Connect with us

Berita

Kiai Zakky Mubarak: Memperbaiki Kekhilafan Diri Sendiri

Published

on

Jakarta, JATMAN Online – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr. KH. Zakky Mubarak, MA menjelaskan sudah menjadi tabiat dan naluri, banyak manusia yang terjerembab dalam lupa dan kekhilafan diri. Betapapun banyaknya ilmu yang dimiliki, pengalaman, dan kecerdasan yang tinggi, tidak akan mampu untuk menghilangkan kekhilafan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, kecil atau besar.

“Manusia sebagai makhluk yang lemah, dalam menghadapi kelalaian dan kekhilafan diri, harus senantiasa mengharap rahmat dan ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala atas segala kekurangan dan kesalahannya,” tulis Kiai Zakky diakses JATMAN Online, Senin (04/09/2023) dalam akun facebook Zakky Mubarak Syamrakh..

Dosen Senior Universitas Indonesia ini menyampaikan apabila ada seseorang terjerembab dalam kekhilafan dan kesalahan, kemudian ia tidak mau memohon rahmat dan ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala, maka orang tersebut tergolong orang yang sombong dan congkak.

“Mereka yang tidak memiliki harapan terhadap rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan kasih sayang-Nya, tergolong orang yang ditimpa kerugian dunia dan akhirat. Banyak tokoh-tokoh masa lalu dicontoh al-Qur’an, seperti Fir’aun, Qarun, Haman, Abu Lahab, tergolong orang-orang yang tidak mampu menyadari kesalahan dan kekurangannya, sehingga tidak mau mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala,” jelasnya.

Iblis atau syaitan, lanjut Kiai Zakky, yang awal kejadian dan kelanjutannya disebutkan al-Qur’an, merupakan figur dari makhluk yang angkuh dan sombong. Ia merasa lebih mulia dari Nabi Adam alaihissalam, sehingga ketika Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam, dia menolak perintah itu. Iblis berkata Aku lebih baik dari Adam, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah.

“Dari beberapa kisah tersebut dapat diambil pelajaran, bahwa mereka yang menyombongkan diri dan tidak mau mengharap rahmat dan kasih sayang dari Allah, sungguh telah mencampakkan dirinya sendiri dalam kehinaan duniawi dan ukhrawi,” paparnya.

Kiai Zakky Mubarak mengatakan ada beberapa ciri orang-orang yang tercampakkan dalam kehinaan sebagaimana disebutkan di atas, antara lain:

(1) semakin bertambah ilmunya, semakin menonjol sikap sombong dan congkaknya. Seharusnya, manusia yang ilmunya bertambah, semakin tawadu’ dan rendah hati. Diibaratkan oleh orang-orang tua kita dahulu seperti pohon padi, semakin berisi padinya, semakin merunduk, artinya semakin rendah hati. Sebaliknya apabila padi itu tidak merunduk, dan tegak berdiri ke atas, menunjukkan dia padi yang gabuk atau isinya kosong.

(2) semakin bertambah amalnya, semakin membanggakan diri sendiri dan menganggap dirinya paling mulia. Dengan demikian, ia selalu merendahkan orang lain. Ia selalu berprasangka baik pada dirinya yang disebut positif thingking, sebaliknya berprasangkan buruk pada orang lain yang disebut negatif thingking.

(3) semakin bertambah umurnya, semakin tua, semakin serakah dan tamak terhadap kemewahan dunia. Kehidupan dunia menyilaukan matanya sehingga tidak bisa membedakan lagi mana yang baik dan mana yang buruk.

(4) semakin bertambah hartanya, ia semakin gemar menumpuk harta kekayaannya. Semakin banyak rizkinya, semakin bersikap kikir dan enggan bersedekah. Ia terus menimbun harta kekayannya dan ia mengira bahwa harta dan kekayannya itu akan dapat mengekalkan dirinya, padahal sema sekali tidak demikian. Harta kekayaan memang memiliki manfaat apabila dikelola dengan baik dan harus disadari bahwa dengan harta dan kekayaan itu tidak bisa menyelesaikan semua masalah.

(5) semakin tinggi pangkat dan kedudukannya, semakin bengis dan tidak memiliki belas kasihan pada rakyat kecil dan orang-orang yang terpinggirkan.

(6) apabila bertambah ibadah dan amal shalehnya, selalu dipamerkan kepada orang lain. Hal itu dilakukan agar memperoleh pujian dan dukungan di mana-mana. Manusia jenis ini tidak segan-segan mengorbankan hartanya dalam rangka memperoleh dukungan untuk menggoalkan ambisinya.

Menurut Kiai kelahiran Cirebon, 20 April 1950 ini, setiap orang yang memperoleh petunjuk dan bimbingan agama, akan bersikap semakian santun pada sesama dan bersimpati kepada orang-orang yang miskin dan lemah.

Mereka juga senantiasa mengharapkan rahmat dan kasih sayang dari Allah subhanahu wa ta’ala, karena sesungguhnya tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah, kecuali orang-orang yang kafir.

وَلَا تَاْيۡ‍َٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡ‍َٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ

Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf, 12:87).

“Mengapa orang-orang kafir dan ingkar selalu mengingkari nikmat Allah? Karena mata hati mereka telah tertutup dari kebenaran dan telah dikotori oleh kemilaunya kemewahan dalam kehidupan dunia yang menyesatkan,” ungkapnya.

Berita

Hadiri Ngaji Bulanan Pesma Daarusshohabah, Kiai Nafi Jelaskan Pentingnya Tasawuf

Published

on

Jakarta, JATMAN Online – Khodimut Thariqah Naqsabandiyah KH. Ahmad Nafi menjelaskan setelah tarbiyah syariat, selanjutnya tarbiyah qulub. Ilmu tasawuf, memperbaiki nafsu, membuka hijab. Orang yang sudah bersyariat, berfiqih, bertasawuf maka itulah orang yang sampai pada hakikat.

“Hakikat adalah sempurnanya iman. Yakni, dalam kitab Lathoiful Isyaroh, hidupnya kalbu bersama Allah kapanpun, dimanapun, dengan siapapun. Kita tidak hanya mencegah hawa nafsu saat ibadah, tapi saat dalam pekerjaan,” kata Kiai Nafi saat mengadiri Pengajian Bulanan di Pesantren Mahasiswa Daarusshohabah, Jalan Pemuda Asli II No. 20 RT 03/03, Rawamangun, DKI Jakarta, Kamis (14/09/2023).

Pengasuh PP Raden Rahmat Sunan Ampel Jember ini menyampaikan kalau baik dengan orang yang baik itu wajar. Kalau hati bersih, ketemu orang maksiat atau buruk atau kriminal saja selalu husnuzon.

“Gimana caranya bersih hati? Kita harus tawadlu berhadapan dengan orang maksiat. Itu diterangkan dalam kitab Nasoihul ibad, caranya lihatlah bahwa rahmat Allah mungkin diberikan pada siapapun yang dikehendaki-Nya, sekalipun manusia itu ahli maksiat. Jika dia mendapat hidayah, bisa husnul khatimah. Kita tidak bisa menjamin bisa husnul khotimah,” jelasnya.

“Bencilah pada perilakunya, jangan benci pada orangnya. Ketika kita tidak bisa tawadlu, berarti ada kesombongan dalam hati,” tambahnya.

Menurut Kiai Nafi, cita-cita mulia adalah baik di dunia dan akhirat, tercegah dari neraka, masuk surga tanpa melihat neraka, tanpa hisab. Gimana caranya? Jadilah orang-orang pilihan Allah. Jadilah orang-orang yang shalih (ibadah dan muamalah).

“Ibadah jangan jasmani saja, isi juga dengan ruhaniyah, sambung dengan Nur Nabi, yakni sambunglah dengan orang-orang yang menjadi jalan menuju Allah. Jadilah orang yang bisa menjadi sahabat terbaik bagi semua orang,” ungkapnya.

Continue Reading

Berita

Sebarluaskan Tarekat, JATMAN Jateng dan DIY Gelar Manaqib Kubra

Published

on

Semarang, JATMAN Online – Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabaroh an Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wustho Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewah Yogyakarta (DIY) menggelar Manaqib Kubro di Pondok Pesantren Al-Mukhlisin Nyatnyono, Ungaran, Semarang, Sabtu (9/9/2023).

Manaqib Kubro, Istighosah, Bahtsul Masail, Temu Mursyid, dan Pengajian Akbar murupakan kegiatan rutin keliling 6 bulan sekali di 41 Syu’biyyah yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Manaqib Kubro ini turut dihadiri oleh perwakilan pengurus Idarah Aliyyah, pengurus Idarah Wustho Jateng dan DIY, Pengurus Syu’biyyah, para masyaikh dan habaib, serta TNI – Porli setempat dan tamu undangan lainnya.

Menurut Mudir JATMAN Jateng KH Ahmad Sa’id Lafif, Musyawarah Idaroh Wustho merupakan program JATMAN yang rutin dilakukan satu tahun dua kali.

“Program ini akan berkelanjutan terus menerus merupakan bagian Khidmah kita terhadap Thoriqoh.Musyawarah Idharoh Wustho ini bentuk komunikasi yang baik, sehingga menjalankan JATMAN Jateng berkembang pesat memberikan manfaat bagi masyarakat luas,’’ katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal JATMAN Idaroh Aliyyah KH. Mashudi dalam sambutannya menyampaikan atas nama JATMAN Idaroh Aliyyah mengapresiasi kegiatan pengajian akbar dan manaqib kubro ini

“Sejak pagi sampai sekarang dengan pengajian akbar dan tadi kita mengikuti bersama-sama maulidurrasul, kami yakin bahwa ini adalah arena untuk menjadikan majelis ini majelis yang mubarak. Sepulang dari mejelis ini semuanya diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala,” katanya.

Kiai Mashudi menjelaskan mejelis seperti inilah yang dikemas dan dikawal oleh JATMAN menjadi salah satu ngerem datangnya kiamat.

“Tidak akan terjadi kiamat selagi masih ada orang yang wirid dzikir Allah, Allah, Allah. Itulah garapan dari JATMAN, mengistiqomahkan wirid. Jadi, barangsiapa yang diberikan kekuaran berdzikir maka yang bersangkutan akan diberi tanda-tanda kewalian,” jelasnya.

“Jadi, JATMAN itu bukan hanya diikuti oleh bapak-bapaknya saja tapi ibu-ibunya juga berthoriqoh. Polisi berthoriqoh, tantara berthoriqoh. Mari kita do’akan dengan didampingi TNI-POLRI JATMAN semakin besar. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin,” tambahnya.

Mudah-mudahan majelis ini, lanjutnya, menjadikan kita semakin cinta kepada Rasululah shalallahu ‘alaihi wassalam. Ketika kita berkhidmah kepada Allah maka segala sesuatu akan tunduk kepada kita.

“Itulah sebabnya JATMAN sedang mengembangkan salah satu lajnah, yaitu lajnah Wathonah (Wanita Thoriqoh an Nahdliyyah). Kemudian lajnah MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al Mu’tabah an Nahdliyyah),” paparnya.

“Mudah-mudahan semua program yang sudah direncanakan oleh Idarah Aliyyah berserta Idaroh Wustho, Syu’biyyah, Ghusniyyah, dan Sa’afiyyah Se-Indonesia dimudahakan Allah dan akhirnya JATMAN menjadi jam’iyyah salah satu yang bisa mengamankan Indonesia yang kita cintai ini, menjadi Indonesia semakin hebat dan maju,” ungkapnya.

Continue Reading

Berita

Gus Yaqut Ajak Umat Islam Gelar Shalat Istisqa

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Seiring dengan kemarau panjang yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, yang membuat sejumlah wilayah mengalami kekeringan, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) mengajak umat Islam untuk menggelar Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan.

“Kementerian Agama mengajak umat Islam untuk melaksanakan Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan,” kata Gus Yaqut di Jakarta, Jumat (15/09).

Ia mengatakan sesuai dengan namanya, al-istisqa’, adalah meminta curahan air penghidupan (thalab al-saqaya). Para ulama fikih mendefinisikan Shalat Istisqa sebagai shalat sunah muakkadah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan.

Shalat Istisqa pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW, seperti yang dikisahkan lewat hadis riwayat Abu Hurairah RA.

Menurut Gus Yaqut, Shalat Istisqa menjadi bagian dari ikhtiar batin sekaligus bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

“Memohon agar Allah menurunkan hujan yang lebat merata, mengairi, menyuburkan, bermanfaat tanpa mencelakakan, segera tanpa ditunda. Amin,” ujarnya.

Adapun pelaksanaan Shalat Istisqa sama dengan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Sesudah Takbiratul Ihram, melakukan takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali takbir pada rakaat kedua.

Setelah membaca Surat Al-Fatihah dan lainnya, lalu rukuk, sujud hingga duduk tahiyyat kemudian salam.

Khatib lalu menyampaikan khutbah sama seperti khutbah Idul Fitri dan Idul Adha. Khutbah dianjurkan mengajak umat Islam untuk bertobat, meminta ampun atas segala dosa, serta memperbanyak istighfar dengan harapan Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan makhluk hidup lainnya pada saat kemarau panjang.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending