Connect with us

Berita

Ikhtiar Merawat Tradisi, MATAN Ciputat Bentuk Majelis Istighosah

Published

on

Ciputat, JATMAN Online – Mujahadah dan istighosah merupakan tradisi yang mengakar kuat di kalangan umat Islam, khususnya di kalangan komunitas pengamal tarekat. Amaliah ini sering dijadikan sebagai sarana bertaqarrub kepada Allah Swt sekaligus sebagai media bertawasul di dalam bermunajat kepada Allah Swt.

Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (MATAN) Ciputat, organisasi komunitas pengamal tarekat di kalangan mahasiswa yang berbasis di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan beberapa kampus sekitaran Ciputat menginisiasi pembentukan Majelis Ifadatul Muridin pada Rabu Malam, 25 Mei 2022 di Ciputat. Istighosah dipimpin oleh Ustadz Dr. Atmo Prawiro, M.A. dengan diawali hadiah bacaan fatihah ke para Nabi, wali-wali Allah dan para ulama di seluruh penjuru dunia dan nusantara.

Menurut Ketua MATAN Ciputat Lutfi Maulana, pembentukan majelis ini sebagai Ikhtiar untuk merawat tradisi mujahadah dan istighosah yang menjadi bagian dari warisan amaliah yang sering diamalkan para ulama-ulama nusantara terdahulu. Kagiatan ini diharapkan dapat menjadi kegiatan rutin agar dapat menjadi oase bagi mahasiswa di tengah tantangan kehidupan perkotaan yang cenderung pragmatis dan hedonis.

Dalam pembukaan pembentukan mejalis tersebut, salah satu pembina MATAN Ciputat, Fathuddin Kalimas juga menyebut, salah satu keunggulan yang diwariskan oleh ulama-ulama nusantara pada zaman dahulu adalah kemampuannya mempertautkan kekuatan rasionalitas dan spiritualitas sekaligus sebagai modalitas untuk membangun sebuah peradaban. Kemampuan ini mencerminkan pemahaman yang utuh seorang muslim terhadap esensi dirinya, yakni sebagai manusia yang berdimensi fisik sekaligus ruhani. Sebagai manusia yang dibekali akal sekaligus qalbu. Hal ini juga menjadi pesan kebudayaan yang disampaikan Gus Dur semasa hidupnya. Kendati Gus Dur menjadi manusia yang sangat rasionalis, dengan segudang asupan pengetahuan melalui bacaan-bacaan buku, namun ia juga hobi berdzikir dan berziarah kubur ke makam-makam wali, yang dianggap sebagian kalangan sebagai amaliah yang tidak rasional.

“Salah satu tantangan yang menggejala di kalangan mahasiswa muslim belakangan ini adalah kurangnya kesadaran atas keunggulan epistimologi pengetahuan dalam khazanah Islam, yang sebenarnya lebih unggul jika dibandingkan dengan basis epistimologi Barat. Menurutnya, jika basis epistimologi pengetahuan barat hanya didasarkan dan berakar kuat pada rasionalisme dan empirisme, khazanah Islam justru lebih kaya, yakni disamping berakar kuat pada naqli, aqli (akal) dan waqi’i (empirisme), juga menjadikan keberadaan intuisi/qolbu (burhani dan irfani) sebagai bagian penting dari basis epistimologi pengetahuan. Basis epistimologi ini justru lebih mencerminkan esensi manusia dengan seutuhnya,” ujar Fathuddin

Menurut Fathuddin, kekuatan rasionalisme kendati telah melahirkan kemajuan peradaban Barat, namun fakta juga menunjukan bahwa ternyata kemampuan rasionalitas hanya mampu melakukan eksplorasi 5 % dari isi alam semesta ini. Sebagaimana menurut Prof. Jamse Peebles, hingga saat ini ilmuwan hanya berhasil memahami 5 % dari isi alam semesta, seperti materi yang berbentuk bintang, planet, pohon dan manusia. Sisanya, 95 % masih gelap dan misterius. Bandingkan kehebatan ulama-ulama nusantara terdahulu, misalnya Mbah Dalhar, kendati ia bukan ahli vulkanologi tetapi pernah diminta bantuan oleh Belanda untuk menghentikan erupsi Merapi. Ikhtiar tersebut konon dilakukan Mbah Dalhar dengan membaca kitab bukhori dan hizib bukhori bersama para santrinya. Masih banyak contoh lain yang menggambarkan betapa hebatnya epsitimologi pengetahuan dalam Islam yang tidak saja mampu mengeksplor alam kebendaan (materi) akan tetapi beyond dimensi alam kebendaan juga dapat ditelurusi.

“Dzikir, mujahadah dan istighosah dapat menjadi sarana untuk membersihkan kalbu dan sarana bertaqarrub kepada Allah Swt. Amaliyah ini dapat melengkapi aktifitas akal dengan segudang bacaan bukunya. Jika ikhtiar ini dapat diamalkan oleh mahasiswa secara konsisten dan istiqomah, diharapkan dapat mempersiapkan hati untuk dapat menerima pancaran ilmu dari Allah Swt, sehingga ilmu yang diperolehpun akan menjadi ilmu yang berkah dan kokoh,” Pungkas Fathuddin.

Pewarta: Zulkarnain

Editor: Warto’i

Berita

Hadiri Ngaji Bulanan Pesma Daarusshohabah, Kiai Nafi Jelaskan Pentingnya Tasawuf

Published

on

Jakarta, JATMAN Online – Khodimut Thariqah Naqsabandiyah KH. Ahmad Nafi menjelaskan setelah tarbiyah syariat, selanjutnya tarbiyah qulub. Ilmu tasawuf, memperbaiki nafsu, membuka hijab. Orang yang sudah bersyariat, berfiqih, bertasawuf maka itulah orang yang sampai pada hakikat.

“Hakikat adalah sempurnanya iman. Yakni, dalam kitab Lathoiful Isyaroh, hidupnya kalbu bersama Allah kapanpun, dimanapun, dengan siapapun. Kita tidak hanya mencegah hawa nafsu saat ibadah, tapi saat dalam pekerjaan,” kata Kiai Nafi saat mengadiri Pengajian Bulanan di Pesantren Mahasiswa Daarusshohabah, Jalan Pemuda Asli II No. 20 RT 03/03, Rawamangun, DKI Jakarta, Kamis (14/09/2023).

Pengasuh PP Raden Rahmat Sunan Ampel Jember ini menyampaikan kalau baik dengan orang yang baik itu wajar. Kalau hati bersih, ketemu orang maksiat atau buruk atau kriminal saja selalu husnuzon.

“Gimana caranya bersih hati? Kita harus tawadlu berhadapan dengan orang maksiat. Itu diterangkan dalam kitab Nasoihul ibad, caranya lihatlah bahwa rahmat Allah mungkin diberikan pada siapapun yang dikehendaki-Nya, sekalipun manusia itu ahli maksiat. Jika dia mendapat hidayah, bisa husnul khatimah. Kita tidak bisa menjamin bisa husnul khotimah,” jelasnya.

“Bencilah pada perilakunya, jangan benci pada orangnya. Ketika kita tidak bisa tawadlu, berarti ada kesombongan dalam hati,” tambahnya.

Menurut Kiai Nafi, cita-cita mulia adalah baik di dunia dan akhirat, tercegah dari neraka, masuk surga tanpa melihat neraka, tanpa hisab. Gimana caranya? Jadilah orang-orang pilihan Allah. Jadilah orang-orang yang shalih (ibadah dan muamalah).

“Ibadah jangan jasmani saja, isi juga dengan ruhaniyah, sambung dengan Nur Nabi, yakni sambunglah dengan orang-orang yang menjadi jalan menuju Allah. Jadilah orang yang bisa menjadi sahabat terbaik bagi semua orang,” ungkapnya.

Continue Reading

Berita

Sebarluaskan Tarekat, JATMAN Jateng dan DIY Gelar Manaqib Kubra

Published

on

Semarang, JATMAN Online – Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabaroh an Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wustho Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewah Yogyakarta (DIY) menggelar Manaqib Kubro di Pondok Pesantren Al-Mukhlisin Nyatnyono, Ungaran, Semarang, Sabtu (9/9/2023).

Manaqib Kubro, Istighosah, Bahtsul Masail, Temu Mursyid, dan Pengajian Akbar murupakan kegiatan rutin keliling 6 bulan sekali di 41 Syu’biyyah yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Manaqib Kubro ini turut dihadiri oleh perwakilan pengurus Idarah Aliyyah, pengurus Idarah Wustho Jateng dan DIY, Pengurus Syu’biyyah, para masyaikh dan habaib, serta TNI – Porli setempat dan tamu undangan lainnya.

Menurut Mudir JATMAN Jateng KH Ahmad Sa’id Lafif, Musyawarah Idaroh Wustho merupakan program JATMAN yang rutin dilakukan satu tahun dua kali.

“Program ini akan berkelanjutan terus menerus merupakan bagian Khidmah kita terhadap Thoriqoh.Musyawarah Idharoh Wustho ini bentuk komunikasi yang baik, sehingga menjalankan JATMAN Jateng berkembang pesat memberikan manfaat bagi masyarakat luas,’’ katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal JATMAN Idaroh Aliyyah KH. Mashudi dalam sambutannya menyampaikan atas nama JATMAN Idaroh Aliyyah mengapresiasi kegiatan pengajian akbar dan manaqib kubro ini

“Sejak pagi sampai sekarang dengan pengajian akbar dan tadi kita mengikuti bersama-sama maulidurrasul, kami yakin bahwa ini adalah arena untuk menjadikan majelis ini majelis yang mubarak. Sepulang dari mejelis ini semuanya diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala,” katanya.

Kiai Mashudi menjelaskan mejelis seperti inilah yang dikemas dan dikawal oleh JATMAN menjadi salah satu ngerem datangnya kiamat.

“Tidak akan terjadi kiamat selagi masih ada orang yang wirid dzikir Allah, Allah, Allah. Itulah garapan dari JATMAN, mengistiqomahkan wirid. Jadi, barangsiapa yang diberikan kekuaran berdzikir maka yang bersangkutan akan diberi tanda-tanda kewalian,” jelasnya.

“Jadi, JATMAN itu bukan hanya diikuti oleh bapak-bapaknya saja tapi ibu-ibunya juga berthoriqoh. Polisi berthoriqoh, tantara berthoriqoh. Mari kita do’akan dengan didampingi TNI-POLRI JATMAN semakin besar. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin,” tambahnya.

Mudah-mudahan majelis ini, lanjutnya, menjadikan kita semakin cinta kepada Rasululah shalallahu ‘alaihi wassalam. Ketika kita berkhidmah kepada Allah maka segala sesuatu akan tunduk kepada kita.

“Itulah sebabnya JATMAN sedang mengembangkan salah satu lajnah, yaitu lajnah Wathonah (Wanita Thoriqoh an Nahdliyyah). Kemudian lajnah MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al Mu’tabah an Nahdliyyah),” paparnya.

“Mudah-mudahan semua program yang sudah direncanakan oleh Idarah Aliyyah berserta Idaroh Wustho, Syu’biyyah, Ghusniyyah, dan Sa’afiyyah Se-Indonesia dimudahakan Allah dan akhirnya JATMAN menjadi jam’iyyah salah satu yang bisa mengamankan Indonesia yang kita cintai ini, menjadi Indonesia semakin hebat dan maju,” ungkapnya.

Continue Reading

Berita

Gus Yaqut Ajak Umat Islam Gelar Shalat Istisqa

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Seiring dengan kemarau panjang yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, yang membuat sejumlah wilayah mengalami kekeringan, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) mengajak umat Islam untuk menggelar Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan.

“Kementerian Agama mengajak umat Islam untuk melaksanakan Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan,” kata Gus Yaqut di Jakarta, Jumat (15/09).

Ia mengatakan sesuai dengan namanya, al-istisqa’, adalah meminta curahan air penghidupan (thalab al-saqaya). Para ulama fikih mendefinisikan Shalat Istisqa sebagai shalat sunah muakkadah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan.

Shalat Istisqa pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW, seperti yang dikisahkan lewat hadis riwayat Abu Hurairah RA.

Menurut Gus Yaqut, Shalat Istisqa menjadi bagian dari ikhtiar batin sekaligus bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

“Memohon agar Allah menurunkan hujan yang lebat merata, mengairi, menyuburkan, bermanfaat tanpa mencelakakan, segera tanpa ditunda. Amin,” ujarnya.

Adapun pelaksanaan Shalat Istisqa sama dengan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Sesudah Takbiratul Ihram, melakukan takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali takbir pada rakaat kedua.

Setelah membaca Surat Al-Fatihah dan lainnya, lalu rukuk, sujud hingga duduk tahiyyat kemudian salam.

Khatib lalu menyampaikan khutbah sama seperti khutbah Idul Fitri dan Idul Adha. Khutbah dianjurkan mengajak umat Islam untuk bertobat, meminta ampun atas segala dosa, serta memperbanyak istighfar dengan harapan Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan makhluk hidup lainnya pada saat kemarau panjang.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending