Connect with us

Kliwonan

Kliwonan, Bagaimana Menemukan Mutiara Hakikat Di dalam Lautan Tarekat

Published

on

Habibana Luthfi bin Yahya berpesan, bahwa di dalam Kitab Jami’ Al Ushul Auliya’ syariat diumpamakan seperti perahu dan tarekat diumpamakan seperti lautan.  

Jika demikian, ketika ada orang yang menaiki perahu, siapakah yang menjadi nahkoda? Apakah perahu akan berjalan sendiri? Tentu tidak mungkin. Bisa jadi mesinnya memang menyala, tapi tanpa nahkoda kita tidak tahu jika hal-hal buruk akan terjadi seperti tersesat, perahu yang menghantam karang, bahkan kita tidak akan tahu jika terjadi situasi mencekam seperti gelombang yang besar serta memastikan bagaimana keadaan penumpang yang ada di dalam perahu, apakah mereka mampu atau tidak jika ada dalam situasi tersebut.

Lalu, siapakah nahkodanya? Di dalam syariat, nahkoda perahu adalah ulama-ulama yang senantiasa berada dalam kapal. Ia akan tahu berapa tekanan angin dan arahnya dari mana, kemudian gelombang yang terjadi seperti apa. Sebagai penumpang kita akan selalu merasa aman selama perahu tidak bocor, dan berharap tiba dengan selamat.

Setelah berada di perahu, kita akan diarahkan bagaimana untuk tetap aman selama dalam perjalanan. Seperti itu pula syariat, kita akan aman jika kita memahami arti shalat yang diajarkan oleh ulama-ulama terdahulu. Bagaimana menata niat sebelum shalat, agar hati kita sudah hudhur kepada Allah Swt. dengan tidak mengerjakan shalat sebagai beban. Karena dalam shalat mencangkup beberapa hal, yaitu untuk pribadi dan untuk hubungan sesama umat muslim, semuanya ada dalam khamsah auqat yaitu lima waktu dalam shalat.

Maka ketika Nabi Bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ

…Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihitung dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya…

Itu benar sekali, karena dalam shalat ada segalanya yang berhubungan untuk pribadi dan umat.

Sebagaimana ketika membaca Surat Al-Fatihah dan memahami kandungannya, sesungguhnya maknanya adalah pengenalan diri dengan iqrar.

Di dalam kitab Khazinatul Asrar disebutkan ketika orang membaca ayat per ayat surat al-Fatihah,

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

Maka jawab Allah dari keempat ayat di atas adalah Haqqi (itu milikku).

Pada ayat keempat, sejauh mana kita mengetahui dalam tafsir Surat al-Fatihah ketika mengucap

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ = Yang Menguasai Hari Akhir

Kalau kita mengingat itu, seharusnya kita memiliki sifat takut. Sebab untuk menunjukkan makna kalimat مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ, berarti meniadakan semua hal selain-Nya. Bumi dan langit akan hancur semua, begitu pula malaikat akan mati.

Maka, ketika hal itu terjadi, Allah mempertanyakan keberadaan tuhan-tuhan yang disembah selain-Nya. Pada saat itulah, kita melihat makna dari,

وهو الواحد الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا احد. الأول بلا ابتداء والآخر بلا إنتهاء

Dialah yang pertama dan tunggal, Dzat bergantung, yang tidak beranak dan tidak diperanakan, dan tidak ada satu pun yang bisa menyamainya. Dzat yang paling pertama tanpa adanya permulaan dan Dzat yang paling akhir tanpa adanya pengakhiran.

Selain Allah, semua akan binasa. Dari hal itulah tauhid kita dibangun.

Untuk itu, alangkah baiknya jika kita mempersiapkan diri ketika akan menemui Allah Swt. dengan membawa tiga hal yaitu meninggal dalam keadaan husnul khatimah, yakin memperoleh ampunan-Nya dan tidak terlepas dari tawasul kita mengharapkan syafaat Nabi Muhammad saw.

Selanjutnya, pada ayat اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan), ayat tersebut menggunakan isim jamak bukan isim mufrad, yaitu mengunakan dhamir muttashil jamak atau mutakallim ma’al ghair (kata ganti untuk orang banyak) “نا” yang artinya kami.

Disitulah Allah membimbing kita untuk senantiasa menanamkan dalam lubuk mukmin untuk memiliki itikad, Kepada-Mu lah kami – yaitu siapapun kami, bukan pribadi saya saja.

Dari kata yang mengandung arti jamak tersebut, kita dibimbing Allah untuk mengajarkan pula kepada generasi kita selanjutnya agar bertauhid kepada Allah swt., sejauh mana kita mengajarkan tauhid yang jauh dari dunia kesyirikan-kesyirikan.

Dan ketika kita menyebut وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ, apakah kita merasa jika kita adalah golongan yang lemah? Jika dengan mengucapakan kalimat tersebut, kita masih menyombongkan diri dengan mengatakan, “Saya mampu, saya kuat,” seharusnya malu. Ayat tersebut menunjukkan bahwa kita lemah, dan yang bisa menolong hanya Allah, juga yang bisa menyembuhkan hanya Allah. Demikianlah, bimbingan tarbiyah dalam Surat al-Fatihah untuk kita semua.

Kepedulian kita juga terlihat sejauh mana mengucapkan اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus) yang lafaznya juga menggunakan isim jamak, apakah itu untuk pribadi? Tentu saja tidak. Itu bentuk kepedulian antar sesama mukmin dan muslim. Jika kita tahu benar maknanya dan meresapinya, maka tidak akan ada keributan hanya karena perbedaan kecil. Sebaliknya, kita akan lebih akrab dan saling menghargai satu sama lain, karena kita sadar bahwa dalam shalat kita saling mendoakan.

Arti, “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus” bukan hanya untuk permasalahan akhirat saja, tetapi juga kehidupan dan kemaslahatan di dunia. Sehingga dengan kehidupan yang baik, kita akan menjadi bangsa yang berdikari, bukan sekedar untuk mengembangkan ketahanan pangan saja, tapi kita dilandasi oleh pondasi tauhid kepada Allah melalui Al-Fatihah untuk menjadi negara yang luar biasa.

Pada lafaz اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ, jika ada yang sakit atau yang sedang sakaratul maut di rumah sakit, sebab wasilah Surat al-Fatihah, kita akan mencapai derajat husnul khatimah, Jadi makna ini bukan hanya untuk mendoakan umat islam dan bangsa Indonesia saja, tetapi seluruh negeri di dunia mencakup dalam kalimat itu.

صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين

Inilah hikmah jika kita sudah mengetahui yang demikian luar biasa dalam Surat Al-Fatihah. Namun, kita tidak bisa menafsirkan dengan otak kepala sendiri, harus punya guru hingga tahu bagaimana maksudnya.

Apalagi dalam shalat, kita berhubungan dengan Nabi Muhammad saw. melalui bacaan tahiyat yang berbunyi,

السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bacaan tersebut harus diucapkan dengan hati yang cukup kuat. Dalam kitab Sa’adatud Dara’in, ada satu malaikat yang selalu menerima shalawatnya umat Nabi Muhammad saw. dan selalu menyampaikan kepada Nabi saw. nama orang yang membaca shalawat beserta nama orangtuanya. Maka semakin kita kenal dengan Nabi Muhammad saw. yang mengenalkan kita kepada Allah, semakin kita kenal kepada Allah, maka dunia ini akan aman meskipun banyak sekali problematika. Sehingga kita tidak mudah dipecah belah oleh apapun.

Bahwa syariat itu seperti perahu, jadi ilmu naik perahu perlu kita ketahui, karena itu yang mengantar kita mengenal kepada Allah melalui jalur tarekat yang diibaratkan dengan lautan. Setelah kita mengenal seberapa luasnya kekuasaan Allah, kita akan menemukan sesuatu yang lebih indah di dasarnya, berupa mutiara-mutiara yang luar biasa yaitu hakikat. Apa maksudnya? Al-Akhlak wal Adab kepada Allah.

Wallahu a’lam bisshawwab

Kliwonan

Kliwonan: Raja’ dalam Beberapa Klasifikasi

Published

on

Diterangkan dalam kitab Jami’ul ushul, Raja’ atau harapan dalam pandangan ahli tasawuf terbagi menjadi tiga klasifikasi, yaitu:

1. Raja’nya orang ‘awam, yaitu bahwa dia mengharapkan ampunan-Nya dan takut siksaan-Nya

Makna Raja’ secara bahasa sendiri adalah mengharap. Yang dimaksud Raja’nya orang awam adalah menghilangkan setiap harapan selain dari Allah Swt. Sebagaimana lafaz zikir Laa Ilaaha Illallah, kalimat tersebut tidak hanya bermakna tiada Dzat yang wajib kami sembah kecuali Allah, tapi juga mengandung makna tiada Dzat yang wajib kami harapkan kecuali Allah, tiada Dzat yang wajib kami mintai ridlanya kecuali Allah, tiada Dzat yang wajib kami mintai keselamatan di akhirat kecuali Allah dan banyak lagi.

      Dalam kalimat-kalimat tersebut, selalu berputar kalimat Raja’ kepada Allah Swt. untuk menepis segala pengaruh dan pengharapan di hati selain-Nya. Ikhtiar dan menjalankan syariat memang harus dilakukan, tetapi dasar pondasi yang pertama adalah Raja’ kepada Allah Swt. Jika hal itu benar-benar diterapkan, maka tidak akan melekat kesyirikan di hati.

      2. Raja’nya orang khas, yaitu dia mengharapkan karunia-Nya dan takut akan keadilan-Nya

      Pada katagori yang kedua ini, yang dimaksud adalah Raja’nya orang makrifat yang tingkat tauhidnya sudah matang. Di mana dalam setiap perjalanannya tidak pernah terlepas dari Allah Swt. Tidak ada dalam hati mereka takut istri, anak, kekayaannya hilang, tapi yang paling ditakutkan adalah ketika ia lupa dan jauh dari Allah Swt. Hatinya takut kehilangan Allah Swt. Orang yang selalu ingat dan terpaut hatinya kepada Allah Swt., maka akan mendapat penjagaan dari-Nya.

      3. Raja’nya orang akhash, yaitu dia mengaharapkan karunia-Nya dan takut meninggalkan-Nya

      Orang yang masuk dalam katagori akhash itu sama sekali tidak menggantungkan pahala ibadahnya atau amaliyahnya. Karena menurutnya jika karena pahala yang mengantarkannya masuk ke dalam surga, ini akan bahaya dan apa yang ia usahakan justru akan rusak. Karena sesungguhnya yang menyebabkannya masuk ke surga adalah Rahmat Allah melalui amal shalih.

      Jika hanya berharap pada pahala, rasa tidak mungkin orang di seluruh dunia ini akan masuk surga. Seperti contoh, kita diberi umur 60 tahun. Kemudian dipotong masa aqil baligh pada usia 15 tahun. Berarti kita hidup 45 tahun. Lalu sekarang dikalkulasikan dengan berapa banyak pahala yang dihasilkan dari shalat kita yang rata-rata hanya sampai lima menit. Mungkin umur kita sampai pada usia 60 tahun, tapi dari sepanjang usia itu, jika digabungkan shalat kita mungkin hanya sampai beberapa hari saja. Lalu apakah waktu sesingkat itu layak menjadikan kita masuk ke dalam surga? Tapi siapa pula yang akan kuat masuk neraka?

      Sebab itu, untuk mencapai rahmat Allah Swt adalah dengan mengamalkan perintah-Nya. Sedangkan apabila kita masuk ke dalam surga, itu karena birahmatihi jallaahu wa alaahu (melalui rahmat-Nya Yang Maha Agung dan Yang Maha Tinggi) dan syafaat Nabi Muhammad Saw.

      Dari semua penjelasan di atas, apabila seseorang sudah mengenal Raja’, maka ia selalu mengharapkan Allah Swt. Sedangkan hal yang paling ditakuti adalah jika keluar dari dunia ini membawa su’ul khatimah (akhir yang buruk). Para wali Allah selalu mengharap kepada-Nya supaya menjadi akhir yang baik dari pungkasannya, ialah bisa mendapatkan keutamaan dari Allah Swt. yaitu husnul khatimah (akhir yang baik).

      Continue Reading

      Kliwonan

      Hakikat Keselarasan Ikhtiar dan Tawakkal

      Published

      on

      Tawakkal atau pasrah, dalam kitab Jami’ul Ushul al-Auliya’ terbagi menjadi tiga, yaitu tawakkalnya orang awam, tawakkalnya orang khawash dan tawakkalnya orang yang khawashil khawash. Tentu ketiganya memiliki perbedaan.

      Pertama, tingkatan tawakkalnya orang awam itu mengharapkan pertolongan Allah Swt. Berbeda dengan tawakkalnya orang khawash yang senantiasa pasrah kepada Allah Swt. bukan hanya ketika ada keperluan saja. Karena pada hakikatnya penggunaan kalimat tawakkal jika kita tidak paham tauhid serta keyakinan kita sendiri tidak tertata, maka khawatir mendekati kesyirikan.

      Contohnya jika kita mengatakan kalimat, “kalau tidak ikhtiar ya mati” atau “kalau tidak ikhtiar ya tidak makan.”

      Lalu apakah yang memberi makan dan memberi kesembuhan itu karena ikhtiar kita?

      Sejatinya, ikhtiar adalah mentaati perintahnya Allah. Demikian pula, ikhtiar bukanlah Tuhan. Ikhtiar hanyalah untuk menunjukkan kelemahan kita. Bahwa apa yang kita miliki dan yang tidak kita miliki adalah milik Allah Swt.

      Justru dengan adanya ikhtiar, seseorang akan mengatakan bahwa dirinya lemah. Ia juga tidak akan merasa man ana (siapa saya) atau memiliki sikap ananiyah (egois). Dengan adanya ikhtiar juga kita merasa tidak punya apa-apa dan hanya bisa kembali kepada Allah. Bukan sebaliknya, untuk mengi’tiqadkan jika tidak ikhtiar maka akan mati. Ini sesuatu yang tidak pas.

      Selain itu, ikhtiar juga diharapkan dapat menambah ketaatan kita kepada Allah Swt. untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan apa yang ada pada diri. Kita pasrahkan semua yang kita usahakan hanya kepada Allah Swt. Kalau kita sudah pasrah, apa kita bisa sombong?

      Contohnya jika ada orang sakit, kemudian ia berobat ke berbagai tempat namun tak kunjung sembuh, ia akan mengatakan, “kapan saya akan sehat?” Kemudian ia minum berbagai macam obat yang kenyataannya belum tentu bisa menyembuhkan.

      Pentingnya memahami tawakkal adalah ketika ikhtiar seperti itu telah dijalankan. Maka jika sudah demikian, kita hanya bisa kembali kepada Allah. Jika sudah pasrah secara penuh seperti itu, kita akan merasa tawadhu’, merasa lemah.

      Demikianlah, fungsi ikhtiar adalah menambah ketaatan kita kepada Allah. Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhtiar akan muncul keinginan untuk dibimbing oleh Allah Swt. dalam setiap gerak-geriknya dan selebihnya dikembalikan lagi kepada Allah Swt serta tidak akan terlepas untuk meminta taufiq kepada-Nya.

      Continue Reading

      Kliwonan

      Menjalani Proses Menjadi Orang Yang Bertaqwa

      Published

      on

      Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan bahwa ayat ke 2 Surat al Baqarah yang berbunyi,

      ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

      Menjelaskan kedudukan ‘Hudan lil muttaqin’ yang artinya ‘petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa’ ini terbagi menjadi 3 bagian. Tingkatan orang awam berbeda dengan tingkatan orang-orang yang khawash dan tingkatan orang-orang yang khawash tidak sama dengan tingkatan khawas al khawash. Ketiganya itu bukan hal yang terpisah, melainkan tetap bersambung dan saling berkaitan.

      Taqwanya orang awam lebih berorientasi pada pahala yang bisa didapatkan sebanyak mungkin dengan mengerjakan amaliyah-amaliyah yang baik. Adapun taqwanya Orang-orang yang khawash, ia akan meninggalkan ganjaran tetapi selalu menjalankan ibadah agar bertambah makrifat dan dekatnya kepada Allah Swt. Sedangkan bagi orang-orang yang khawash al khawash, seluruh hidupnya hanya ntuk berkhidmah kepada Allah Swt. dan tingkat mahabbah-nya kepada Allah melebihi makhluknya. Mahabbah yang dimiliki oleh orang tersebut kemudian menghasilkan tingginya Ridla.

      Ridla adalah kesadaran bahwa apa yang diberikan Allah kepada kita adalah yang terbaik. Ketika Allah menciptakan bumi dan kita ridla dengan hal tersebut, maka kita tidak akan bermaksiat karena sadar bahwa yang diinjak adalah milik Allah Swt. dan kita hanya meminjam.

      Ksadaran untuk mencapai ridla ini selanjutnya kembali pada individu masing-masing. Ridla berarti juga harus siap dengan segala keputusan Allah. Seberat apapun ujiannya, jika tertutup dengan ridla dan mahabbah, maka hasilnya adalah taqwa dan perasangka yang baik pada Allah Swt.

      Tingkatan taqwa ini kemudian berpengaruh pada doa-doa yang kita baca. Contohnya, ketika kita membaca Surat Yasin selama 40 hari berturut-turut untuk mendapatkan faedah tertentu. Ternyata, setelah 40 hari kita belum mendapatkan apa-apa. Maka yang kurang tajam itu pembacanya, bukan doanya apalagi Allah. Namun jika kita memulai doa dengan andap ashor, rendah diri di hadapan Allah Swt. dengan penuh husnuzon, maka apapun yang dikehendaki Allah justru akan membuat kita semakin dekat dan semakin rindu.

      Imam Syadzili setiap malam ketika tahajud selalu berdoa, “Ya Rabb, kapan aku bisa bertemu.” Bukan untuk mati, tapi kapan bisa melihat Allah, Nadzhar ila Wajhil Karim, karena sudah rindu. Itulah orang-orang yang sudah maqamatil khawash al khawash.

      Untuk mencapai derajat tersebut dan mendapat pembekalan yang baik, yang perlu dilakukan adalah membersihkan hati terlebih dahulu supaya tidak mempunyai ghaflah, yaitu lalai kepada Allah Swt. Kalau kita sudah tidak mempunyai ghaflah, merasa didengar, dilihat oleh Allah Swt. Maka secara otomatis akan dapat mengurangi maksiat. Meskipun tidak secara total tapi setapak demi setapak kita akan sadar, bahwa perbuatan tersebut dapat menyebabkan jauh dari Allah Swt.

      Semakin kita merasa didengar, semakin dilihat oleh Allah ta’ala, maka shifatul haya’ akan muncul, malu rasanya kepada Allah Swt. Kalau sudah tambah malu kepada Allah, khauf (takut) nya muncul lebih tebal, taqwanya semakin kental, ingin selalu mendekat dan rindu kepada Allah Swt. Dan di sinilah kepentingan thariqah-thariqah manapun terutama bagaimana membersihkan hati agar dapat bercahaya karena bersih dari sifat-sifat tercela.

      Continue Reading

      Facebook

      Arsip

      Trending