Connect with us

Hikmah

Ihsan adalah Ruh Ibadah

Published

on

Ihsan adalah alur yang harus ditempuh dalam perjalanan menuju Tuhan. Pada posisi ini, murid akan banyak menemui gangguan-gangguan yang dapat menghambat perjalanan tersebut, baik yang datang dari tipuan setan maupun dari akal wahmi.

Dengan bantuan ta’yid ilahi/kekuatan dari Allah Swt, maka kita akan dapat berjalan sehingga sampai kepada tujuan utama yaitu dekat dengan Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an :

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Perbuatan baik tidak akan dibalas kecuali dengan pahala yang baik pula.” (Qs. Ar-Rahman: 60)

Ihsan dalam pembahasan ini menjelaskan antara Ibadah dan mu’amalah yang didasarkan atas musyahadah. Jika tidak demikian, maka kita tidak akan sampai pada apa yang dijanjikan yaitu wushul ilallah, sebagaimana firman Allah Swt,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan (Qs. An-Nisa: 125).

Ia yang sesungguhnya menyaksikan Allah Swt., memelihara hak-hak-Nya, menyerahkan wujudnya bagi Allah Swt. serta mendirikan ta’at kepada-Nya. Maka Allah Swt. akan membalas dengan berbalik memperhatikannya dan memperbaiki urusannya. Allah Swt. juga akan selalu peduli padanya. Sebagaimana firman Allah Swt:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Ingatlah oleh kamu akan Aku, maka Aku akan mengingatmu” (Qs. Al-Baqarah: 152)

Artinya, selama hamba tersebut selalu merasa diawasi Allah Swt., memprioritaskan Allah di atas segala-galanya, maka Dia tidak akan segan untuk senantiasa hadir dalam setiap amalan-amalan yang dilakukan. Sebagaimana firman-Nya dalam hadis qudsi

“Aku duduk dengan orang yang mengingatkan dan dekat dengan orang yang berterima kasih kepadaku dan patuh kepada orang yang patuh kepadaku”

Untuk melatih Ihsan, maka murid perlu memahami tingkatannya sebagai berikut:

1. Ihsan pada Qasad

Qasad secara makna adalah niat. Ihsan pada qasad berarti mengokohkan niat dengan ‘azm yang didasari oleh ilmu dan membersihkannya dengan hal. Untuk itu, kita harus memiliki niat yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt dan diajarkan oleh Rasul-Nya melalui ulama. Mengokohkan niat dengan ‘azm artinya niat tersebut harus bersifat jazm, yaitu agar tidak bergeser kepada niat lainnya. Selain itu, kita juga perlu membersihkan qasad dari riya’, ujub, nifaq, menuntut kemegahan, menuntut imbalan dan ‘illat dengan menghadirkan syuhud agar qasadnya tidak melenceng kepada hal lain.

2. Ihsan Ihwal

Yaitu memelihara ahwal dari segala nafsu dengan menutup diri dari hal-hal yang dapat merusak keyakinan kita terhadap Allah Swt. Dengan demikian, ahwal bisa dibenarkan karena merupakan buah dari amal dan bukan semata-mata hanya sebagai pemberian. Oleh karena itu, kita harus melihat bahwa ahwal itu datang dari Allah Swt. sebagaimana ‘amal yang datangnya juga dari Allah.

Seseorang yang menutup ahwal, sesungguhnya karena ia menghindari diri dari perbuatan riya’ dan ‘ujub, untuk membersihkan diri dari campuran-campuran kebatilan dengan Ilmu Ma’rifat yang dapat diamati melalui wirid-wirid.

Adapun dampak dari wirid-wirid itu akan beragam, misalnya jika setelah dibacakannya wirid-wirid tersebut dapat menyebabkan gembira dan senang melakukan taat, maka ini merupakan warid malaki (bisikan malaikat). Jika bertambah keyakinan, maka ini merupakan warid Ilahi (bisikan Tuhan). Jika setelah melakukan wirid tersebut justru membawa kita kepada sifat-sifat negatif seperti malas, kacau-balau, banyak tidur, maka ini merupakan warid syaitani (bisikan setan). Dan jika wirid tersebut membawa kepada kelezatan dan syahwat-syahwat nafsu duniawi, maka ini merupakan warid nafsani, yang datangnya hampir bersamaan dengan lintasan-lintasan hati. Maka, cara kita untuk mengetahui asal wirid-wirid tersebut adalah dengan meminta bantuan dari mursyid, untuk menghilangkan mubham (keraguan) yang ada pada diri kita

3. Ihsan Waktu

Seorang hamba harus senantiasa bermusyahadah kepada Allah Swt. dan jangan ada kerlingan hati pada selain-Nya. Sebab dengan bermusyahadah, maka akan muncul Tajalli dalam rupa yang beragam dan tidak habis-habis. Namun, kita tidak boleh berhenti hanya pada rupa-rupa tersebut, karena setelah itu, muncullah Tajalli Zat dalam batin kita, sehingga tidak ada yang terlihat di dalamnya kecuali Zat. Maka, akan sampailah kita kepada Cinta Zat, Fana’ selain-Nya dalam Baqa’ dalam Wujud-Nya.

Wallahu A’lam Bisshawwab

Ditulis berdasarkan penjelasan Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy – Pimpinan Pusat Pengkajian Tauhid dan Tasawuf Se Asia Tenggara.

Penulis: Tgk Selamet Ibnu Ahmad (Pembantu MPTT-I Kec. Wih Pesam, Kab. Bener Meriah)
Editor: Khoirum Millatin

Hikmah

Bulan Maulid 1445 H, Habib Umar bin Hafidz Ijazahkan Shalawat Khusus Ibrahimiyah

Published

on

Habib Umar bin Hafidz dikenal sebagai seorang ulama keturunan Ba Alawi yang nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw.

Habib Umar bin Hafidz mengajar tentang tasawuf dan kehidupan spiritual. Ia menghabiskan masa mudanya untuk memperdalam ilmu agama di bawah bimbingan ayahnya dan para ulama terkemuka di Kota Tarim.

Pada bulan Rabiul Awal 1445 H Habib Umar mengijazahkan Shalawat khusus Ibrahimiyah dibaca minimal 3000 kali. Bagi mereka yang banyak membaca akan mendapatkan banyak keutamaan dari Allah Ta’ala.

Adapun teks bacaan Shalawat Khusus Ibrahimiyah 1445 H sebagai berikut :

اللهُمَّ يا خَيرَ الناصرين، نسألكَ بِكَ أن تُصلِّيَ وتُسَلِّمَ على عَبدِكَ وحَبِيبِكَ سيِّدِنا محمدٍ وعلى آلهِ وصحبهِ، صلاةً تنصُرُنا بها بِما نَصرْتَ بهِ المُرسلِين، وتحفظُنا بها بِما حَفِظْتَ بهِ الذِّكرَ، يا قويُّ يا مَتِين.

“Ya Allah, Dzat sebaik-baiknya penolong, kami meminta kepada-Mu semoga shalawat dan dalam tercurahkan kepada hamba-Mu, kekasih-Mu junjungan Nabi Muhammad serta keluarga dan sahabatnya. Shalawat untuk memenangkan kami sebagaimana Engkau telah memenangkan semua urusan-Mu dan dengan itu Engkau akan melindungi kami dengan apa yang telah Engkau pelihara Ingatannya, Wahai Yang Maha Perkasa, Wahai Yang Maha Kokoh.”

Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dilahirkan di Tarim pada Senin, 4 Muharram 1383 H atau 27 Mei 1963 M. Habib Umar resmi mendirikan Darul Musthafa pada Selasa 29 Dzulhijjah 1417 H/6 Mei 1997 M.

Sejak belia, beliau telah mempelajari sejumlah ilmu agama seperti Al-Hadist, Fiqih, Tauhid dan Ushul Fiqih dari lingkungan keluarganya sendiri, terutama dari ayahnya, Muhammad bin Salim yang merupakan seorang Mufti di Tarim.

Keluarganya bermazhab fikih Imam Syafi’i. Mereka termasuk kalangan Ahlussunnah waljama’ah dengan kecenderungan pada Thariqah Bani Alawi (Alawiyah).

Selain dari Ayahnya, pada masa itu ia juga belajar dari tokoh-tokoh lainnya seperti Al-Habib Muhammad bin Alawi bin Shihab al-Din, Al-Habib Ahmad bin Ali Ibn al-Shaykh Abu Bakr, Al-Habib Abdullah bin Shaykh Al-Aidarus, Al-Habib Abdullah bin Hasan Bil-Faqih, Al-Habib Umar bin Alawi al-Kaf, al-Habib Ahmad bin Hasan al-Haddad, dan ulama lain di Tarim.

Penulis: Abdul Mun’im Hasan
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Hikmah

Habib Puang Makka: Pahami Islam Secara Kaffah

Published

on

Dalam al-Quran dijelaskan, masuk Islamlah kamu secara kaffah. Lalu, apa itu kaffah? Ada tiga unsur fundamen dinul haqq, yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Kita perlu mengetahui Islam dengan baik dan benar melalui pendekatan Ilmu Fiqh. Kita perlu mengetahui iman dengan baik dan benar melalui pendekatan Ilmu Kalam dan kita perlu mengetahui ihsan dengan baik dan benar melalui pendekatan Ilmu Tasawuf. Inilah tiga kekuatan yang harus didoktrinkan kepada kita yang mengaku sebagai Ahlussunnah wal Jamaah yang kita nikmati manisnya sekarang.

Halawatul (manisnya) Islam, Halawatul (manisnya) Iman, Halawatul (manisnya) Ihsan itu dapat dirasakannya Islam dengan baik, dapat dinikmatinya Iman dan Ihsan itu dengan baik oleh jiwa kita, dan itulah wilayah thariqah.

Jadi wilayah thariqah itu adalah wilayah rasa. Berbicara rasa kedudukannya qalbu (hati). Kalau wilayah fiqih kedudukannya di akal. Thariqah kedudukannya di hati, dirasakan, bukan dipikirkan. Tetapi dua kekuatan ini, yaitu kekuatan pikiran di satu sisi dan kekuatan qalbu di sisi yang lain, itulah yang dinamakan dengan ibadah.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad saw. bersabda,

ان تعبد الله كانك تراه فان لم تراه فانه يراك

“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah Engkau melihatNya (Allah). Jika pun belum bisa melihatNya, maka yakinlah bahwa Ia (Allah) melihatmu”

Hadis di atas adalah dalil ihsan. Adapun lafaz An Ta’budallah itu bermakna umum. Semua penyembahan kepada Allah, termasuk shalat, puasa, haji, zakat, syahadatain sewaktu tahiyat, dan apapun yang merupakan ibadah mahdhah, kita pasti berhadap-hadapan pada suasana tersebut.

Kekhusyukan hati itu bukan hanya waktu shalat. Sewaktu mengeluarkan zakat, maka khusyukkan hatimu. Sewaktu menunaikan puasa, maka khusyukkan hatimu. Sebab itu adalah satu rangkaian penyembahan. Karena selama ini kita sering salah paham jika yang perlu khusuk itu hanya shalat.

Begitu juga sewaktu melakukan haji, maka khusyukkan hajimu. Bahkan dalam Kitab Haqiqatul Hajj, Syekh Yusuf Maqassari menjelaskan ‘Al-Hajju Arafah’, bukan Al-Hajju fil Arafah. Yang dimaksud Arafah bukan hanya sekedar tempat. Pada hakikatnya haji adalah pertemuan seorang hamba dengan Tuhannya. Untuk bisa bertemu, ia harus wukuf, berhenti dari urusan duniawi. Maka ia baru bisa mengenal Tuhannya dengan baik dan benar. Jadi kekhusyukan sangat dibutuhkan.

Adapun thariqah dan kekhusyukan adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan karena kedudukannya di hati dan perlu diolah dengan baik. Jika ada ahli thariqah yang masih memiliki sifat dengki, hasad, ujub, sombong, sudah pasti itu hanya casingnya saja yang thariqah. Maka dari itu Rasulullah saw. amat menitikberatkan pada innamal a’malu binniat, karena urusan niat adalah urusan hati. Inilah yang perlu diasah oleh para salik, murid, badal, khalifah dan mursyid.

Selain kuat di dalam urusan ikhtiar (urusan otak), orang thariqah juga harus mengasah hati. Sebab itu kita perlu memaksimalkan pikiran kita dengan ikhtiar dan mengoptimalkan hati kita dengan zikir, bermunajah, berdoa kepada Allah Swt. Sehingga ketika kita terbentur pada urusan logika, maka secara otomatis kekuatan logikanya akan pindah ke dalam kekuatan hati. Itulah orang thariqah.

Untuk itu, jangan sampai ilmu hanya keluar dari lisan dan otak saja. Karena yang paling penting adalah bagaimana ilmu keluar dari hati. Jika hanya lisan yang menyampaikan, maka orang lain hanya menerima dengan otaknya saja. Tetapi jika ilmu keluar dari hati dan pikiran, maka orang lain juga akan menerima dengan hatinya, itulah keberkahan.

Banyak ilmu kalau tidak ada berkah kita akan menjadi sombong, banyak harta kalau tidak ada berkah kita akan menjadi angkuh, memiliki tinggi jabatan kalau tidak ada berkah kita akan menjadi zalim pada jabatan kita. Yang kita buru adalah keberkahan dari Allah Swt. yang dudukannya di otak dan hati kita.

Disarikan dari penjelasan Sayyid Abdurrahim Assegaf (Habib Puang Makka)

Continue Reading

Hikmah

Syekh Usama Kisahkan Imam Layts bin Sa’ad: Ulama Sufi Kaya yang Tak Wajib Zakat

Published

on

Syekh Usama Sayyid al-Azhari mengisahakan bagaimana dermawannya Imam Layts bin Sa’ad yang hidup sezaman dengan Imam Malik.

Diriwayatkan oleh Imam Syafi’i bahwasanya Imam Layts bin Sa’ad adalah ulama yang amat faqih dan kepakarannya melebihi Imam Malik. Ia adalah pimpinan ahli fikih, hadis dan banyak disiplin ilmu pada masanya yang banyak menjadi rujukan bagi umat Islam pada saat itu.

Di samping karunia ilmu yang begitu luar biasa, ia juga ulama yang sangat kaya raya. Imam Layts bin Sa’ad memiliki tanah dan sawah yang berlimpah. Sampai-sampai para ulama memperkirakan keuntungan pertahun dari hasil pertaniannya itu sekitar 80.000 dinar emas. Di mana setiap satu dinar setara dengan 4,5 gr emas. Jika dikonversikan ke masa sekarang, bisa jadi hartanya lebih dari 100 juta dollar AS.

Yang menarik, dari harta yang demikian banyak, Imam Layts tidak pernah memiliki kewajiban zakat. Sebab sebelum datang haul, hartanya sudah dikeluarkan semuanya. Karena begitu luar biasa dermawan, sehingga untuk bersedekah ia tidak pernah menunggu haul. Dan itulah yang ia lakukan sampai bertemu dengan Sang Pemilik Kehidupan.

Di samping itu, Imam Layts bin Sa’ad memiliki tiga majelis. Majelis pertama dikhususkan untuk para ulama, ahli fikih, hadis dan tafsir. Majelis kedua dikhususkan untuk para umara. Di mana para umara tersebut tidak akan pernah mengeluarkan satu keputusanpun kecuali setelah mendapat arahan darinya. Sedangkan majelis ketiga dikhususkan untuk orang yang memiliki kebutuhan dan hajat. Sehingga, tidak ada seorangpun yang meminta hajat kepadanya kecuali ia penuhi, termasuk biaya untuk pernikahan, haji, pengobatan dan lain-lain. Imam Layts bin Sa’ad melakukan kedermawanan yang begitu besar.

Pernah pada suatu hari datang seorang perempuan yang mengatakan jika suaminya sakit. Menurut dokter, cara menyembuhkan penyakit suaminya itu dengan memberikannya madu. Kemudian perempuan tersebut menemui Imam Layts bin Sa’ad dengan membawa sebuah lepek. Lalu Imam Layts bin Sa’ad menolak permintaan perempuan itu dengan berkata, “Tidak. Saya tidak akan memberikanmu selepek untuk madu. Tapi ambillah satu drigen madu itu, bukan satu lepek.”

Pada kisah yang lain, setiap kali Imam Layts bin Sa’ad melakukan perjalanan, ia selalu membawa tiga perahu. Perahu pertama khusus untuknya dan keluarganya. Kemudian perahu kedua untuk tamu-tamunya. Sedangkan perahu ketika khusus para koki dan bahan-bahan makanan. Sehingga ketika ia sampai di satu lokasi, para koki itu memasak dan membagikan semua hasil masakannya kepada pendudukan lokasi itu.

Suatu hari Imam Layts bin Sa’ad melakukan ibadah haji dengan ditemani oleh Imam Malik bin Anas. Imam Malik kemudian memberikannya satu piring kurma. Kemudian kurma itu ia tuang dan diganti dengan dinar emas setara piring itu untuk diberikan kepada Imam Malik.

Dari kisah ini, Syekh Usama kemudian menyampaikan,

“Saya ingin menyimpulkan apa yang saya katakan. Inilah keadaan orang Islam. Inilah keadaan sebenarnya ahli tasawuf yang memenuhi dunia dengan pembangunan, memerangi kemiskinan, memerangi kelaparan, memenuhi dunia dengan kekayaan. Dan kita harus seperti itu.”

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending