Connect with us

Opini

KH Mukhlis Hanafi Gaungkan Konsep Green-Sufism untuk Menghadapi Perubahan Iklim

Published

on

KH. Mukhlis Hanafi merupakan satu-satunya narasumber perwakilan Indonesia yang menjadi pembicara di komisi A dalam acara konferensi sufi dunia di Pekalongan. Pada konferensi ini terdapat beberapa panel, dan pada panel keempat yang bertemakan “Peran Tasawuf dalam Membangun Peradaban dan Manusia”, KH Mukhlis Hanafi menjadi pembicara keenam yang menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia.

Sosok alumni Al-Azhar Kairo yang saat ini juga menjadi ketua Lajnah Pentashih al-Quran di Kemenag mengusung tema menarik dalam presentasinya. Tema yang beliau bawakan adalah “Green-Sufism: Metode Sufi dalam Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim”.

Dia mempresentasikan makalahnya dengan full menggunakan bahasa Arab yang fasih dan lugas, tanpa adanya kesalahan maupun kekeliruan. Ini menjadi motivasi tersendiri bagi penulis dan menjadi cermin bahwa putra bangsa pada dasarnya juga mendapat kesempatan yang sama untuk tampil dalam Forum Sufi Internasional.

Menurut pemaparannya, perubahan iklim yang terjadi di berbagai negara ini tentu sudah menjadi problem nasional bahkan internasional. Dan untuk menghadapinya memerlukan banyak peran dari berbagai kalangan. Problem ini sudah tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah yang harus dihadapi oleh pemerintah saja, akan tetapi sudah menjadi masalah yang harus dihadapi oleh semua elemen dalam masyarakat, termasuk para sufi di dalam dunia tasawuf.

Konsep tasawuf pada masa sekarang ini sudah tidak relevan lagi jika dimaknai dengan sebatas berzikir dan wirid saja. Karena zaman semakin berubah dan peradaban pun berkembang. Bahkan problem-problem global tidak bisa dihindarkan, di antaranya adalah perubahan iklim. Memang, pada dasarnya problem perubahan iklim ini bukanlah ranah keahlian para sufi dalam dunia tasawuf. Walau demikian, setidaknya ada satu hal yang menjadi kesamaan dan tidak bisa dihindarkan. Yaitu dampak dari perubahan iklim sendiri yang dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk di dalamnya kalangan sufi. Sebab itulah, sudah menjadi kewajiban bagi para sufi dalam dunia tasawuf untuk ikut andil dalam menghadapi masalah perubahan iklim ini.

Para sufi dituntut untuk merealisasikan kosep ihsan bukan hanya dalam hal ibadah atau sebatas hubungan antara hamba dan Tuhannya saja. Lebih luas lagi, konsep ihsan pada masa sekarang ini sudah harus diterapkan dalam lingkungan. Kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan harus semakin ditingkatkan. Sekarang sudah tidak lagi hanya berfokus pada ruhaniyah atau akhlak sosial sesama manusia saja, akan tetapi juga terhadap lingkungan dan alam dengan menjaga dan melestarikannya. Dengan demikian para sufi dapat ikut andil dalam menghadapi masalah perubahan iklim.

Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa seseorang yang memotong ranting pohon itu dapat dihukumi kafir terhadap nikmat Allah. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang melakukan pencemaran lingkungan lebih dari itu, seperti penebangan hutan, limbah pabrik, polusi udara, dan masih banyak lagi. Harusnya dari kutipan Imam Ghazali tadi, yang merupakan salah satu tokoh yang menjadi rujukan dalam dunia tasawuf. Sudah sangat jelas dan dapat dipahami bahwa kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan adalah termasuk dari tugas para sufi dalam dunia tasawuf.

Ringkasnya, konsep green-sufism ini adalah mengajak kepada para sufi dalam dunia tasawuf khususnya, agar lebih peka terhadap masalah lingkungan. Berperan aktif dalam memberikan pemahaman terhadap para murid maupun masyarakat untuk ikut andil dalam menghadapi masalah perubahan iklim ini. Bahwasanya menjaga lingkungan dan menjaga alam juga merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan.

Opini

Sufisme sebagai Jangkar Perdamaian Internasional

Published

on

Agenda Muktamar Sufi Internasional yang digelar di Pekalongan, pada akhir Agustus 2023 lalu menjadi penanda penting untuk membangun peradaban dan perdamaian dunia, dari jantung spiritualitas Islam. Para ulama sufi berkumpul dari berbagai belahan dunia, untuk bersama-sama membangun konsensus, menguatkan jejaring, saling bersilaturahmi dan memikirkan masalah-masalah mendasar peradaban dunia. Dari diskusi intensif dan halaqah-halaqah yang digelar, menunjukkan betapa kegelisahan para ulama sufi dari berbagai belahan dunia, untuk ikut mencari solusi dari masalah yang terjadi di level internasional.

Agenda ini dibuka oleh Presiden Joko Widodo bersama beberapa menteri dan tokoh publik. Juga, dihadiri ratusan tokoh sufi dari berbagai negara yang hadir pada forum ini. Di antaranya: Syeikh Dr. Muhammad Al-Syuhumi Al-Idrisy (Libya), Syeikh Muhammad Riyadh Bazo (Lebanon), Syeikh Dr. Yusri Jabr, Syeikh Dr. Usama Sayyid Al-Azhari (Mesir), Syeikh Dr. Ibrahim Niyas (Senegal), Syeikh Christoper Sulaiman (Prancis), Syeikh Ahmad Al-Tijani (Ghana) dan beberapa tokoh lain.

Dari forum Muktamar Sufi Internasional tersebut, kita bisa menyimak betapa perhatian besar para ulama waskita dari berbagai negara, untuk terjun langsung membedah masalah-masalah fundamental yang terjadi. Dari perbincangan antar ulama itu, tergambar betapa ulama sufi itu tidak berada di menara gading, tidak menyendiri terpencil berada di majelis dzikirnya. Namun, lebih dari itu, bergerak bersama untuk bersama-sama dengan pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan, mencari solusi strategis atas masalah sosial lintas kawasan.

Kita bisa melihat visi besar Maulana Habib Luthfi bin Yahya, yang sangat menaruh konsern untuk menjadikan sufisme sebagai jangkar perdamaian dan peradaban internasional. Habib Luthfi mengerti betul bagaimana masalah-masalah mendasar yang terjadi di bangsa ini, juga masalah-masalah kronis yang mengakar di berbagai negara. Justru dengan pengetahuan dan pemahaman atas masalah sosial-politik dan kemasyarakatan ini, Maulana Habib Luthfi justru bergerak untuk mengajak para ulama sufi untuk bersama-sama mencari solusi. Ini merupakan gerakan yang panjang, yang membutuhkan energi, fokus dan perhatian besar. Dengan kecintaan terhadap umat, rasa perhatian besar terhadap manusia, Maulana Habib Luthfi mempertemukan banyak sekali pihak dari ulama sufi lintas negara, untuk memberi dampak bagi perubahan sosial masyarakat menuju ke arah yang lebih baik.

Muktamar sufi internasional dipungkasi dengan kesepakatan sembilan rekomendasi. Di antaranya terkait pentingnya pengembangan investasi di bidang pertanian, energi terbarukan, pembangunan berkelanjutan, hingga penyadaran untuk pengurangan polusi. Selain itu, pembentukan pasar ekonomi juga menjadi pembahasan mendasar, terutama koordinasi strategis dengan kamar dagang, sektor industri dan pertanian. Muktamar juga menyepakati agar para ulama sufi berkontribusi pada sektor Pendidikan, dengan memberikan sentuhan keimanan bernafas sufisme. Forum juga mendorong pendirian Universitas al-Ihsan, dengan membentuk tim khusus yang bekerja untuk perwujudan ide besar ini. Selanjutnya, Muktamar juga menyerukan proses perdamaian dengan strategi dialog, untuk mempercepat stabilitas politik di Sudan, Nigeria, Yaman, Libya, Suriah dan beberapa negara lain.

Rekomendasi-rekomendasi yang terpublikasi dari forum Muktamar Sufi Internasional menjadi bukti penting bahwa para ulama punya konsentrasi tinggi untuk menyelesaikan masalah-masalah fundamental di level antar negara. Dengan berjejaring dan terkonsolidasi, kekuatan antar para ulama sufi bersama jutaan pengikut yang tersebar di seluruh dunia, menjadi jangkar kekuatan penting untuk merancang peradaban baru di masa depan yang lebih cerah.

Habib Luthfi menyampaikan bahwa sudah saatnya membincang perbedaan pendapat (khilafiyyah) dalam komunikasi yang lebih tepat. “Sekarang ini untuk membangun ukhuwah islamiyyah (persaudaraan Islam) dan ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air) dalam ekonomi dan pendidikan, yang mampu menjawab tantangan umat dan bangsa,” jelas Habib Luthfi di hadapan peserta muktamar.

Maulana Habib Luthfi juga menegaskan keprihatinan beliau atas kondisi ekonomi dan pertanian saat sekarang ini. Sektor ketahanan pangan di kawasan Indonesia maupun di seluruh dunia, menjadi perhatian sangat penting serta memerlukan solusi nyata. Maka dari itu, penting membangun persaudaraan antar sesama, yang bisa menjadi fondasi perdamaian.

Sufisme dan Transformasi Sosial

Saya selalu mengingat dawuh Maulana Habib Luthfi bin Yahya, tentang bagaimana menyelaraskan tugas sebagai manusia, keseimbangan spiritualitas dan tanggungjawab sosial. Murabbi ruhina Maulana Habib Luthfi, selalu berpesan untuk terus menjaga dzikir dan wirid rutin sebagai tugas spiritual, tapi tetap mengupayakan yang terbaik di bidang sosial sebagai tugas kita sebagai manusia. Khairun naas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat untuk manusia lain. Dengan pedoman ini, maka sufisme tidak berjarak dengan tugas manusia sebagai khalifah fil-adh, tugas mengelola bumi seisinya dengan pengetahuan dan kebijaksanaan menjadi sangat penting.

Saya ingin merefleksikan bahwa hal-hal fundamental yang sudah dibangun oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya, menjadi pondasi penting bagi kita untuk melangkah. Keseimbangan spiritual dan tanggungjawab sosial ini menjadi penting, yang memacu kita untuk terus belajar, berkarya dan memberikan yang terbaik untuk kemanusiaan. Kita juga bekerja di tempat masing-masing dengan niat ibadah, karena semua pekerjaan juga bagian untuk mengabdi, untuk meneruskan khidmah.

Persentuhan saya bersama teman-teman dengan Maulana Habib Luthfi dan para ulama dunia di forum Muktamar Sufi Internasional, seolah menyegarkan jiwa dan membangkitkan semangat untuk berjuang, bekerja dan memberikan khidmah terbaik untuk masyarakat. Peran sosial ini tidak untuk dihindari, tapi diperjuangkan dengan terus belajar, berjejaring dan memberikan yang terbaik, sebagai tanggungjawab untuk menjadi jangkar peradadan (*).

Penulis: Dr. H. M. Hasan Chabibie, Pengasuh pesantren Baitul Hikmah, Depok, Jawa Barat; Ketua Umum Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (MATAN).

Sumber: https://timesindonesia.co.id/kopi-times/467301/sufisme-sebagai-jangkar-perdamaian-internasional

Continue Reading

Opini

Romantisme Presiden Jokowi dan Habib Luthfi dalam Acara Konferensi Sufi Dunia

Published

on

Pekalongan, JATMAN Online – Ada yang menarik pada pembukaan Muktamar Majelis Sufi Internasional di Sahid International Convention Center. Selasa (29/08).

Pada prosesi pembukaan secara resmi, Habib Luthfi yang didampingi oleh Presiden RI, Bapak Ir. Joko Widodo saling bergandengan tangan ketika hendak turun dari panggung.

Melihat pemandangan yang demikian, kita sebagai rakyat Indonesia merasa sejuk dan kagum dengan penghormatan seorang pemimpin negara yang begitu takdzi kepada guru kita semua, Habib Luthfi bin Yahya.

Tentunya hal tersebut bukan hanya sebatas pemandangan biasa. Ada banyak makna dan pesan tersirat di dalamnya. Bahkan salah seorang ulama dari Lebanon, yaitu Syekh Riyadl Bazo ikut menyoroti pemandangan tersebut. Wakil Mufti Lebanon tersebut menyampaikan pada saat presentasi di Komisi A, Hotel Santika, bahwa menggandeng dan menuntunnya Presiden Jokwi kepada Habib Luthfi merupakan simbol keamanan. Hal ini menandakan bahwa pemerintah sangat memperhatikan dan menjaga para ulama dan tokoh agama di negeri ini. Seperti inilah makna hakikat tasawuf yang sesungguhnya, yaitu menciptakan negera yang damai serta sejahtera dengan keikutsertaan semua elemen di dalamnya termasuk peran pemerintah dan peran para ulama.

Syekh Riyadl Bazo kembali menegaskan bahwa makna tasawuf dan tujuan tasawuf dapat kita lihat di dalam sosok Habib Luthfi. Beliau mampu merangkul semua kalangan, mulai dari atas hingga bawah untuk ikut andil dalam menjaga persatuan, kesatuan dan kesejahteraan bangsa. Praktik tasawuf seperti inilah yang perlu dilestarikan dan dipratikkan oleh semua lapisan masyarakat. Dengan demikian, kesejahteraan dan perdamaian akan mudah tercapai.

Continue Reading

Opini

Sebelum Bertarekat, Haruskah Menguatkan Akidah dan Syariat?

Published

on

Di tengah-tengah masyarakat muslim yang berafiliasi ke Ahlussunnah wal Jamaah, seringkali terdengar sebuah statmen yang sebetulnya perlu didiskusikan. Yaitu bahwasanya ilmu tarekat tidak boleh dipelajari oleh mereka yang berusia remaja dan masih duduk di bangku sekolah. Termasuk mereka yang masih muda dan belum lanjut usia, tidak diperkenankan mempelajari tarekat apalagi mendalaminya. Alasannya cukup beragam. Antara lain, akidah dan syariat harus diperkuat terlebih dahulu agar tidak mudah terjerumus dalam kebimbangan spiritual dan ketersesatan. Dikatakan pula bahwa aktivitas sebagai pelajar dan penuntut ilmu akan kerap terbengkalai dengan sebab bertarekat. Aktivitas bekerja dan mencari nafkah pun menjadi terganggu akibat mengamalkan tarekat. Bahkan ada juga yang mengklaim bahwa sakit jiwa alias gila dapat disebabkan oleh virus halus bernama tarekat!. Benarkah demikian?.

Pertama-tama, penulis mengingatkan bahwa upaya menguatkan akidah dan syariat sesungguhnya merupakan suatu kelaziman mutlak bagi setiap muslim dan muslimah, terlepas hendak memasuki tarekat atau tidak. Hanya saja, harus disadari bahwa pilar-pilar agama yang mesti dikokohkan tidak hanya islam (syariat) serta iman (akidah), tapi juga ihsan, yaitu akhlak dan tasawuf atau tarekat. Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur bahkan menambahkan satu pilar lagi, yaitu fiqh at-tahawwulat (fikih tanda-tanda kiamat).

Sayyid Abdullah bin ash-Shiddiq al-Ghumari dalam kitab beliau, Husn at-Talatthuf, menegaskan:

فَمَنْ أَخَلَّ بِمَقَامِ الْإِحْسَانِ الَّذِي هُوَ الطَّرِيقَةُ فَدِينُهُ نَاقِصٌ بِلَا شَكٍّ لِتَرْكِهِ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِهِ. وَلِهَذَا نَصَّ الْمُحَقِّقُونَ عَلَى وُجُوبِ الدُّخُولِ فِي الطَّرِيقَةِ وَسُلُوكِ طَرِيقِ التَّصَوُّفِ وُجُوبًا عَيْنِيًّا، وَاسْتَدَلُّوا عَلَى الْوُجُوبِ بِمَا هُوَ ظَاهِرٌ عَقْلًا وَنَقْلًا.

“Maka barangsiapa mengabaikan tingkatan ihsan, yakni thariqah, tentu saja kurang agamanya, sebab ia telah meninggalkan salah satu pilarnya. Karena itulah para ulama terkemuka memfatwakan bahwa hukum memasuki sebuah thariqah dan menempuh perjalanan tasawuf adalah fardhu ‘ain (wajib atas setiap muslim dan muslimah). Argumen mereka pun sangat jelas, baik secara ‘aqli (berdasarkan logika) maupun naqli (berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah serta tuntunan para sahabat).”

Dalam kitab al-Fuyudhat ar-Rabbaniyyah (sebuah kitab yang mengkodifikasikan keputusan-keputusan kongres, muktamar serta musyawarah besar JATMAN sejak tahun 1957) himpunan KH. Abdul Aziz Masyhuri juga difatwakan sebagai berikut:

فَإِنْ كَانَ الْمُرَادُ بِالدُّخُولِ فِي الطَّرِيقَةِ هُوَ التَّعَلُّمُ بِتَزْكِيَةِ النَّفْسِ عَن الرَّذَائِلِ وَتَحْلِيَتِهَا بِالْمَحَامِدِ فَفَرْضُ عَيْنٍ.

“Apabila (atau oleh karena) tujuan daripada memasuki tarekat adalah menekuni penyucian jiwa dari segala yang tercela dan menghiasinya dengan segala yang terpuji, maka hukumnya adalah fardhu ‘ain (wajib atas setiap muslim dan muslimah).”

Kewajiban bertarekat yang difatwakan para ulama, sebagaimana pernyataan-pernyataan di atas, tidak hanya teruntukkan bagi kalangan lanjut usia ataupun yang telah menamatkan kajian akidah dan fikihnya semata, melainkan wajib atas setiap muslim dan muslimah tanpa terkecuali. Namun dengan catatan, tidak mengabaikan atau menepikan amalan syariat dan tidak pula menyimpang dari prinsip-prinsip akidah. Artinya, mengokohkan ketiga pilar agama dimaksud tidaklah dengan cara dipergilirkan satu demi satu, melainkan dapat ditekuni dan diamalkan secara bersamaan, karena ketiganya sama-sama kewajiban.

Meskipun, saran untuk menguatkan akidah dan syariat terlebih dahulu sebelum mulai bertarekat sebetulnya wajar dan dapat dimaklumi. Faktor yang melatarbelakangi saran tersebut adalah maraknya aliran-aliran kebatinan berkedok tarekat yang menyebar di banyak tempat dengan berbagai penyimpangannya. Sehingga, dengan kuatnya pemahaman terhadap akidah dan syariat, seorang muslim dapat membentengi darinya dari kesalahan dalam memilih tarekat yang hendak diikuti. Dengan modal akidah dan syariat yang kuat, seseorang tentu dapat menyeleksi dengan tepat tarekat mana yang hendak ditempuh dan diamalkan.

Namun persoalannya, tarekat-tarekat mu’tabarah di masa kini, bahkan sedari dulu, sudah terseleksi dan terpurifikasi dengan cukup baik di tangan pihak-pihak berwenang serta lembaga-lembaga terpercaya yang berkapasitas di bidangnya. Di Indonesia, sebut saja Jam’iyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN), Jam’iyah Ahli Thariqah Mu’tabarah Indonesia (JATMI), Dewan Ulama Thariqah Indonesia (DUTI) bahkan juga Majelis Ulama Indonesia (MUI). Alhasil, umat Islam di Indonesia, meskipun akidah dan syariat mereka belum terlihat matang, sebetulnya tidak perlu bingung dalam menelusuri tarekat mu’tabarah yang layak untuk diikuti dan diamalkan.

Di kalangan warga Nahdlatul Wathan (NW) saja, Tarekat Hizib NW gagasan TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid pun diijazahkan kepada siswa-siswi yang berkenan mengamalkannya. Penulis sendiri dahulu pernah menerimanya sewaktu masih SMP. Ketika itu, tidak ada ketentuan yang menekankan kepada penulis untuk menguatkan akidah dan syariat terlebih dahulu. Pasalnya, Tarekat Hizib NW sudah diyakini baik dan benar serta aman untuk diikuti. Dengan mengamalkan Tarekat Hizib NW, akidah dan syariat sudah dijamin tidak akan terkontaminasi.

Demikian pula tarekat-tarekat lain yang sudah dipastikan ke-mu’tabarah-annya, terutama oleh JATMAN, maka sudah tentu aman untuk diikuti, dan akidah maupun syariat pengamalnya dijamin tidak ternodai. Sehingga, menghindari ataupun meninggalkan sebuah tarekat yang jelas-jelas mu’tabarah dengan alasan akidah dan syariat belum kuat, menjadi tidak relevan lagi.

Selain itu, tarekat yang benar-benar lurus dan mu’tabarah justru memperhatikan betul akidah dan syariat para pengikutnya, bahkan turut memfasilitasi mereka untuk menggeluti dan mematangkannya. Demikian pula seorang mursyid sejati tidak akan mungkin mengabaikan atau menelantarkan murid-muridnya dalam urusan pendalaman akidah dan pengamalan syariat. Bahkan, dalam banyak literatur tasawuf dikemukakan bahwasanya melalui tarekat lah seseorang justru dapat menyempurnakan akidah dan syariatnya.

Sebagai salah satu contoh, Thariqah Dusuqiyah Muhammadiah (TDM) yang diimami Maulana Sayyid Mukhtar bin Ali bin Muhammad ad-Dusuqi al-Maliki al-Husaini. Selain disahkan oleh Majelis Sufi Tertinggi Republik Arab Mesir dan diakui mu’tabarah oleh JATMAN, TDM juga senantiasa membuka kajian-kajian intens dalam rangka penguatan akidah dan syariat sesuai manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Dar-dar TDM di Mesir dan di berbagai penjuru dunia pun selalu ramai oleh remaja, pemuda bahkan anak-anak, sebagaimana ramai pula oleh pebisnis, dosen, politisi, dokter, insinyur, seniman dan lain-lain.

Di Indonesia secara khusus, kehadiran Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (MATAN) tentu patut disyukuri dan disambut hangat, karena dapat menjadi pilihan cemerlang bagi kawula muda sebagai wadah untuk menempuh suluk dalam tarekat, tanpa sedikitpun mengesampingkan akidah maupun syariat, dan tanpa mengorbankan tugas-tugas pokok sebagai penuntut ilmu yang sukses dunia-akhirat.

Yang paling utama untuk diluruskan sebetulnya adalah persepsi dan mindset tentang tarekat. Jika tarekat dipahami dengan benar sebagai sebuah wadah untuk membersihkan hati, menguatkan ruhani, memperbaiki akhlak, mencintai dan meneladani para kekasih Allah, memperbanyak zikir dan shalawat serta memperluas wawasan keislaman untuk semakin dekat kepada Allah, maka tidak ada alasan untuk menghalangi siapapun bertarekat, termasuk bahkan terlebih mereka yang masih sekolah ataupun kuliah. Lantas apakah mereka harus mengkhatamkan kajian fikih dan akidah mereka terlebih dahulu, baru mulai berpikir tentang perbaikan akhlak dan penyucian jiwa dari hawa nafsu?. Terkadang tidak disadari bahwa rusaknya perilaku anak-anak muda zaman sekarang, salah satu penyebabnya adalah karena dilarang bertarekat!.

Catatan singkat ini penting untuk dimengerti dengan cermat, karena selain menguatkan pemahaman akidah serta mengkhusyu’kan pengamalan syariat, tarekat juga sesungguhnya merupakan jalan pintas terbaik untuk menjernihkan hati serta memuliakan akhlak. Sementara, etika, perilaku maupun spiritualitas para remaja dan pemuda di negeri kita tentu menjadi perhatian wajib kita bersama. Banyak dari mereka yang terkekang oleh belenggu filsafat. Tidak sedikit pula yang terjerat oleh perangai dan budaya Barat. Pesan penulis, agar mereka selamat dan tidak semakin tersesat, maka jangan halangi mereka bertarekat!.

Penulis merupakan Mudir Awal Idarah Syu’biyah JATMAN Lombok Timur

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending