Connect with us

Tanya Jawab

Habib Luthfi Menjawab – Bagaimana Cara Mengenali Musryid Sejati?

Published

on

Habib Luthfi bin Yahya

Pertanyaan: Salam silaturahim kami haturkan kepada kepada Habib Luthfi bin Yahya beserta keluarga, semoga senantiasa mendapatkan curahan rahmat Allah swt serta dijaga dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Habib Luthfi yang terhormat, di daerah saya ada beberapa orang yang mengaku sebagai mursyid thariqah. Terus terang, saat melihat perilakunya, saya tidak yakin bahwa benarkah ia sebagai mursyid thariqah. Habib, bagaimana cara saya yang notabene orang awam, mengenali seorang mursyid sejati? Apa saja ciri-cirinya?

Kemudian, masih terkait masalah thariqah, lebih utama mana melakukan bai’at secara massal atau sendiri sendiri? Bolehkah kita mengikuti lebih dari satu thariqah? Dan apakah suluk harus diikuti oleh seorang murid thariqah?

Jawaban Habib Luthfi :

Ciri-ciri mursyid, banyak dijelaskan dalam Kitab Jami’ Ushul al Auliya,’ Mafakhirul Aliyah atau kitab-kitab lain yang secara khusus mengkaji masalah thariqah. Intinya, saya akan menjelaskannya secara ringkas. Diantara ciri-ciri kemursyidan seseorang:

Pertama, ia harus mempunyai guru yang sanadnya musalsal (bersambung) sampai kepada Baginda Rasulullah saw, sebagaimana bersambungnya sanad sebuah hadis yang shahih.

Kedua, seorang mursyid, badal (asisten mursyid) atau khalifah (pengganti mursyid), harus mendapatkan izin dan kewenangan dari guru mursyidnya, baik untuk menjadi seorang mursyid baru maupun hanya sebagai badal atau khalifah.

Ketiga, seorang mursyid harus mengetahui hukum-hukum syari’at. Sehingga, apabila dirinya sendiri atau muridnya terpeleset melakukan. hal-hal yang bertentangan dengan syari’at, sang mursyid akan segera menyadari, menghentikan dan memperbaikinya. Kemudian, selain berilmu syari’at, seorang mursyid juga harus memiliki adab dan akhlak yang utama yang berlandaskan nilai-nilai spiritual dan ibadah, serta berusaha keras untuk mengikuti adab Baginda Nabi Muhammad saw.

Sesungguhnya, 3 (tiga) hal tersebut hanyalah sebagian kecil dari ciri paling mendasar seorang mursyid. Masih banyak lagi tanda lainnya yang tidak bisa saya ungkapkan di sini. Tetapi Anda jangan menjadikan keterangan saya ini sebagai dalil untuk menghukumi orang lain yang mengaku sebagai mursyid. Apalagi jika hal itu dilandaskan karena Anda tidak cocok dengan perilaku atau amaliahnya.

Tabayyun atau mencari penjelasan, baik dengan bertanya langsung maupun melalui orang lain yang lebih mengerti, itu lebih baik. Gunakan ilmu thariqah sebagai pertimbangan. Namun apabila Anda sendiri merasa belum mempunyai bekal keilmuan yang cukup untuk menimbang-nimbang kemursyidan seseorang, lebih baik Anda menyibukkan diri dengan mengaji ilmu kethariqahan dulu. Ini lebih utama daripada Anda sibuk menyelidiki tanpa bekal sehingga akhirnya terjebak dalam kesesatan dan fitnah.

Kemudian mengenai bai’at thariqah, baik yang dilakukan secara sendiri-sendiri maupun secara massal, sebenarnya sama saja. Keduanya diperbolehkan dan ada contohnya. Bai’at massal, misalnya, mengambil contoh saat Bai’atur Ridhwan di zaman Rasulullah saw. Asalkan dibimbing oleh seorang guru mursyid, dua model bai’at itu bisa menjadi pintu gerbang Anda mengikuti thariqah.

Jika sudah mengikuti salah satu thariqah, sebaiknya Anda menekuni thariqah yang satu itu dengan baik, agar hasilnya maksimal Kurang baik apabila Anda melompat-lompat dari satu thariqah ke thariqah lain atau satu thariqah belum dilaksanakan secara maksimal lalu merangkap dengan thariqah lain.

Hubungan guru dan murid dalam thariqah itu sangat berpengaruh. Bisa diibaratkan pengukir dan kayu ukirannya. Jika sebuah karya ukir baru setengah jalan lalu diserahkan kepada pengukir lain, meski sudah ada gambar polanya, tentu hasilnya kurang sempurna. Apalagi jika saat pola dipahat bersamaan oleh dua atau lebih pengukir. Tekuni satu thariqah, biarkan guru mursyid untuk membantu membersihkan dan ‘memoles’ hati muridnya sampai benar-benar tuntas, bersih dan mengkilap.

Sumber: Umat Bertanya Habib Luthfi Menjawab

Tanya Jawab

Apakah Seorang Salik itu Boleh Mendawamkan Zikir Di Luar Zikir Thariqahnya?

Published

on

Pertanyaan:

Apakah Seorang Salik itu Boleh Mendawamkan Zikir Di Luar Zikir Thariqahnya?

Jawaban:

Utamakan amalkan apa yang diamalkan oleh mursyidmu. Sebab dalam amalan itu ada energinya meskipun hanya bismillah. Jangan lewatYouTube, atau di Google. Memang baik, tapi di dalamnya tidak ada energi yang dialirkan oleh mursyidmu. Itulah fungsinya baiat, kalimat ‘ajaztukum’. Karena di sana ada energi.

Jangankan pada wilayah tersebut, kita menikah saja perlu ada energi ilahiyah berupa akad, apalagi wilayah tauhid semacam amalan. Sehingga jangan jadi gampangan menerima wirid dari siapapun.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al Insyiqaq ayat 6,

يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras, sekuat-kuat kerja, menuju Rab(Tuhan)mu, maka kamu akan menemui-Nya (menemui Allah).”

Namun, banyak tanjakkan-tanjakkan berbahaya menuju Tuhanmu, sehingga kamu perlu dibimbing oleh seorang mursyid yang kamil.

Selanjutnya banyak salik yang kerap membanding-bandingkan amalan. Jangan lakukan itu antara mursyidmu dengan orang lain. Jangan jadi orang yang latah karena seorang mursyid memberi amalan dari hatinya yang terdapat energi di dalamnya. Adapun energi tidak tergantung pada bentuk fisik dan tampilan mursyidmu.

Maka berlakulah adab yang baik dengan mursyid kita masing-masing. Jangan asal minta amalan dari orang lain. Hal ini yang perlu kita pegang betul sebagai murid, salik. Ada adab pada thariqah, yaitu murid dilarang membanding-bandingkan posisi mursyidnya dengan orang lain.

Adapun jika kamu mendapatkan amalan dari seorang alim, kiai dan lain-lain, alangkah indahnya jika kamu menyampaikan hal itu dengan mursyidmu. Jika mursyidmu katakan ‘amalkan’, maka amalkanlah. Tapi jika ada koreksi, maka ikutilah pendapat mursyidmu supaya sambung energinya. Sebab beliau sudah men-charge energi kemursyidan yang ia dapatkan dari gurunya hingga sampai pada Rasulullah saw.

Oleh Sayyid Abdurrahim Assegaf (Puang Makka) – Rais Awwal Idarah Aliyah JATMAN dan Mursyid Thariqah Khalwatiyah Syekh Yusuf Makassari

Continue Reading

Tanya Jawab

Apakah Ismu Ruh yang Pernah Disampaikan oleh Salah Satu Ulama Thariqah Benar Adanya?

Published

on

Pertanyaan:

Apakah Ismu Ruh yang pernah disampaikan oleh salah satu ulama thariqah benar adanya?

Jawaban:

Puang Makka menjawab bahwasanya 50 tahun yang lalu, beliau pernah bertanya kepada mursyidnya. Syekh Sayyid Jamaluddin (Puang Rama) dengan pertanyaan yang sama.

Kemudian sang mursyid menjawab bahwa soal Ismu Ruh itu ada, tapi tidak ada yang paten mengetahuinya, sebab itu hal ghaib. Sehingga, jangan dipatenkan. Kita tidak memiliki kekuatan untuk mematenkan bahwa ini salah atau benar. Berbeda halnya jika menyebut nama yang bisa disaksikan, seperti kulit, tulang, daging dan lain-lain.

Maka wilayah ruh tergantung bagaimana yang ia dapatkan dari Allah Swt. Jika memang ia mendapat satu nama, maka ‘bismillah’ saja bahwa hal tersebut benar adanya, namun tidak perlu complain orang lain. Sayyidina Khidir saja memiliki banyak nama dari Allah.

Jadi katakanlah, “mungkin saya belum baca kitabnya”. Jangan menyalahkan orang lain. Karena ini wilayah yang sangat halus. Supaya tidak mendatangkan kesombongan pada dirimu, maka hati-hati untuk menjaga hatimu.

Oleh Sayyid Abdurrahim Assegaf (Puang Makka) – Rais Awwal Idarah Aliyah JATMAN dan Mursyid Thariqah Khalwatiyah Syekh Yusuf Makassari

Continue Reading

Tanya Jawab

Perbedaan Hizib dan Ratib Menurut Habib Luthfi bin Yahya

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Maulana Habib Luthfi bin Yahya mendapatkan pertanyaan dari salah seorang muhibbinnya tentang Ratib dan Hizib. Pertanyaaanya sebagai berikut: “Habib Luthfi yang saya hormati. Saya ingin bertanya seputar hizib. Apa sebenarnya hizib itu? Mengapa ada yang disebut hizib keras dan ada yang lembut? Apa bedanya dengan Ratib? Apa fadhilah mengamalkan hizib? Mengapa untuk mengamalkannya diperlukan ijazah?”

Jawaban Habib Luthfi, dikutip dari akun facebook Ala NU, Minggu (04/06), Pil obat atau kapsul tentu tidak mempunyai dosis yang sama. Demikian juga dosis obat antibiotik dan vitamin. Jika yang satu bisa diminum sehari tiga kali, yang lain mungkin hanya boleh diminum satu kali dalam sehari. Bahkan vitamin, yang jelas-jelas berguna, pun jika diminum melebihi dosis yang ditentukan dokter; efeknya akan berakibat buruk bagi tubuh. Badan bisa meriang atau bahkan keracunan. Begitu pula halnya dengan hizib dan ratib.

Hizib dan ratib, dilihat dari susunannya, sebenarnya sama. Yakni, sama-sama kumpulan ayat, dzikir dan do’a yang dipilih dan disusun oleh ulama salafush shalih yang termasyhur sebagai waliyullah (Kekasih Allah).

Yang membedakan suatu ratib dengan ratib lain, atau hizib dan hizib lain, adalah asrar yang terkandung dalam setiap rangkaian ayat, doa atau kutipan hadits, yang disesuaikan dengan waqi’iyyah (latar belakang penyusunan)-nya.

Namun, meski muncul pada waqi’ yang sama dan oleh penyusun yang sama, ratib sejak awal dirancang oleh para auliya untuk konsumsi umum, meski tetap mustajab. Semua orang bisa mengamalkan untuk memperkuat benteng dirinya, bahkan tanpa perlu ijazah. Meski tentu jika dengan ijazah lebih afdhal.

Sementara hizib, sejak awal dirancang untuk kalangan tertentu yang oleh sang wali (penyusunnya tersebut) dianggap memiliki kemampuan lebih, karena itu mengandung dosis yang sangat tinggi. Hizib juga biasanya mengandung banyak sirr (rahasia) yang tidak mudah dipahami oleh orang awam, seperti kutipan ayat yang isinya terkadang seperti tidak terkait dengan rangkaian do’a sebelumnya, padahal yang terkait adalah asbabun nuzul-nya (sebab turunnya).

Hizib juga biasanya mengandung lebih banyak Ismul A’dzham (nama Allah yang agung), yang tidak ada dalam ratib. Dan yang pasti, hizib tidak disusun berdasarkan keinginan sang ulama, karena hizib rata – rata merupakan ilham dari Allah SWT ; Ada juga yang mendapatkannya langsung dari Rasulullah SAW seperti Hizbul Bahr, yang disusun oleh Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili Rokhimahulloh. Karena itulah, hizib mempunyai fadhilah dan khasiat yang luar biasa.

Selain itu, ada juga syarat usia yang cukup bagi pengamal hizib. Sebab orang yang sudah mengamalkan hizib biasanya tidak lepas dari ujian. Ada yang hatinya mudah panas, sehingga cepat marah. Ada yang, karena Allah SWT, menampakkan salah satu hizibnya dalam bentuk kehebatan, lalu si pengamalnya kehilangan kontrol terhadap hatinya dan menjadi sombong. Ada juga yang berpengaruh ke rezeki, yang selalu terasa panas sehingga sering menguap tanpa bekas, dan sebagainya.

Karena itu pula, diperlukan ijazah dari seorang ulama yang benar-benar mumpuni, dalam arti mempunyai sanad ijazah hizib tersebut yang bersambung dan mengerti dosis hizib. Selain itu juga diperlukan guru yang shalih yang mengerti ilmu hati untuk mendampingi dan ikut membantu si pengamal dalam menata hati dan menghindari efek negatif hizib.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending