak Allah yang berlaku pada waktu tertentu merupakan hakim [yang berjalan keputusan dan ketentuanNya].  Jadi maksudnya sebagaimana mata pedang yang dapat memutuskan sesuatu. Maka demikianlah kehendak dan ketentuan Allah dalam waktu dan zaman adalah menjadi hakim segala-galanya. Maka jangalah kita sia-siakan waktu dan umur yang kita berada di dalamnya. Maka dari itu  ulama-ulama sufi merekomendasikan kita untuk bershalawat dan berzikir sebanyak-banyaknya agar mendapatkan Waridat Al-Ilahiyyah supaya dapat bernafsu muthmainnah, hilang segala keburukan nafsu, dan was-was. Serta memperbanyak melakukan amal ibadah.

Wallahu a’lam bi shawwab
Ilahi anta maqshudi waridhaka mathlubi

Penulis: Budi Handoyo

(Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)


[i] Abdul  Qadir Al-Jaelani, Tafsir Al-Jaelani  Jilid V, Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut, hal  472

[ii] Muhyiddin Ibnu Arabi Al-Haitami, Al-Futuhatul Al-Makkiyah Bab 73, Dar Ihya Al-Thorats Al-Arabi Beirut

[iii] Najmuddin Al-Kubra, Fawa’ih Al-Jamal wa Fawatih Al-Jalal, Dar Nasirun, Beirut hal 60

[iv] Abul Qasim Ibn Hawazin Al-Qusyairiy, Risalah Al-Qusyairiya fi Ilmi At-Tashawwuf, Maktabah Al-Tawfikiyah, Al-Qaherah, hal 150-151

[v] Abuya Syech H. Amran Waly Al-Khalidi, Risalah Tauhid Tasawuf & Tauhid Shufi Abuyah Syaikh Amran Waly Al-Khalidi, Jilid 1, Darul Ihsan, Labuhan Haji, Aceh Selatan, hal 86

Artikel

Konsep pemahaman Isyraqiyah Tasawuf Irfani Syekh Syuhrawardi al-Maqtul

Published

on

Suhrawardi Al-Maqtul lahir pada tahun 548 H/1153 M di Suhraward (Iran Barat Laut). Suhrawardi dikenal dengan Syekh al-Isyraq atau Master of Illuminasionist (Bapak Pencerahan), Al-Hakim (Sang Bijak) dan Al-Maqtul (Yang Terbunuh).

Suhrawardi mendapat pendidikan awal dari Majd al-Din al-Jilli di Maraghah, di sini ia mempelajari ilmu kalam dan filsafat. Setelah itu, ia memperdalam kajian filsafat kepada Fakhruddin al-Mardini di Isfahan di mana Suhrawardi menjadi teman sekelas Fakhriddun al-Razi.

Selanjutnya Suhrawardi belajar pada Zhahir al-Din al-Qari al-Farsi, seorang ahli logika yang meperkenalkan kepadanya kitab al-Bashair al- Nashiriyah karangan umar Ibn Sahlan al-Sawi, yang juga dikenal sebagai komentator Risalah al-Thair karangan Ibn Sina.

Dalam diri Suhrawardi terhimpun dua keahlian yaitu dalam bidang filsafat dan tasawuf. Oleh karena itu, kecerdasan dan ketinggian pengetahuan Suhrawardi mampu menarik perhatian banyak orang. Sehingga sanggup mengalahkan pakar dan ulama pada masa itu, di lain pihak terdapatnya kecemburuan dan merasa terancamnnya para ulama dan fuqaha dengan kehadiran Suhrawardi.

Suhrawardi pernah diundang oleh Malik Az-Zahir seorang penguasa Ayyubid (Aleppo), penguasa tersebut sangat suka kepada para sufi dan cendekiawan. Tetapi hakim-hakim agama yang takut kepada filsuf-mistik yang muda dan pandai itu akhirnya membujuk raja, dengan bantuan ayahnya Saladin-pahlawan perang salib untuk memenjarakan Suhrawardi.

Seorang hakim terkenal bernama Qadhi Al-Fadhil mengirimkan surat kepada Saladin dan menuntut agar Suhrawardi dieksekusi dan dijebloskan ke dalam penjara. Suhrawardi meninggal dalam penjara berusia 38 tahun.

Adapun penyebab langsung kematiannya di penjara masih merupakan misteri yang belum terjawab hingga kini.Suhrawardi adalah seorang pemikir yang produktif. Dalam kehidupannya yang terbilang cukup singkat, Suhrawardi menulis hampir 50 karya baik dalam bahasa Arab mau pun Persia. Karya-karyanya ditulis dalam gaya yang indah dan bernilai sastra tinggi. Karya-karya Suhrawardi yang membentuk filsafat isyraqi terutama tersusun dalam Hikmah al-Isyraq.

Filsafat Isyraqi

Pemikiran filsafat Suhrawardi yang paling terkenal adalah Hikmatul Isyraq atau filsafat iluminasi. Syekh Prof. Muhammad Rajab Ali Al-Hasani dalam Muqaddimah kitab Syawakil Hurr fi Syarh Haykal Nur menjelaskan,

والإشراق في اللغة: الإضاءة والإنارة، يقال: “أشرقت الشمس” طلعت واضاءت، و”اشرق وجهه” : أي أضاء

“Isyraq secara bahasa berarti penerangan dan pencahayaan. Dikatakan, ‘Matahari bersinar,’ terbit dan bersinar, dan ‘wajahnya bersinar’ artinya bersinar.

وفي اصطلاح الحكماء هو ظهور الأنوار العقلية ولمعانها وفيضانها على الانفس الكاملة عند التجرد عن المواد الجسمنة

“Secara istilah, hikmah adalah penampakan cahaya akal, kecemerlangannya dan luapannya ke dalam jiwa yang sempurna ketika substansi jasmani dilucuti.”

Istilah Isyraq yang berarti penyinaran di sini berhubungan dengan simbol dari matahari yang selalu terbit di timur dan memberikan sinarnya berwujud cahaya ke seluruh alam. Cahaya merupakan simbol pengetahuan atau simbul spiritual dan simbol sesuatu yang immateri.

Filsafat Suhrawardi berbeda dari filsafat yang telah ada sebelumnya. Filsafat sebelumnya lebih banyak bertumpu pada peran rasio. Sedangkan filsafat Suhrawardi menggabungkan antara peran rasio dengan intuisi (Dzauqi). Dengan kata lain, filsafatnya Suhrawardi adalah filsafat yang dipadukan dengan tasawuf. Hal ini tidak mengherankan, karena Suhrawardi adalah seorang filsuf dan sekaligus seorang sufi. Dalam mazhab Isyraqi Suhrawardi mencoba menggabungkan cara nalar dan cara intuisi, menganggap keduanya saling melengkapi.

Menurut Suhrawardi seseorang yang telah menggabungkan daya intelektual (rasional) dan daya intuisi, sehingga orang tersebut memperoleh pengetahuan maka orang tersebut dapat dikatakan sebagai insan kamil, dan memiliki kedudukan sebagai khalifah Allah Swt.

Suhrawardi mulai memaparkan konsepsinya tentang keesaan Tuhan. Dia menjelaskan bahwa tuhan adalah cahaya atas cahaya, kemudian dari itu terjadilah penyinaran yang mengakibatkan sumber-sumber cahaya yang lain. Adanya penyinaran itu selanjutnya mewujudkan sendi-sendi alam materi dan ruhani. Alam secara keseluruhan muncul karena sinar Allah dan limpah-Nya.

Proses Isyraqi menurut Suhrawardi dimulai dari Nur al-Anwar, (cahaya segala cahaya). Nur al-Anwar menurutnya merupakan sumber bagi segala cahaya yang ada. Ia Maha Sempurna, Mandiri, Esa dan tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya.

Nur al-Anwar ini hanya memancarkan sebuah cahaya yang disebut dengan Nur al-Aqrab (cahaya terdekat) dan ia merupakan cahaya pertama. Nur al-Aqrab sebagai cahaya pertama memancarkan cahaya kedua, cahaya kedua memancarkan cahaya ketiga, cahaya ketiga memancarkan cahaya keempat, begitu seterusnya hingga mencapai cahaya yang jumlahnya sangat banyak.

Pada setiap tingkatan penyinaran setiap cahaya menerima pancaran langsung dari Nur al-Anwar dan tiap-tiap cahaya meneruskan cahayanya ke masing- masing cahaya. Yang berada di bawah selalu menerima pancaran dari Nur al-Anwar secara langsung dan pancaran dari semua cahaya yang berada di atasnya.

Dengan demikian, semakin ke bawah tingkat suatu cahaya semakin banyak pula ia menerima cahaya. Demikian secara ringkasnya proses Iluminasi dalam filsafat Suhrawardi. 

Kesimpulan dari proses filsafat Isyraq Suhrawardi adalah setiap Nur (cahaya) yang berada di bawah merupakan penerima pancaran Nur sebanya dua kali dari jumlah pancaran yang diberikan oleh cahaya yang berada setingkat di atasnya.

Kesimpulan tersebut berdasarkan argumentasi berikut yaitu cahaya kesatu (Nur al- Aqrab) memperoleh satu kali pancaran, cahaya kedua memperoleh dua kali pancaran, cahaya ketiga memperoleh empat kali pancaran, cahaya keempat memperoleh delapan kali pancaran, cahaya kelima memperoleh cahaya enam belas kali pancaran, dan seterusnya.

Filsafat Isyraqi Suhrawardi juga menggunakan susunan alam (kosmos) pada tiap tingkatan cahaya yang terpancar dari Nur al-Anwar, seperti yang digunakan dalam filsafat Al-Arabi dan Ibnu Sina pada teori emanasi.

Suhrawardi menyebut manusia sebagai alam kecil yang terdiri dari ruh dan jasad, sehingga ruh termasuk dalam kategori alam cahaya dan jasad termasuk dalam kategori alam kegelapan.

Agar manusia selalu berada di dalam cahaya dan dapat memantulkan cahaya tersebut ke seluruh penjuru alam, manusia harus  menguasai kehidupan ruhaninya sehingga jasmani tunduk dengan kata lain kehidupan cahaya harus selalu menguasai dan mengalahkan kegelapan.

Continue Reading

Artikel

Syekh Jahid Sidek: Kaidah Kesufian dalam Menanamkan Kedamaian Hidup (3)

Published

on

Terbentuk Hati yang Mutmainnah.

Allah berfirman dalam Surat Ar-Ra’d ayat 27-28,

قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَنۡ أَنَابَ

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ  

“Katakanlah (Muhammad), sesugguhnya Allah akan menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberi petunjuk kepada orang yang kembali (taubat zahir batin) kepada-Nya. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang sebab zikir kepada Allah. Ingatlah, (hanya) dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”.

Dari ayat di atas terdapat empat syarat untuk mendapat hidayat yang khusus, yaitu sentiasa bertaubat dari semua dosa hingga taubatnya meningkat ke tingkat inabah, kuatkan iman, beramal salih dan terus berzikrullah. Dengan kaidah ini, hati akan mutmainnah.

Akhirnya Sampai Kepada Allah

Bila hati sudah mencapai tingkat mutmainnah, maka Allah akan karuniakan hidayah yang khusus seperti yang Allah sebutkan dalam Surat Al-Fajr ayat 27-30,

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ

ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ

 فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي

وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي

“Wahai hati yang tenang (mutmainnah), kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridla dan diridlai. Masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu ke dalam surge-Ku”.

Allah akan memberikan karunia pada hati yang mutmainnah berupa,

Pertama, hati, ruh atau nafs mereka akan diberikan karurnia berupa mengenal Allah sebagaimana sebelum ia masuk ke jasad, di mana ketika itu ruh manusia telah bermusyahadah kepada Allah, seperti yang disebutkan dalam Surat Al-A’raf ayat 172,

أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ

“Tidakkah Aku ini Tuhan kamu? Mereka (ruh-ruh manusia) menjawab, ‘benar, kami bersaksi’.”

Dengan itu, apabila hati telah benar-benar mutmainnah, maka Allah akan singkap berbagai hijab, sehingga hati manusia dapat musyahadah terhadap wujud Allah. Inilah antara hakikat dan makrifah Allah yang Allah sampaikan secara ladduni atau secara mukasyafah.

Kedua, Allah karuniakan kepada orang tersebut maqam ridla dan diridlai Allah.

Ketiga, orang tersebut akan menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Ini berarti orang tersebut telah menjadi seorang muhsin, ulul-albab yang apabila beramal dapat berbuat dengan sebaik-baiknya, seperti yang Allah sebut dalam Surat Az-Zumar ayat 17-18,

وَالَّذِيۡنَ اجۡتَنَـبُـوا الطَّاغُوۡتَ اَنۡ يَّعۡبُدُوۡهَا وَاَنَابُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ لَهُمُ الۡبُشۡرٰى​ ۚ فَبَشِّرۡ عِبَادِ ۙ‏

ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Dan orang-orang yang menjauhi Tagut (yaitu) tidak menyembahnya1 dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira; sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku. (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.1 Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Keempat, mereka akan mendapat nikmat terbaik di dunia, yaitu hati atau ruh mereka dapat bermusyahadah kepada Allah. Menurut sebagian ahli sufi, yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, “Masuklah ke surga-Ku”, itu ialah jannatul `ajilah atau surga di dunia, berupa kebahagiaan yang didapatkan ketika hati berada dalam keadaan musyahadah. Adapun surga yang kedua ialah aajilah, yaitu surga yang akan datang di akhirat berupa melihat Zat Allah Swt.

Salik sampai kepada Allah

Sampai kepada Allah adalah berhasil mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Yaitu ketika Allah limpahkan makrifah ke dalam hati hamba-Nya yang dikasihi. Makrifah merupakan tingkatan tertinggi yang di bawahnya adalah kepahaman (al-Fahm) dan pengetahuan (al-‘Ilm).

Al-Ilm berada di posisi paling bawah. Orang yang berilmu disebut sebagai alim. Sedankan Al-Fahm kedudukannya lebih tinggi dari ilmu. Orang yang memiliki kepahaman disebut al-fahim. Setiap orang yang fahim dia alim. Sebaliknya tidak semua orang yang alim, dia fahim.

Kedudukan tertinggi ialah makrifah. Orang yang dikaruniai Allah makrifah disebut ‘arif, atau lebih lengkap ‘arifbillah.

Ilmu dan faham termasuk dalam perkara yang diusahakan oleh hamba. Sebab itu ilmu dan kepahaman disebut sebagai ilmu kasbi jamaknya al-ulum al-kasbiyyah. Sebaliknya makrifah adalah perkara wahbi. Oleh sebab itu makrifah masuk dalam al-ulum al-wahbiyyah ataukadang disebut al-ulum al-mukasyafah atau al-ulum al-zawqiyyah.

Dengan makrifah seorang mukmin meningkat ke tingkat ihsan dan menjadi seorang muhsin.

Sabda Rasulullah saw.

الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

“Ihsan ialah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah melihatmu.”

Menurut pandangan Syekh Ibnu Rajab Al-Hambali (w.795H) dalam kitabnya Jami’ al-Ulum wal Hikam, bahwa ketika seseorang mukmin sampai ke tingkat ihsan tersebut, Allah akan limpahkan ke dalam ruang hatinya makrifah. Selanjutnya beliau menegaskan tingkatan ihsan berdasarkan kepada hadis tersebut yang terbagi menjadi dua tahap.

Tahap pertama ialah ketika seseorang berada dalam keadaan  أن تعبد الله كأنك تراه, Allah limpahkan dalam ruang hatinya makrifah. Bagaimanapun, disebabkan karena orang tersebut berada dalam keadaan fana’fillah maka sifat kehambaannya tidak sempurna. Sehingga orang itu disebut sebagai al‘Arif an-Naqis.

Sedangkan apabila orang tersebut sampai ke tahap ke dua فإن لم تكن تراه فإنه يراك , maka Allah telah mengeluarkannya dari fana’ kepada baqa’billah. Sehingga, sifat kehambaan orang tersebut menjadi sempurna. Oleh sebab itu menurut Syekh Ibnu Rajab al-Hambali, orang itu disebut sebagai al-‘Arif al-Kamil.

Iman salik sampai ke tingkat hakikat

Orang mukmin yang telah diberikan oleh Allah makrifah sampai ke tingkat ihsan sebagaimana yang telah diterangkan di atas, merupakan golongan mukmin yang disebut oleh Allah dalam Surat Al-Anfal ayat 2-4,

اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِيۡنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتۡ قُلُوۡبُهُمۡ وَاِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتُهٗ زَادَتۡهُمۡ اِيۡمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُوۡنَ

الَّذِيۡنَ يُقِيۡمُوۡنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقۡنٰهُمۡ يُنۡفِقُوۡنَؕ‏ 

اُولٰۤٮِٕكَ هُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ حَقًّا لَهُمۡ دَرَجٰتٌ عِنۡدَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٌ وَّرِزۡقٌ كَرِيۡمٌ​‏

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”

Makrifah Meningkatkan Iman ke Tingkat Yakin

Ketika Nabi Ibrahim dianugerahi Makrifah oleh Allah, kedudukan imannya meningkat pada yakin. Kemudian berubah kembali dari mukmin menjadi muqin, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Anam ayat 75,

وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ

“Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.”

Dengan makrifah seorang mukmin akan mencapai sifat siddiq, yaitu benar keimanannya terhadap Allah. Dan dengan sifat siddiq, tercapailah hakikat tauhid yaitu mengesakan Allah dari segi Uluhiyyah dan Rububiyyah-Nya. Dengan tercapainya hakikat tauhid tersebut, maka tercapailah sifat hati yang ikhlas. Dengan hati yang ikhlas, maka sempurnalah sifat kehambaannya terhadap Allah yang mendorong untuk sentiasa bertaqwa dan bertawakal kepada Allah, seperti yang Allah sebut dalam Surat At-Talaq 2-3,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُ ۥ مَخۡرَجً۬ا

وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمۡرِهِۦ‌ۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدۡرً۬ا

“Dan siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah jadikan untuknya jalan keluar. Dan Allah senantiasa memberi rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan siapa yang bertawakal kepada Allah maka cukuplah Allah menjadi jaminannya. Sesungguhnya Allah sangat tegas dalam perintah-Nya dan Dialah yang mentakdirkan segala sesuatu.”

Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 56,

إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada golongan muhsinin”.

Dengan ini maka terbentuklah seorang manusia yang sempurna sifat kehambaannya, ilmunya, amalannya dan berhasil membina hidup yang damai harmoni dan jauh dari berbagai sifat buruk zahir dan batin.

Penulis: Syekh Dr. H. Jahid Bin H. Sidek (Mantan Professor Madya University of Malaya dan Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Syekh Jahid Sidek: Kaidah Kesufian dalam Menanamkan Kedamaian Hidup (2)

Published

on

Menyadarkan Akal dan Menghidupkan Hati 

Setiap manusia dibekali akal dan hati. Akal fungsinya menerima kebenaran yang rasional atau yang munasabah (sesuai dengan akal). Karena biasanya, ada kebenaran agama yang akan sulit diterima oleh akal. Sedangkan hati fungsinya lebih besar dan canggih. Hati bisa menerima banyak perkara yang akal tidak mampu menerimanya. Sesuai dengan kedua posisinya masing-masing, maka Allah menyediakan dua ilmu, pertama ilmu yang sesuai pada akal dan yang kedua ilmu yang sesuai pada hati.

Rasulullah s.a.w bersabda:

العلم علمان علم ثابت في القلب فذاك علم نافع وعلم في السان فذاك حجة الله على عباده

“Ilmu itu (ilmu Islam) ada dua; Pertama ilmu yang tetap dalam hati, itulah ilmu nafi’. Sedangkan ilmu lainnya ada pada lisan (pada akal). Ilmu inilah yang digunakan oleh Allah di akhirat nanti untuk menentukan nasib hambanya (jika baik dimasukkan ke dalam surga, jika buruk dimasukkan ke dalam neraka).”

Akal dan hati jika telah dikuasai oleh nafsu dan syaitan, tidak dapat berfungsi, sehingga mereka digambarkan oleh Allah sebagai orang yang buta, tuli dan bisu. Lebih jauh lagi keadaan mereka sudah menjadi lebih buruk daripada binatang ternak. Tegasnya, akal mereka lalai dan hati mereka telah mati. Kedua-duanya perlu disadarkan dan dihidupkan.

Akal yang lalai perlu disadarkan dengan memberikan pelajaran dan pendidikan ilmu, serta memberikan pemahaman yang sesuai dengan tahap pemikiran. Bukan hanya ilmu agama, tapi ilmu apapun yang dapat mengisi ruang akal mereka dan menyadarkan mereka.

Adapun hati yang mati, keras, berpenyakit, buta dan lain sebagainya, menurut pandangan ulama tasawuf hendaklah dibersihkan dan dihidupkan kembali. Dalam konteks ini, seseorang membutuhkan mentor yang mempunyai sifat-sifat taqwa dan tawakal yang sempurna. Agar berhasil mempercepatkan kesadaran akal dan hidupnya hati. Pada posisi ini, mentor akan berusaha bersungguh-sungguh membantu mantee untuk menghidupkan hati. Sedangkan keberhasilan dari usaha tersebut, dikembalikan kepada Allah Swt.

Allah berfirman dalam Surat Al-Anam ayat 122,

أَوَ مَن كَانَ مَيۡتٗا فَأَحۡيَيۡنَٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورٗا يَمۡشِي بِهِۦ فِي ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡكَٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”

Walaupun Allah yang menghidupkan hati, namun ikhtiar yang tepat dan sesuai juga harus dilakukan. Antara usaha yang perlu kita lakukan dalam strategi menghidupkan hati ialah penekanan amalan zikir dan tafakkur yang bersungguh-sungguh. Menurut Ibnu Athaillah, apabila seseorang terus berzikir dan bertafakkur, maka keadaan hatinya akan diubah oleh Allah, dari ghaflah (lalai) kepada yaqazah (sadar), dan akan naik ke derajat hudlur, di mana hati telah tenggelam dalam mengingat Allah. Dan Akhirnya, hati hanya fokus pada Allah saja. Inilah makna hati menjadi hidup dan bercahaya seperti yang disebut dalam Surat Al-Anam ayat 122 di atas.

Empat Tahap Zikrullah

Zikrullah dan tafakkur yang konsisten akan mengubah keadaan hati orang yang berzikir dari satu tahap ke satu tahap yang lebih baik. Menurut Ibnu Athaillah, zikrullah ada empat tahap yang dijelaskan dalam Kitab Hikam,

تترك الذكر لعدم حضورك مع الله فيه لان غفلتك مع غير ذكره أشد عليك من غفلتك في ذكره فعسى أن يرفعك من ذكر مع غفلة إلى ذكر مع يقظة ومن ذكر مع يقظة إلى ذكر مع حضور ومن ذكر حضور إلى ذكر مع الغيبة عما سوى المذكور

“Janganlah kamu tinggalkan zikir disebabkan kamu tidak dapat benar-benar ingat Allah dalam zikir tersebut. Karena kelalaianmu ketika tidak berzikir itu lebih buruk daripada lalaimu ketika berzikir. Mudah-mudahan Allah meningkatkan zikirmu dari zikir ghaflah kepada zikir yaqazah, dari zikir yaqazah kepada zikir khudur, dari zikir khudur kepada zikir ghaibah.” (Ahmad bin Muhammad Ibn ‘Ajibah, Iqaz al-Himam, (Beirut, Dar al-Fikr: t.t) Jld. I, H. 79)

Zikrullah dan tafakkur yang terus-menerus, merupakan perbuatan yang dilakukan oleh golongan orang-orang yang ulil-albab,

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) rang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka’.” (QS. Ali Imran: 190-191).

Dalam hikmah di atas, Ibnu Athaillah mengkategorikan zikrullah kepada empat tahap, yaitu zikir ghaflah, zikir yaqazah, zikir khudur dan zikir ghaibah. Tingkatan tersebut dapat dipahami melalui skema berikut,

Realita yang berlaku dalam setiap tahap zikir tersebut secara umum dipimpin oleh seorang syekh atau mursyid yang dikaruniakan oleh Allah untuk membantu menghidupkan hati murid yang berzikir sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam Surat Al-Anam ayat 122 di atas.  

Ibnu Athaillah juga telah membongkarkan rahasia yang terkandung pada setiap tahap zikrullah tersebut. Antara lain beliau menegaskan bahwa Allah akan melimpahkan nur yang berbeda dalam setiap tahapnya,

1. Warid al-Intibah/Nur al-Intibah (وارد الانتباه \ نور الانتباه)

اورد عليك الوارد لتكون به عليه واردا

“Allah limpahkan ke dalam hatimu  ‘Nur Intibah’, supaya dengan nur tersebut hatimu sentiasa menerima limpahan nur-Nya”.

2. Warid al-Iqbal/Nur al-Iqbal (وارد الاقبال \ نور الاقبال)

اورد عليك الوارد ليتسلمك من يد الأغيار ويحررك من رق الأثار

“Allah limpahkan ke dalam hatimu ‘Nur Iqbal’, supaya dengan nur tersebut dapat menyelamatkan hatimu dari pengaruh makhluk dan memerdekakan hatimu dari diperhamba oleh makhluk”.

3. Warid al-Wishal/Nur al-Wishal (وارد الوصال \ نور الوصال)

اورد عليك الوارد ليخرجك من سجن وجودك الي فضاء شهودك

“Allah limpahkan ke dalam hatimu ‘Nur al-Wishal’, supaya dengan nur tersebut dapat mengeluarkan hatimu dari penjara wujud dirimu sendiri menuju tersingkapnya syuhudmu terhadap rahasia-rahasia Allah”.

Warid (وارد) sendiri bermakna Nur Hidayah (cahaya hidayah) yang Allah sampaikan ke dalam hati hamba-Nya yang dikasihi (نور يقذف الله فى قلب من احبه من عباده).

Apabila seseorang dapat karunia berupa Warid al-Intibah, maka keluarlah hatinya dari berbagai kegelapan lalai (ghaflah) menuju cahaya sadar (yaqazah). Ketika terlimpah nur al-intibah inilah awal mula terjadinya Jadzab.

Ketika ruhani seseorang benar-benar telah sadar dan merasakan adanya hubungan yang erat antara dirinya dan Allah disebabkan mata hatinya dapat mengetahui rahasia-rahasia Allah di alam malakut, ia akan menjauhkan dirinya dari segala maksiat. Inilah permulaan jalan ruhani seseorang dari aspek batinnya yang dikenal sebagai salik (سالك).

Apabila seseorang mendapat karunia Warid al-Iqbal, hatinya akan sentiasa berada dalam keadaan khudur ma’allah (hati fokus dalam mengingat Allah) dan ia akan menjadi hamba Allah semata. Perjalanan zahir dan batinnya tidak ada tujuan lain kecuali hanya kepada Allah (لا مقصود الا الله). Orang yang demikian disebut sebagai al-khawas (الخواص).

Sedangkan jika seseorang mendapat karunia Warid al-Wishal, maka hatinya atau mata hatinya (Basirah) hanya akan memandang Nur Wujudullah sehingga tidak terpandang selain diri-Nya karena ia telah fana’ dalam rahasia Nur Wujudullah semata. Contohnya ialah pengalaman yang dilalui oleh Nabi Musa as. Ketika Allah tajalli (tampak)kan sebagian rahsia Nur Wujud-Nya seperti yang telah diterangkan di atas, orang tersebut sampai ke tingkat zikir ghaibah. Inilah yang dinamakan khawasul-khawas (خواص الخواص).

Penulis: Syekh Dr. H. Jahid Bin H. Sidek (Mantan Professor Madya University of Malaya dan Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending